Wednesday, 6 February 2013

Sekilas tentang Kelainan Unik yang Disebut "Synesthesia"



Pernahkah terbayangkan oleh kamu, kira-kira gimana ya warna dari nada A atau C atau Cminor. atau mungkin warna dari klakson mobil, warna dari tuts piano yang di tekan. selama ini yang kita tahu suara hanya bisa di dengar, tapi tahukah kamu bahwa ada suatu kelainan yang di sebut Synesthesia.


Synesthesia bukan hanya melihat warna dari suara, tapi banyak lagi. berikut adalah beberapa ulasan yang telah saya kumpulkan dari berbagai sumber.


Synesthesia (also spelled syn├Žsthesia or synaesthesia, plural synesthesiae orsynaesthesiae), from the ancient Greek ??? (syn), "together," and ???????? (aisth?sis), "sensation," is a neurologically based condition in which stimulation of one sensory or cognitive pathway leads to automatic, involuntary experiences in a second sensory or cognitive pathway. People who report such experiences are known as synesthetes.


jika seseorang mengatakan, minuman anggur rasanya persegi, angka lima kenyal seperti permen karet, hari Senin warnanya biru, atau nada-nada musik terlihat terbang di dalam ruangan. Paling-paling kita mengatakan, orang tsb pengkhayal, pecandu ganja atau obat bius LSD atau bahkan orang yang tidak waras. Padahal, menurut penelitian para psikolog atau psikiater, satu dari setiap dua ribu orang, mengalami campuran persepsi semacam itu.


Orang-orang yang dapat melihat warna hari tertentu, atau merasakan keras atau lembeknya angka tertentu, digolongkan mengidap kelainan Sinesthesia. Sebetulnya fenomena kejiwaan ini sudah ditulis secara ilmiah sejak 300 tahun lalu. Ditulis, pada abad ke 17 ada seorang tuna netra yang menyatakan mampu mendengar penyakit cacar air, yakni seperti bunyi terompet. Akan tetapi, hingga akhir abad ke 19, tidak ada penelitian sistematis mengenai sinesthesia. Baru pada tahun 1883 ilmuwan Inggris, Francis Galton, melakukan penelitian dengan membandingkan persepsi para sinesthetiker yakni pengidap sinesthesia.


Galton menarik kesimpulan, bentuk sinesthesia paling umum, adalah fenomena mendengar warna. Memang kedengarannya amat janggal, warna dapat didengar. Hasil penelitian Galton cukup lama terlupakan dari khasanah ilmu pengetahuan. Akan tetapi di akhir tahun 70-an, sinesthesia ibaratnya ditemukan kembali oleh Dr, Richard Cytowic, pakar ilmu saraf dan peneliti otak terkemuka, pendiri rumah sakit Capitol Neurology di AS.


Kasus sinesthesia pertamanya ditemukan secara tidak sengaja, pada tahun 1979. Ketika makan malam dengan seorang temannya, ia mendengar komentar, rasa ayamnya kurang banyak titiknya.Sebagai seorang dokter ahli saraf, Cytowic langsung bereaksi, dengan menanyai lebih jauh temannya tersebut. Dengan malu-malu, temannya mengakui, ia memiliki persepsi bentuk pada rasa makanan. Misalnya saja, ayam yang enak rasanya bentuknya terdiri dari banyak titik. Temannya juga mengeluh, banyak yang menyangka ia gila atau kecanduan narkoba, karena persepsinya yang tidak lazim itu. Ketika ditanyai lebih lanjut, temannya mengatakan ia merasakan persepsi bentuk dari rasa dimanapun ia makan. Ternyata kelainan itu sudah diidapnya sejak lahir. Temannya juga mengeluh, tidak ada satupun dokter menganggap fenomena itu sebagai penyakit. Dr.Cytowic langsung teringat pada penelitian Galton mengenai gejala sinethesia. Ketika temannya diberitahu, bahwa ia tidak sendirian, karena cukup banyak yang mengidap kelainan tsb, barulah temannya merasa lega.


Cytowic mengatakan, ada orang yang memiliki persepsi angka lima kenyal seperti karet, atau musik karya Beethoven rasanya asin, atau masakan yang enak bentuknya persegi dan rangkaian kesan lainnya, yang bagi orang normal terdengar aneh.


Wanita mayoritas penderita


Penelitian lebih lanjut menunjukan, sekitar 90 persen penderita kelainan persepsi sinesthesia adalah wanita. Para peneliti juga menduga, sinethesia adalah penyakit keturunan, akibat kelainan pada kromosom X. Itulah sebabnya, mayoritas penderitanya adalah wanita. Selain itu, kebanyakan wanita pengidap sinesthesia tergolong cerdas dan kidal.


Pengidap sinethesia tidak sakit jiwa, hanya saja memiliki kelainan, berupa tercampurnya persepsi pancaindera. Para sinesthetiker ibaratnya menangkap persepsi lingkungan lebih luas ketimbang orang normal. Kesan yang ditumbilkan dfari pencerapan informasi, diolah dalam spektrum kemungkinan yang lebih lebar. Mereka hidup dalam dunia yang lebih beraneka warna ketimbang orang normal. Tidak adanya sebagian pemisah persepsi pancaindera itulah, yang diduga memunculkan gambaran ganjil tsb. Persepsi pancaindera menjadi bercampur aduk, sehingga muncul gambaran, kue yang enak itu rasanya segiempat, atau angka lima itu empuk dan musik rock warnanya merah. Untuk mengerti lebih jauh fenomena sinethesia tsb, bagian psikologi dan psikiatri sekolah tinggi kedokteran di Hannover Jerman, melakukan penelitian terhadap sekitar 40 pengidap sinesthesia.


Mula-mula gelombang otaknya direkam dan dibandingkan dengan manusia normal. Dari situ saja sudah terlihat, kurva gelombang otak pengidap sinesthesia berbeda sangat signifikan dengan kurva gelombang otak manusia normal. Penelitian yang dipimpin prof.Hinderk Emrich itu, juga menanyai responden penelitian menyangkut pengalaman mereka. Para sinesthetiker secara konsisten menunjukan persepsi yang tetap. Jika seorang penderita sinesthesia menggambarkan hari Senin dengan warna biru misalnya, bagi mereka setiap hari Senin warnanya biru. Warna ini tidak muncul di depan matanya, akan tetapi terpatri di dalam pancainderanya. Prof.Emrich mengharapkan, fenomena ini dapat menjadi kunci, bagi pengertian mekanisme yang bertanggung jawab atas kesatuan pancaindera manusia.



Tuesday, 5 February 2013

Terlalu Banyak Konsumi Kuning Telur Sama Bahayanya Dengan Kebiasaan Merokok !


Jakarta, Kandungan kolesterol dalam kuning telur bisa membahayakan jantung karena memicu pembentukan kerak atau plak kolesterol. Meski begitu, bahaya kuning telur bagi jantung cuma dua pertiga dari bahaya racun yang terkandung di asap rokok.

Sebuah penelitian di Kanada membuktikan bahwa rokok dan kuning telur sama-sama meningkatkan risiko Atherosclerosis atau disebut juga penyakit arteri koroner. Penyakit ini merupakan salah satu pemicu serangan jantung dan stroke yang mematikan.

Terlalu banyak mengonsumsi kuning telur sama bahayanya dengan kebiasaan rokok, meski dikatakan risiko mengonsumsi kuning telur hanya sekitar dua pertiga dari risiko saat merokok. Meski begitu, penelitian ini menegaskan bahwa keduanya sama-sama harus dibatasi.

Penelitian yang melibatkan 1.200 pasien di London Health Sciences Centre's University Hospital ini mengamati kebiasaan merokok dan mengonsumsi kuning telur. Terbukti, keduanya bisa memicu pembentukan kerak atau plak kolesterol di pembuluh darah.

Plak yang terbentuk di dinding dalam pembuluh darah arteri itu bisa runtuh sewaktu-waktu dan memicu dampak yang sangat fatal. Pecahan dari plak yang terbawa ke sistem peredaran darah bisa menyumbat aliran darah ke jantung maupun otak sehingga memicu stroke atau serangan jantung.

"Yang kami temukan adalah seiring bertambahnya usia, plak terbentuk secara bertahap. Kuning telur mempercepat proses ini, sekitar dua pertiga kali dibanding kebiasaan merokok," kata Dr David Spence yang memimpin penelitian itu seperti dikutip dari Sciencedaily.

Risiko atherosclerosis umumnya meningkat setelah usia 40 tahun ke atas. Dalam penelitian ini, konsumsi 3 butir telur tiap pekan bagi orang Kanada bisa membuat risikonya meningkat secara signifikan dibanding yang mengonsumsinya 2 butir atau kurang dalam sepekan.