Saturday, 23 July 2011

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur


Memang ini kedengarannya sepele.Tapi jangan anggap enteng soal ini, pasalnya nabi senantiasa wudhu sebelu tidur.berwudhu,disamping bernilai ibadah juga bermanfaat besar bagi kesehatan .

peneliti dari Universitas Alexsandria ,dr musthafa syahatah ,yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas THT, menyebutkan bahwa jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit dibanding orang yang tidak berwudhu.

Dengan ber-istisnaq (menghirup air dalam hidung) misalnya kita dapat mencegah timbulnya penyakit dalam hidung. Dengan mencuci kedua tangan ,kita dapat menjaga kebersihan tangan. Kita juga bisa menjaga kebersihan kulit wajah bila kita rajin berwudhu. Selain itu,kita juga bisa menjaga kebersihan daun telinga dan telapak kaki kita, artinya dengan sering berwudhu kita dapat menjaga kesehatan tubuh kita. 

Lalu ,bagaimana jika berwudhu dilakukan sebelum tidur ? Nah,para pakar kesehatan di dunia senantiasa menganjurkan agar kita mencuci kaki mulut dan muka sebelum tidur. Bahkan ,sejumlah pakar kecantikan memproduki alat kecantikan agar dapat menjaga kesehatan kulit muka.

Di samping itu tentunya anjuran untuk berwudhu juga mengandung nilai ibadah yang tinggi. Sebab ketika seseorang dalam keadaan suci. Jika seseorang berada dalam keadaan suci,berarti ai dekat dengan Allah. Karena Allah akan dekat dan cinta kepada orang-orang yang berada dalam keadaan suci.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu') maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap 'Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci'". (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)


Hal ini juga ditulis dalam kitab tanqih al-Qand al-Hatsis karangan syekh muhamad bin umar an-nawawi al-mantany. Dari umar bin harits bahwa nabi bersabda :”barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu ,maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi allah.
Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.


Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa berwudhu sebelu tidur merupakan anjuran nabi yang harus dikerjakan bila seseorang ingin memperoleh kemuliaan disisi Allah.

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

  • Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.

  • Kedua, mencerahkan kulit wajah. Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.

  • Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.

Fenomena Meninggal Dunia Saat Tidur Dalam Sunnah

Jauh-jauh hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah memberikan bimbingan dalam tidur agar tidak menimbulkan bahaya, di antaranya tidur sambil miring ke kanan, tidak tidur sambil tengkurap.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, Pernah suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati seseorang yang tidur tengkurap di atas perutnya, lalu beliau menendangnya dengan kakinya seraya bersabda,

"Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang tidak disukai Allah Azza Wa Jalla." (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Sesungguhnya sebab kematian itu bermacam-macam, namun kematian tetaplah satu. Selain Sleep Apnea masih ada sebab lainnya yang menjadi media datangnya kematian. Karenanya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan tips terbaik bagi umatnya dalam menghadapi kematian yang datangnya tak terduga ini.

Disebutkan dalam Shahihain, dari sabahat al-Bara' bin Azib radliyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya;

"Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat." (HR. Bukahri dan Muslim).

Dalam menjelaskan faidah dari perintah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini, Al-Hafidz Ibnul Hajar menyebutkan hikmahnya, di antaranya yaitu: Agar dia tidur pada malam itu dalam keadaan suci supaya ketika kematian menjemputnya dia dalam keadaan yang sempurna. Dari sini diambil kesimpulan dianjurkannya untuk bersiap diri untuk menghadapi kematian dengan menjaga kebersihan (kesucian) hati karena kesucian hati jauh lebih penting daripada kesucian badan.

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan tiga hikmah berwudlu sebelum tidur (yang maksudnya tidur dalam keadaan suci). Salah satunya adalah khawatir kalau dia meninggal pada malam tersebut.

Abdul Razak mengeluarkan sebuah atsar dari Mujahid dengan sanad yang kuat, Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata,

"Janganlah engkau tidur kecuali dalam kondisi berwudlu (suci), karena arwah akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat dia dicabut."

Source : Kaskus



Tuesday, 19 July 2011

Pandangan Masyarakat Jahiliyah Terhadap Jin


Secara umum masyarakat jahiliyah mempercayai adanya makhluk yangbernama jin, yang mereka yakini sebagai makhluk yang memiliki kekuatan tersembunyi. Menurut kepercayaan mereka, jin mampu mengakibatkan gangguan, di samping dapat juga memberi manfaat. Karena itu, Alquran mengungkapkan, "Sebagian mereka menyembah jin." (Saba': 41), bahkan dalam surah Ash-Shafaat ayat 158 ditegaskan bahwa, "Mereka mengadakan hubungan nasab antara Allah dan antara jin," dan bahwa orang-orang musyrik "menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakan jin-jin itu." (Al-An'am: 100).
Dari sini pula tidak jarang sebagian mereka meminta bantuan jin dan perlindungannya sebagaimana tercantum dalam surah Al-Jin ayat 6. Tetapi, seperti bunyi ayat selanjutnya, "... jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan/kesulitan."
Kepercayaan masarakat jahiliyah tentang kemampuan jin memberi gangguan mengantar mereka menyembelih binatang sebagai sesaji kepada jin pada saat mereka menghuni rumah baru, atau menggali sumur, dan sebagainya. Sementara, suku masyarakat jahiliyah mengadakan perjanjian kerja sama dalam bidang pertahanan dengan jin, bahkan konon terjalin hubungan perkawinan antara mereka.
Keyakinan masyarakat jahiliyah menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada makhluk halus masih bertahan dalam benak sebagian umat Islam hingga kini. Pakar hadis Badruddin al-Adin al-Sybli dalam bukunya Akaam al-Marjaan mengemukakan riwayat bahwa Ibnu al-Qayyim mengatakan kepadanya bahwa imam kelompok mazhab Hanafi di Mekah menceritakan kepadanya bahwa ketika ia menyaksikan sendiri penggalian sumur di Mekah, tiba-tiba salah seorang penggali sumur itu kesurupan dan terdengar darinya suara yang berkata, "Wahai kaum muslimin, tidak halal bagi kalian menganiaya kami.
Maka sang imam berkata, 'Apakah penganiayaan kami atas kalian?' Dia menjawab, 'Kami penghuni wilayah ini. Tidak seorang muslim pun kecuali saya; yang lain kini telah terbelenggu. Kalau kalian melanjutkan penggalian, pasti kalian akan mendapat gangguan dari mereka. Aku diutus untuk menyampaikan bahwa kalian tidak akan dibiarkan lewat, kecuali kalau membayar hak kami.' 'Apakah hak kalian?' tanya sang imam. 'Kalian mengambil seekor kerbau dan menghiasinya dengan hiasan sebaik-baiknya, kemudian mengantarnya kemari dan menyembelihnya, lalu kalian meningalkan kaki, tangan, dan kepalanya di sumur Abdussamad. Adapun selebihnya maka itu urusan kalian. Setelah semua itu dilakukan, maka penggali yang kesurupan tadi sembuh.
Ibnu al-Qayyim yang dikutip oleh Al-Sybli di atas selanjutnya berkata, "Ini sama dengan adat mereka sebelum Islam, menghiasi wanita cantik kemudian melemparnya ke Sungai Nil agar Sungan Nil melimpah. Tetapi, kebiasaan ini terhenti melalui Umar Ibnu al-Khattab. Sebenarnya kejadian seperti di atas tidak perlu terjadi jika ada orang semacam umar, burung kecil pun tidak perlu disembelih apalagi yang lebih besar."
Kejadian seperti yang diceritakan di atas tidak berbeda dengan kejadian-kejadian yang sering kita dengar dari para penduduk pedesaan di tanah air kita. Banyak kejadian-kejadian yang aneh terhadap suatu kegiatan-kegiatan penting masyarakat, seperti membangun rumah, membuat sumur, menebang pohon besar, pindahan rumah, acara hajatan, dan kegiatan-kegitan penting lainnya. Kejadian yang aneh itu seperti misalnya, seorang yang sedang mengadakan hajatan mengalami kesurupan dan kemudian mengatakan agar membuat ini, itu untuk disimpan di suatu tempat (sesajen).
Ada juga yang melalui mimpi, yaitu orang yang sedang hajatan itu bermimpi untuk membuat sesajen, dll. Kejadian-kejadian seperti itu tidak kita pungkiri bahwa hal itu memang terjadi secara nyata. Itulah sebabnya di berbagai tempat di tanah air, warga masyarakatnya sulit untuk melepas kepercayaan ini. Yang paling terkenal dari kepercayaan ini adalah seperti yang diadakan oleh pihak keraton, baik di Yogyakarta maupun di Surakarta. Setiap waktu tertentu mereka mengadakan acara sesajenan, dan sebagiannya ada yang dilemparkan ke laut, yaitu "Laut Kidul". Mereka mengharapkan berkah dan keselamatan dari diadakannya acara tersebut.
Ada juga beberapa desa di tanah Jawa yang setiap tahunnya harus mengadakan acara yang disebut "sedekah bumi". Acara ini diadakan, menurut kepercayaan mereka, agar warga desa setempat mendapat berkah dan tidak ada gangguan di dalam bercocok tanam. Dengan diadakannya acara-acara semacam itu, akhirnya memang mereka tidak mengalami gangguan.
Apabila kejadian-kejadian tersebut di atas kita pahami dengan saksama, tentu kita akan membenarkan apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT, "Sebagian mereka menyembah jin," "... menjadikan jin itu sekutu bagi Allah." Kejadian-kejadian seperti tersebut di atas adalah salah satu dari berbagai bentuk perbuatan jin terhadap umat manusia. Karena, tidak semua jin itu beriman kepada Allah, tetapi sebagian besar dari mereka adalah golongan yang musyrik dan kafir.
Bagi yang memegang erat kepercayaan tersebut di atas beranggapan bahwa mereka tetap percaya kepada Allah, bukan menyembah bangsa lelembut, tetapi ketakutan mereka jika tidak mengadakan acara-acara tersebut tidak dapat dipungkiri sebagai suatu jawaban yang menyanggah pendapat mereka. Dengan demikian, sesungguhnya mereka lebih takut kepada apa yang ada di depan mata mereka dari pada takut kepada ancaman Allah kelak di akhirat, yang hal ini masih bersifat kabar, yang bagi mereka belum bisa meyakinkan dengan yakin. Inilah permasalahan mendasar yang sesungguhnya para ulama dituntut untuk mampu mencari jalan keluar, sebagaimana yang telah dilakukan Umar bin Khattab r.a. di atas. Ulama dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan-permasalahan seperti di atas, tidak hanya berkutat pada masalah fikih dan khilafiyah.
Di samping itu, sangat populer pula di kalangan masyarakat jahiliyah kerja sama antara para penyair manusia dengan para penyair jin. Menurut kepercayaan mereka, syair-syair indah merupakan hasil kerja sama itu. Adanya kepercayaan itulah agaknya yang menjadikan Alquran menegaskan keunggulan dengan menantang manusia dan jin untuk membuat semacam Alquran.
"Katakanlah (hai Muhammad) seandainya menusia dan jin berkumpul untuk membuat semacam Alquran ini, mereka tidak akan mampu membuatnya walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain." (Al-Isra': 88).

Saturday, 16 July 2011

Aneka Bentuk Jin


Dalam pandangan ulama, jin memiliki kemampuan membentuk dirinya dalam berbagai bentuk. Memang dari Alquran tidak ditemukan penjelasan tentang hal ini, tetapi banyak riwayat yang menginformasikannya. 


Allah SWT berfirman (yang artinya), "(Ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Al-Anfal: 30). 


Pakar tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ketika pemuka-pemuka suku di Mekah berunding untuk menghadapi Nabi saw., Iblis tampil dalam bentuk seorang tua terhormat dari suku Najed dan memberikan mereka saran agar memilih dari setiap suku, seorang pemuda, kemudian pemuda-pemuda pilihan itu secara bersamaan membunuh Muhammad. Dengan demikian, suku Nabi Muhammad saw. (Quraisy) tidak bisa membalas, karena bila menuntut, mereka akan menghadapi banyak suku. 


Ibnu Katsir mengemukakan juga riwayat yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas r.a. bahwa dalam Perang Badar, Iblis tampil dalam gabungan tentara setan dalam bentuk seorang yang mereka kenal bernama Suraqah bin Malik bin Ju'syum yang ditakuti oleh suku Quraisy, karena ada dendam antarmereka. 


Suraqah berkata kepada kaum musyrikin, "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini dan aku adalah pembela kamu."
 
Tetapi, ketika perang berkecamuk, Rasulullah saw. mengambil segumpal tanah dan melemparkannya ke muka orang-orang musyrik, sehingga mereka kacau-balau. Ketika itu juga Malaikat Jibril menuju ke arah Iblis yang berpenampilan seperti Suraqah. Ketika ia, yang memegang tangan salah seorang musyrik, melihat Malaikat Jibril, makhluk terkutuk itu melepaskan tangan yang dipegangnya dan meninggalkan medan pertempuran bersama kelompoknya. 


Orang yang dipegang tangannya tadi berkata, "Wahai Suraqah, bukankah engkau berjanji membela kami?" 


Iblis menjawab, "Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihatnya; sesungguhnya saya takut kepada Allah."
 
Inilah menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan firman Allah dalam Alquran surah Al-Anfal: 48, "Dan, ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.' Maka, tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri dari kamu; sesungguhnya saya melihat apa yang kamu sekalian tidak lihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.' Dan, Allah sangat keras siksa-Nya."


Sebelum ini telah dikemukakan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari bahwa Abu Hurairah menangkap jin yang berbentuk manusia ketika ia mencari kurma sedekah. Rasulullah saw. juga menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa, "Semalam tiba-tiba muncul di hadapanku jin ifrit untuk membatalkan salatku, maka Allah menganugerahkan aku kemampuan menangkapnya dan aku bermaksud mengikatnya pada salah satu tiang masjid, hingga kalian semua di pagi hari dapat melihatnya. Tetapi, aku mengingat ucapan (permohonan) saudaraku (Nabi) Sulaiman, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku'," (38: 35). Berkata perawi hadis ini, "Maka, Nabi mengusirnya (tidak mengikatnya) dalam keadaan hina dan terkutuk." 


Imam Bukhari juga menyebutkan sekian riwayat menyangkut perubahan bentuk jin, antara lain dalam bentuk ular. 


Ibnu Taimiyah menulis dalam kumpulan fatwanya bahwa jin dapat mengambil bentuk manusia atau binatang, seperti ular, kalajengking, sapi, kambing, kuda, dll. 


Sahabat Nabi Ibnu Umar menyampaikan perintah Nabi untuk membunuh ular yang ditemukan di rumah. Demikian diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Di tempat lain termaktub juga riwayat bahwa Nabi saw. melarang membunuh ular yang ditemukan di rumah tanpa peringatan, karena penghuni rumah dari jenis jin sering mengambil bentuk ular-ular kecil. Bukhari dan Muslim meriwayatkan juga bahwa Nabi saw. bersbda, Ibnu Umar membunuh semua ular sampai sahabat Nabi saw. Abu Lubabah menyampaikan kepada kami bahwa Rasulullah saw. melarang membunuh ular-ular yang ditemukan di rumah (sebelum memberinya peringatan), dan sejak itu ia (Ibnu Umar) tidak lagi membunuhnya." 


Imam Muslim menjelaskan, peringatan yang dimaksud tersebut adalah dengan ucapan, "Aku mengimbau kalian, demi janji yang telah diambil dari kalian oleh Nabi Sulaiman putra Daud, agar kalian tidak mengganggu kami dan tidak pula menampakkan diri kepada kami."
 
Hal serupa diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunannya melalui Abi Laila, bahwa nsa ketika ditanya tentang ular-ular kecil yang ditemukan di rumah, maka beliau bersabda, "Kalau kalian menemukannya di rumah kalian, maka ucapkanlah, 'Ansyudu kunna bil ahed allazy akhaza 'alaikunna Nuh, …. Ansyudu kunna bil ahed allazy akhaza 'alaikunna Sulaiman bin Daud an laa tu'zuuna!' (Aku mengimbau demi janji yang telah diambil dari kalian oleh Nabi Nuh, aku mengimbau demi janji yang telah diambil dari kalian oleh Sulaiman, agar kalian tidak mengganggu kami dan bila ia kembali lagi, maka bunuhlah)."
 
Jin atau setan--katanya--jika mampu berbentuk manusia secara sempurna, maka ini dapat menjadikan kita meragukan setiap orang yang kita lihat. Apakah dia manusia yang kita kenal atau setan. Jin atau setan dapat menyerupai manusia secara sempurna, tetapi menyerupai Rasulullah saw. tidaklah bisa. Karena, Rasulullah saw. telah bersabda, "Siapa yang melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku (dalam mimpinya), karena setan tidak dapat menyerupakan dirinya dengan aku." (HR Bukhari melalui Anas bin Malik).


Sumber :
  • Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan & Malaikat dalam Al-Qur'an-As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, M. Quraish Shihab
  • Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Apakah Jin Dapat Dilihat Manusia?


Allah SWT berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27).
Ayat ini dipahami oleh sekian banyak ulama sebagai dalil ketidakmungkinannya manusia melihat jin. Imam Syafii menegaskan, bahwa berdasrkan ayat di atas, manusia tidak mungkin melihat jin. “Siapa yang mengaku dapat melihat jin, maka kami tolak kesaksiannya, kecuali nabi.” (Maksud ucapan ini adalah yang mengaku melihat jin dalam bentuk yang aslinya. Adapun yang mengaku melihat jin setelah berubah bentuk dengan aneka bentuk makhluk, maka kesaksiannya dapat diterima).
Sebagian yang lain mengakui bahwa jin dapat dilihat oleh manusia jika jin berubah dengan bentuk makhluk yang dapat dilihat oleh manusia. Pendapat ini didukung oleh riwayat-riwayat yang menginformasikan bahwa para sahabat Nabi saw., tabi’in, dan banyak ulama pernah melihat makhluk-makhluk halus, tetapi dalam bentuk manusia atau binatang.
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab sahihnya bahwa sahabat-sahabat Nabi saw. pernah melihat Malaikat Jibril ketika ia datang dalambentuk manusia. Umar bin Khattab menuturkan bahwa suatu ketika datang seorang yang tidak dikenal, berpakaian sangat putih, rambut teratur rapi, tidak nampak dari penampilannya tanda-tanda bahwa ia datang dari perjalanan jauh. Orang itu bertanya kepada Nabi saw. tentang Islam, iman, dan ihsan. Setiap Nabi saw. menjawab, dia membenarkannya. Dia juga bertanya tentang kiamat dan tanda-tandanya. Umar r.a. dan juga sahabat-sahabat Nabi saw. yang mendengarnya terheran-heran. Bagaimana seorang yang berpenampilan rapi, berpakaian bersih, yang berarti bahwa yang bersngkutan tidak datang dari tempat jauh atau dengan kata lain ia adalah penduduk setempat tetapi tidak mereka kenal? Mereka juga terheran-heran mengapa setiap pertanyaannya yang dijawab oleh Nabi saw., selalu yang bertanya itu sendiri yang membenarkannya. Ketika percakapan Nabi saw. dan pendatang itu selesai, Nabi saw. bertanya kepada para sahabatnya, ”Tahukah kalian, siapa yang datang tadi?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Nabi saw. menjelaskan, ”Itulah Jibril datang mengajar kalian agama kalian.” Mendengar penjelasan Nabi saw. itu, Umar r.a. bergegas keluar hendak melihatnya, tetapi ia telah menghilang.
Nah, jika demikian, malaikat dapat dilihat, tetapi bukan dalam bentuk aslinya. Ia dapat dilihat apabila mengambil bentuk yang memungkinkan untuk dilihat manusia.

Demikian halnya dengan jin, ia dapat dilihat bukan dalam bentuk aslinya, tetapi bila ia mengambil bentuk yang sesuai dengan potensi penglihatan manusia. Riwayat-riwayat tentang hal ini sangat banyak. Bahkan, tidak hanya ulama, orang-orang biasa yang tidak ahli agama pun banyak yang mengalami melihat jin dalam bentuk makhluk (manusia atau lainnya). Dan, di antara mereka ada yang sengaja dengan sunguh-sungguh ingin melihat jin, mereka mengamalkan amalan dari orang-orang yang dianggap ahli dalam hal itu, dan mereka ada yang berhasil mendapatinya bahwa jin dapat dilihat dalam bentuk makhluk.
Selain itu, ada beberapa hadis Nabi saw. yang menginformasikan bahwa ada binatang yang dapat melihat jin. Dalam sahih Bukhari dan Muslim, sahabat Nabi Abu Hurairah menyampaikan bahwa Nabi saw. bersabda, ”Kalau kalian mendengar suara ayam jantan berkokok, maka mohonlah kepada Allah anugerah-Nya, karena ketika itu dia melihat malaikat, dan jika kalian mendengar teriakan keledai, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan setan, karena ketika itu dia melihat setan.”
Sumber :
  • Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan & Malaikat dalam Al-Qur'an-As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, M. Quraish Shihab
  • Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Awal Penciptaan Jin


Kita manusia bertanya-tanya, sebenarnya lebih dahulu mana antara makhluk jin dan manusia itu diciptakan? Untuk memperoleh keterangan dari pertanyaan tersebut, mari kita simak berbagai informasi sebagai berikut.
Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al-Hijr: 27).
Abu Hidzaifah Ishaq bin Basyar mengatakan dalam kitab Al-Mabda' bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata, "Jin diciptakan dua ribu tahun sebelum penciptaan Adam."
Juwaibir memberikan kabar dari Adh-Dhahhak dari Ibn Abbas bahwa ia mengatakan, "Jin merupakan penghuni bumi, sementara malaikat adalah penghuni langit; merekalah yang meramaikan langit. Di setiap langit terdapat malaikat. Setiap penghuni langit selalu melakukan salat, bertasbih (menyucikan Tuhan), dan selalu berdoa. Penghuni langit yang lebih tinggi memiliki ibadah, doa salat, dan tasbih yang lebih banyak dibandingkan penghuni langit di bawahnya. Jadi, malaikat itu adalah penghuni langit, sementara jin adalah penghuni bumi."
Ishaq juga mendapatkan berita dari Abu Ra'uf yang mendapatkannya dari Ikrimah yang mendapatkannya dari Ibnu Abbas, "Ketika Allah menciptakan bapaknya jin, Samum, yang dijadikannya dari nyala api, Ia berkata, 'Hai jin, mintalah yang kamu inginkan!' Jin menjawab, 'Kami berharap agar kami dapat melihat manusia, tetapi kami tidak terlihat oleh mereka, agar kami menghilang di bawah tanah, dan kami tidak mati dalam keadaan tua renta, melainkan muda dulu'." Artinya, bangsa jin bisa melihat tetapi tidak terlihat oleh manusia. Jika mati, mereka menghilang di dalam tanah, dan tidak mati sampai kembali muda.
Ishaq mengatakan, "Telah mengabarkan kepada saya Juwaibir dan Utsman dengan isnad mereka berdua bahwa Allah menciptakan jin dan memerintahkan mereka untuk menghuni bumi. Mereka menyembah Allah sampai batas waktu yang cukup lama, kemudian mereka mulai berbuat maksiat kepada Allah dan suka melakukan pertumpahan darah. Dalam lingkungan mereka dikenal seorang raja bernama Yusuf yang kemudian dibunuh oleh mereka. Lalu, Allah mengutus tentara dari malaikat yang berada di langit kedua. Dikatakan pula bahwa dalam kalangan jin terdapat iblis, berjumlah empat ribu makhluk jin, kemudian mereka turun dan membawa anak-anak jin dari bumi, mereka menjadi kuat dan mengikuti pemuka-pemukanya di pulau-pulau laut. Iblis dan tentara yang bersamanya tinggal di bumi. Karena mereka banyak, pekerjaan yang dilakukan menjadi mudah dan mereka pun senang tinggal di sana."
As-Suyuthi di dalam Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan menyebutkan bahwa Muqatil dan Juwaibir memberitahukan dari Adh-Dhahhak, dari Ibn Abbas, ia mengatakan, "Ketika Allah hendak menciptakan Adam, Ia berkata kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi ini.' Kemudian, malaikat bertanya, 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah'." Ibn Abbas berkata, "Para malaikat tidak mengetahui sesuatu yang gaib. Mereka menganggap perbuatan anak Adam seperti perbuatan para jin. Sehingga, mereka mengatakan apakah Tuhan akan menjadikan makhluk yang suka merusak seperti bangsa jin membuat kerusakan dan suka menumpahkan darah, sebagaimana bangsa jin menumpahkan darah, seperti perbuatan yang mereka lakukan dengan membunuh nabi mereka yang bernama Yusuf."
As-Suyuthi mengomentari riwayat-riwayat di atas bahwa sanad-sanadnya rusak. Abu Hudzaifah seorang yang suka berbuat kebohongan, Juwaibir diabaikan perkataannya, sedangkan Adh-Dhahhak tidak mendengarkan secara langsung dari Ibn Abbas.
Tetapi, Al-Hakim meriwayatkan di dalam kitab Al-Mustadrak dan menganggap sahih sebuah riwayat dari Ibn Abbas, yang ia mengatakan, "Allah berkata, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini.' Mereka (para malaikat) bertanya, 'Apakah Engkau akan menjadikan makhluk yang suka membuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah?' Dua ribu tahun sebelum itu telah diciptakan jin; mereka membuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah. Lalu, Allah mengutus tentara dari kelompok malaikat. Para tentara itu memukul para jin, sehingga mereka terdampar di kepulauan laut. Karena itu, ketika Allah berkata kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini,' mereka berkata, 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,' sebagaimana yang telah diperbuat oleh para jin."
Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, dan Abu asy-Syekh (dalam kitan Al-'Azhamah) meriwayatkan dari Abu al-'Aliyah, "Allah SWT menciptakan malaikat pada hari Rabu, menciptakan jin pada hari Kamis, dan menciptakan Adam pada hari Jumat. Kemudian, satu kaum dari jin ingkar dan kafir, sehingga malaikat turun ke bumi lalu memerangi mereka. Jadi, pertumpahan darah dan kerusakan berlangsung. Karena itu malaikat berkata, 'Mengapa Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah'."
Dalam kitab Al-'Azhamah, Abu asy-Syekh berkata, "Saya mendapatkan berita dari Ahmad bin Muhammad al-Mashahafi, dari al-Bara, dari Abdul Mun'im bin Idris, dari bapaknya, ia berkata, 'Wahab menyebutkan dari Ibn Abbas, ia mengatakan, 'Allah menciptakan surga sebelum neraka, menciptakan rahmatnya sebelum kemarahan-Nya, menciptakan langit sebelum bumi, menciptakan matahari dan bulan sebelum bintang-bintang, menciptakan siang sebelum malam, menciptakan laut sebelum daratan, menciptakan daratan dan bumi sebelum gunung-gunung, menciptakan malaikat sebelum para jin, menciptakan jin sebelum manusia, dan menciptakan jenis laki-laki sebelum jenis perempuan'."
Sumber :
  • Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan & Malaikat dalam Al-Qur'an-As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, M. Quraish Shihab
  • Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia