Showing posts with label Misteri Ruh. Show all posts
Showing posts with label Misteri Ruh. Show all posts

Tuesday, 28 June 2011

Mayit Tersiksa Karena Ratapan Orang Yang Meratapinya


Imam Bukhari dan Muslim meneluarkan riwayat dari Aisyah r.ha., sesungguhnya telah dikatakan kepadanya bahwa Ibnu Umar twlah meriwayatkan dari Nabi saw., “Sesungguhnya mayit itu disiksa karena tangisan orang yang hidup.” Aisyah r.ah., berkata, “Abu Abdurrahman telah bingung. Sesungguhnya beliau mengatakan, ‘keluarga mayit menangisinya dan sesungguhnya ida disiksa karena dosanya’.”
Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Yusuf bin Malik, ia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar menghadiri jenazah Rafi’ bin Khadij, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya mayit itu disiksa karena orang yang hidup menangisinya.’ Maka Ibnu Abbas berkata, ‘Sesungguhnya mayit itu tidak disiksa karena tangisan orang yang hidup.’ Namun sungguh ada ada hadits yang mengatakan, ‘Mayit itu disiksa karena tangisan orang yang hidup’.”
Abu Ya’la mgneluarkan riwayat dari Abu Bakar r.a., “Kepada mayit dipercikkan air panas karena tangisan orang yang hidup.” Umar bin Khattab juga meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Abdullah bin Rawahah telah pingsan. Lalu seseorang telah meratapinya. Kemudian Nabi saw masuk dan dia telah sadarkan diri. Dia berkata. ‘Wahai Rasululllah saw, aku tadi telah pingsan, lalu seorang wanita telah meratapiku sembari berkata, ‘Duhai alangkah sedihnya, alangkah takutnya!’ Maka malaikat mendatangiku dengan gada ditangannya, seraya berkata, ‘Apakah kamu seperti yang ia katakan itu?’ Aku menjawab, ‘Tidak’. Jika aku menjawab ‘Iya’, tentu dia akan memukulku’.” Al-hakim meriwayatkan dari Nu’man, ia berkata, “Abdullah bin Rawahah telah pingsan dan berkata, ‘Wahai saudaraku, wahai yang begini, wahai yang begitu.’ Berulang kali ia meratapinya. Ketika sadar, ia berkata, “Tidaklah kamu mengatakan sesuatu, kecuali dikatakan kepadaku; kamu demikian itu’?”.

Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Al Ath-Thahthawi.Misteri Ruh, Mimpi, dan Orang-orang yang Hidup Setelah Mati.Citra Risalah.Jakarta Selatan: 2008.

Monday, 27 June 2011

Beberapa Tanda Menjelang Ajal Menjemput



Kapan ajal kita akan tiba, kita tidak akan pernah tahu secara Pasti. Dan itu adalah Hak Prerogatif Allah SWT.

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).
Surah : Yunus Ayat :49

Walau begitu, Allah SWT telah memberi tanda-tanda pada umatnya sebelum ajal itu datang menjemput.

Berikut tanda-tandanya :

Tanda 100 hari sebelum Ajal

Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka yang dikehendainya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini cuma sama ada mereka sadar atau tidak saja. Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu Asar. Seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan menggigil. Contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lezat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik bahwa mungkin ini adalah tanda mati maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesedaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa manfaat. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan usuran yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

Tanda 40 hari sebelum hari Ajal

Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bagian pusat akan berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di atas Arasy Allah SWT. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mula membuat persediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mula mengikuti kita sepanjang masa. Akan terjadi malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun malaikat maut ini wajahnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah yang akan dicabutnya.

Tanda 7 Hari Sebelum Ajal

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-tiba dia berselera untuk makan.

Tanda 3 Hari Sebelum Ajal

Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri, Jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang hendak memandikan kita nanti. Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bagian sisi. Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

Tanda 1 Hari Sebelum Ajal

Akan berlaku sesudah Asar dimana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di kawasan ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

Tanda Akhir

Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di bagian pusat dan akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.

Tuesday, 21 June 2011

Sepuluh Kesulitan Yang Akan Dihadapi Manusia


  1. Kematian dan ketika menjelang kematian.
  2. Ketika dimandikan, dikafani, dan diusung.
  3. Ketika memasuki kubur dan apa saja yang ada di dalamnya.
  4. Menghadapi pertanyaan Mungkar dan Nakir.
  5. Ketika bangkit dari kubur lalu berkumpul di padang Mahsyar.
  6. Ketika berkumpul di padang Mahsyar untuk dihisab.
  7. Berdiri di depan Mizan untuk ditimbang amal-amalnya.
  8. Pembagian buku catatan amal, adakalanya diterima dengan tangan kanan dan adakalanya diterima dengan tangan kiri.
  9. Ketika melewati titian shirat yang berada di atas neraka jahannam.
  10. Neraka serta bentuk siksaan di dalamnya.

Itulah sepuluh kesulitan yang akan dihadapi manusia, jadi persiapkan sedini mungkin agar sepuluh kesulitan tersebut tidak menimpa kita di akhir kelak dan semoga kita tidak mengalami kesusahan dalam menghadapinya, amiiiiinn ;)

Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Al Ath-Thahthawi.Misteri Ruh, Mimpi, dan Orang-orang yang Hidup Setelah Mati.Citra Risalah.Jakarta Selatan: 2008.

Misteri Ruh: Hakikat Ruh


Apa sih ruh itu? Dimanakah ia sebelum masuk ke jasad? Dimanakah ia setelah keluar dari jasad? Apakah ia bergentayangan di alam kita ini? Apa benar ruh bisa di panggil dan dihadirkan? 

Ruh adalah suatu kekuatan yang menumbuhkan kehidupan di alam ini, baik pada tumbuh-tumbuhan, binatang, maupun manusia. Namun ia lebih dominan pada sesuatu yang memiliki kepekaan dan dapat bergerak, mempunyai akal dan dapat berfikir, yaitu binatang dan manusia. Memang tidak ada nash yang rinci untuk mengungkap hakikat ruh dan menta’rifkannya. Agama tidak membahas mengenai ruh secara rinci, sehingga pembahasan manusia mengenainya mungkin benar atau salah. para peneliti sendiri berbeda pendapat mengenai ruh, baik dari kalangan orang-orang terdahulu maupun orang-orang sekarang, sehingga membuahkan bayak pendapat serta pengertian. 

Imam Al-Alusi menyebutkan ada seribu pendapat di kalangan para peneliti mengenai ruh. Menurutnya ada dua pendapat yang paling kuat, lalu dia menyebutkan yang terkuat diantaranya. Yaitu, sesungguhnya ruh itu merupakan jisim nurani yang tinggi dan hidup, berlawanan dengan jisim yang dapat diraba. Ruh itu berjalan pada jisim, tidak dapat diurai, dan tidak dapat dibagi. Ia meniupkan kehdiupan dalam jisim selama jisim itu layak menerimanya. Ibnul-Qayyim sangat setuju dengan pendapat ini karena sesui dengan al-kitab, sunnah, dan ijma’ para sahabat. Bahkan ia juga sesui dengan dalil aqli. Meskipun demikian, pendapat ini masih elum bisa mengungkapkan secara jelas tentang hakikat ruh. Ia hanya menyebutkan ciri-cirinya scara khusus, dan belum bisa menjelaskan hakikat yang sebenarnya. 

Sebelum ruh masuk ke dalam jasad, para ulama berbeda pendapat mengenai keadaannya. Mereka juga berselisih apakah ruh itu qadim atau hadits dan berada di mana ia sebelum masuk ke dalam jasad. Kemudian kelompok yang berpendapat bahwa ruh itu hadits, berselisih mengenai waktu hadits (baru)nya, yakni hadits sebelum jasad atau sesudah jasad. Sedangkan kebanyakan nash hanya menyebutkan bahwa ruh itu ditiupkan ke dalam jasad setelah ia diciptakan, sehingga dari tiupan ruh itu ke dalam jasad akan menimbulkan sebuah kehidupan. Selanjutnya ruh itu akan mennggalkan jasad. Maka para ulama berbeda pendapat, dimanakah ruh itu setelah ia meninggalkan jasad? Yang disebutkan oleh nash agama bahwa ia akan keluar dari badan lalu menyebabkan kematian, namun ruh itu akan tetap dapat merasa. Ia mendengar salam yang ditujukan kepadanya, dan melihat orang yang berziarah kepadanya. Bahkan ia juga merasakan kenikmatan di surga atau penderitaan di neraka. Adapun tempta keberadaannya berbeda-beda sesui dengan ketingian derajatnya di sisi Alah swt.
Sesungguhnya tidak ada larangan dalam agama untuk berusaha mengungkap hakikat ru. Namu ia tetap merupakan rahasia yang tidak dibuka oleh Allah swt. kepada manusia. Dalam hal ini,seperi banyak hal lainnya yang banyak dirasakan kemanfaatannya oleh manusia tanpa diketahui keadaan yang sebenarnya. Pintu penelitian tetap terbuka, dan agama tidak melarangnya. Bahkan tidak ada dasar bagi kelompok yang mengharamkan penelitian terhadap ruh. Dalam surat Al-Isra’ ayat 85, Allah berfirman yang artinya :
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” 

Para ulama berpendapat bahwa sesungguhnya penjelasan tentang ruh telah ada dalam Al-Qur’an, dan sesungguhnya Allah telah menamakannya dengan’ruh’. “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (al-qur’an) dengan perintah Kami. (Q.S. Asy-Syuraa: 52). Jadi kedua ayat tersebut membenarkan pendapat ini.
Sebagaimana tidak ada dalil yang rinci mengenai ruh, demikian pula tidak ada dalil yang menegaskan secara khusus bahwa ruh itu dapat dipanggil atau dihadirkan oleh manusia, sehingga hal itu tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Dan apabila kita mendengarnya, maka bisa dipastikan hanyalah tipuan atau khayalan belaka. Jadi, kita boleh menolaknya sampai ada dalil yang dapat membuktikan kebenarannya. Namun, bagi seorang mukmin, hendaknya menerima saja apa yang telah diberitahukan oleh Allah swt. dan Rasul-Nya, sehingga tidak perlu mencari ata berpegang pada kepercayaan atau pendapat yang tidk menjadi syarat sahnya iman.

Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Al Ath-Thahthawi.Misteri Ruh, Mimpi, dan Orang-orang yang Hidup Setelah Mati.Citra Risalah.Jakarta Selatan: 2008.



Saturday, 18 June 2011

Arwah Dapat Dibedakan Antara Yang Satu Dengan Yang Lain



Jika ruh-ruh itu telah pisah dari badan, dengan apa mereka dapat dibedakan satu dengan yang lain sehinga dapat saling dapat berkenalan? Apakah jika telah keluar dari badan ruh-ruh itu masih memiliki bentuk, bagaimana pula bentuknya?

Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu dibahas. Kaena hampr tidak ada yang mengupas masalah ini. Apalagi tentang dasar orang yang mengatakan bahwa ruh itu buka jenis benda, ia tidak ada dalam alam atau diluar alam, ia tidak memiliki bentuk, tidak memiliki ukuran, dan tidak ada jenisnya. Sungguh tidak mungkin menjawab pertanyaan ini kecuali dengan dasarahli sunnah yang berpegang pada Al-qur’an, Hadits, Atsar, I’tibar dan akal.

Allah swt. telah menjelaskan sofat-sifat ruh bahwa ia bisa keluar masuk, digenggam, dimatikan, kembali, naik ke langit, dan dibukakan pintu langit utnuknya dan ditutup lagi pintu itu darinya. Allah swt telah berfirman:

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu’.” (Q.S Al-An’aam: 93).
“27.  Hai jiwa yang tenang. 28.  Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. 29.  Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, 30.  Masuklah ke dalam syurga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr : 27-30).
Allah membentuk ruh manusia sebagaimana Dia membentuk badan manusia. Jadi, pembentukan badan mengikuti pembentukan ruh. Badan itu merupakan tempat bagi ruh, seolah-lah sebagai wadahnya.

Dari sini kita mengetahui bahwa bentuk ruh itu berbeda-beda sebagaimana bentuk badan. Sesungguhnya ruh itu berpengaruh terhadap badan sebagaimana badan juga perpengaruh terhadap ruh. Baik buruknya badan akan mempengaruhi baik buruknya ruh, demikian pula baik buruknya ruh akan berpengaruh pada badan. Tidak ada sesuatu yang saling mempengaruhi begitu kuat melebihi ruh dan badan. Sesungguhnya hubungan mereka lebih erat dan saling berkaitan. Oleh karena itu, ketika ruh hendak keluar, maka dikatakan kepadanya, “Keluarlah wahai jiwa yang baik dalam jasad yang baik,” dan, “Keluarlah wahai jiwa yang buruk dari jasad yang buruk.”
Nabi SAW juga memberitahukan bahwa ruh itu akan naik ke langit dan pada Malaikat yang ada diantara bumi dan langit akan menyambutnya. Pintu-pintu langit akan dibuka untuknya. Lalu ruh itu akan terus naik dari langit satu ke langit berikutnya, sampai menghadap kepada Allah. Ruh itu akan berdiri di hadapan-Nya. Kemudian Allah akan memerintahkan agar ia di tulis dalam daftar para ahli surga atau daftar ahli neraka dan dikembalikan ke bumi. Sungguh ruh orng kafir itu akan ditolak dan dicampakkan, dan ia akan dimasukkan bersama badan itu ke dalam kubur untuk ditanya. (H.r Ahmadi). Nabi SAW juga telah memberitahukan bahwa ruh orang mukmin itu akan terbang dan digantungkan di sebuah pohon di surga, sehingga Allah mengembalikannya ke jasadnya. (H.r An-Nasa’i). Sesungguhnya para Syuhada dalam cengkraman burung hijau yang melewati sungai-sungai surga dan makan dari buah-buahannya.(H.r At-Tirmidzi). Nabi juga memberitahukan bahwa ruh-ruh itu kan mendapatkan nikmat-nikmat atau di adzab di alam barzakh sampai hari Kiamat. (H.r Ahmadi).
Sungguh Allah swt. menjelaskan bahwa arwah kaum Fir’aun dibakar di atas api neraka setiap pagi dan petang sebelum hari Kiamat. Sedangkan para Syuhada hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapatkan rezeki. Itulah kehidupan arwah mereka, rezeki mereka terus berlangsung, padahal jasad mereka telah rusak.

Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Al Ath-Thahthawi.Misteri Ruh, Mimpi, dan Orang-orang yang Hidup Setelah Mati.Citra Risalah.Jakarta Selatan: 2008.

Mayit Mengetahui Orang Yang Memandikan dan Mengurusinya


Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya mayit itu mengetahui siapa yang memandikan, mengkafani, membawa, dan memasukkannya ke dalam liang lahadnya.” Abu Hasan bin Bara’ dengan sanad lemah, mengeluarkan dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi SAW bersabda, “Tidak ada seorang mayit yang telah meninggal, kecuali dia mengetahui orang yang memandikan dan mengusungnya. Jika dia diberi berita gembira dengan rezeki, surga dan kenikmatannya, maka dia mendesak orang yang mengusungnya itu agar menyegerakannya, dan jika dia mendapat berita keburukan air mendidih dan nereka yang menyala, maka dia mendesak agar menahannya.”

Abu Nu’aim telah mengeluarkan dari Amr bin Dinar, dia berkat, “Tidak ada seorang mayit yang meningal dunia kecuali ia dimandikan, dikafani, dan diusung. Ia berkata kepada mayit di atas keranda, “Dengarlah ujian orang kepadamu.” Ibnu Abid-Dunya mengeluarkan dari Bakar bin Abdullah Al-Muzanni, dia berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa tidak ada mayit yang meninggal dunia kecuali ruhnya ditangan malaikat maut. Mereka memandikan dan mengkafaninya, sedangkan dia melihat apa yang dilakukan oleh keluarganya. Seandainya dia mampu berbicara, tentu dia akan mencegah mereka agar tidak meratap dan menjerit-jerit.”

Telah dikeluarkan dari Sufyan, dia berkata. “Sesungguhnya mayit itu mengetahui segala sesuatu, sehinga dia mengatakan kepaa orang yang memandikannya. ‘Demi Allah, pelan-pelanlah kamu memandikanku,’ kemudian ruh itu berkata ketika jasadnya di ad\tas keranda, ‘Dengarlah pujian orang terhadapmu.’ Dikeluarkan dari Hudzaifah, dia berkata, “Ruh itu di tangan malaikat. Ketika jasadnya dimandikan, lalu malaikat akan berjalan bersamanya ke kubur. Manakala jasad itu telah dikubur, maka ruh akan dikembalikan kepadanya, yaitu ketika hendak ditanya.”

Abu Syaikh telah mengeluarkan dari Mursal Ubaid bin Marzuq, dia berkata, “Ada seorang wanita di Madinah yang membangun masjid, lalu ia meninggal dunia, sedangkan Nabi tidak mengetahuinya. Lalu beliau melewati kuburnya, kemudian brsabda, “Kubur siapa ini?” Mereka menjawab, “Ummu Mihjan.” Beliau bertanya, “Wanita yang membangun masjid itu?” Mereka menjawab, “ya” lalu beliau mengatur barisan orang dan shalat di atasnya. Kemudian beliau bersabda, “Amal apa yang kamu dapati paling utama?” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah dia mendenar?” Beliau bersabda, “Kamu tidak lebih mendengar daripada dia.” Ubaid bin Marzuq berkata, kemudian wanita itu menjawab beliau. “Membangun masjid.”

Asy-Syaikhani mengeluarkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “ Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah membawa jenazah. Jika dia orang baik, maka kamu mengantarkannya kepada kebaikan. Jika dia bukan orang baik, maka kamu meletakkan ke kuburan dari pundak-pundak kamu.” Ibnu Abid-Dunya mengeluarkan dari Umar bin Khaththab r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang mayit yang diletakkan di atas keranda lalu dibawa jalan tiga langkah, kecuali dia akan berbicara yang ucapannya didengar oleh semuanya kecuali manusia dan jin. Dia berkata, “Wahai saudaraku, orang-orang yang membawaku, janganlah kamu tertipu oleh kehidupan dunia seperti ia telah menipuku, janganlah kamu dipermainkan oleh waktu sebagaimana ia telah mempermainkanku. Aku telah meninggalkan harta untuk warisku, tetapi pada hari Kiamat hisabnya atasku. Kini kamu mengusungku dan akan meninggalkanku.”

Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Al Ath-Thahthawi.Misteri Ruh, Mimpi, dan Orang-orang yang Hidup Setelah Mati.Citra Risalah.Jakarta Selatan: 2008.

Hikmah Dirahasiakannya Adzab Kubur



Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Anas bin Malik r.a., Nabi SAW bersabda, “Kalau bukan supaya kamu tidak saling meguburkan, tentu aku akan berdo’a kepada Allah agar memperdengarkan adzab kubur kepadamu.” Allah telah menyembunyikan adzab kubur dan berbagai hal yang mengerikan yang dialami oleh ahli kubur, sehingga kita dapat memetik hikmah Ilahi ini. Semua mnusia kan ngeri jika mendengarnya, bahkan kita tidak akan berani mendekati kubur untuk menguburkan mayat sekalipun. Mungkin orang yang hiudp akan langsung mati bila mendengarnya.

Sungguh, manusia tidak sanggup mendengarkan adzab di alam kubur. Mendengar halilintar saja gemetar. Ketika terjadi gempa, banyak orang yang panik atau mati seketika. Padaha, halilintar itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pukulan malaikat di kubur dengan gada yang didengar oleh semua orang disekelilingnya.

Nabi SAW bersabda mengenai jenazah, “Kalau manusia itu mendengarnya, pasti akan pingsan.” (Potongan hadits shahih dari Abu Sa’id Al-Khudri). Meskipun dia berada di atas bukit, tidak dipukul, dan tidak dilemparkan ke bawah. Lalu bagaimana jika dia sendiri yang menghadapi siksaan itu? Kita memohon perlindungan kepada Allah dan keselamatan kepada-Nya, kita juga memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Sungguh, manusia lemah pendengarannya dan penglihatannya untuk menyaksikan adzab kubur. Banyak orang yang yang Allah swt. Perlihatkan adzab kubur langsung pingsan dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Sebagian dri mereka jantungnya pecah lalu meninggal. Dengan demikian terdapat hikmah Allah swt. yang tidak menampakkan adzab kubur kepada manusia dan jin. Seandainya tabir tidak menghalangi pandangan mereka, tentu mereka akan melihatnya.

Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Al Ath-Thahthawi.Misteri Ruh, Mimpi, dan Orang-orang yang Hidup Setelah Mati.Citra Risalah.Jakarta Selatan: 2008.