Showing posts with label History of religion. Show all posts
Showing posts with label History of religion. Show all posts

Sunday, 13 October 2013

Daerah Galuh Pra Islam : Kepercayaan Masyarakat Galuh

          


           Para raja dan masyarakat kerajaan Galuh, sebelum kedatangan Islam adalah pemeluk agama Hindu. Di antara bukti untuk hal tersebut adalah ditemukannya situs-situs purbakala yang merupakan tempat suci atau tempat-tempat peribadatan penganut agama Hindu. Salah satu peninggalan tersebut adalah Candi Cangkuang di desa Cangkuang, Leles-Garut yang diperkirakan dari abad VIII M. situs Batu Kalde di Pananjung, Pangandaran Ciamis yang diduga bahwa situs tersebut telah berdiri bangunan suci agama Hindu-Saiva. Di desa Sukajaya, Pamarican, Ciamis terdapat sebuah candi yang disebut Candi Ronggeng. Masih diwilayah Ciamis, tepatnya di daerah Mulyasari, Pataruman, Kotip Banjar, terdapat reruntuhan bangunan kuno yang disebut dengan Candi Rajegwesi. Situs lain yang tergolong luas terletak di tepi pertemuan dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan Cimuntur di desa Karangkamulian, Cisaga, Ciamis. Oleh penduduk setempat situs tersebut dihubungkan dengan cerita rakyat Ciung Wanara. 

          Ada pula suatu komplek kepurbakalaan yang cukup luas yang terdapat di Kawali, Ciamis. Situs ini disebut Astana Gede. Di lingkungan kompleks yang terbagi ke dalam beberapa halaman yang bertingkat ini terdapat enam prasasti baru. Prasati-prasasti tersebut ditemukan pada halaman tertinggi dan relative berada di pusat kompleks. Prasasti-prasasti Kawali menyebutkan bahwa tokoh raja yang berkedudukan di Kadatuan Surawisesa yang bernama Prabu Raja Wastu yang memerintah kerajaan dalam keadaan aman sejahtera dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Astana Gede di masa silam mungkin merupakan kompleks bangunan suci yang ditata dengan halaman yang bertingkat-tingkat. Peninggalan lainnya ialah situs Eyang Depok di desa Banjarharja, Kalipucang, Ciamis, yang berupa lahan bertingkat dengan struktur bangunan dari tumpukan batu bekas reruntuhan sebuah candi. 

          Pada masa kerajaan Galuh, sekurang-kurangnnya terdapat empat jenis tempat yang disucikan oleh masyarakat Sunda Kuna, yaitu Dewa Sasana, Kawikuan, Kabuyutan dan Pertapaan. Dewa Sasana adalah tempat yang dikeramatkan karena dipercaya sebagai tempat persemayaman para dewa yang di dalamnya terdapat pula bangunan suci untuk pemujaan dewa. Kawikuan adalah tempat bermukimnya para wiku. Wiku dalam Bahasa Sunda Kuna berarti pendeta atau dalam pengertian yang luas adalah kaum agamawan yang telah mengundurkan diri dari dunia ramai dan menyepi untuk memperdalam ilmu agama. Kawikuan merupakan bentuk pemukiman khusus yang relative luas, oleh karena itu tidaklah heran apabila disebut dengan lurah kawikuan. Adapun Kabuyutan adalah suatu tempat suci yang dikeramatkan dan dijadikan pusaka masyarakat. Tentu saja ditempat itu pun bermukim para pendeta, namun tidak sebanyak di Kawikuan. Kabuyutan Galunggung mereupakan kabuyutan yang paling penting milik bersama masyarakat dan menjadi pusaka kerajaan. Adapun pertapaan adalah tempat orang-orang melakukan tapa atau semedi. 

          Kepercayaan masyakarat Galuh juga dapat dibaca dan ditelaah lewat naskah-naskah seperti Sewakadarma, Jatiniskala, Kawih Paningkes dan Sanghyang Siksa Kanda Karesyan. Naskah-naskah tersebut sudah ditransliterasi dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh para filolog maupun para ahli tentang kesundaan. Untuk mengetahui isi naskah-naskah tertentu dengan adanya sejumlah naskah yang sudah diterjemahkan. 

          Salah satu naskah yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Galuh adalah naskah Sewakadarma “pengabdian atau kebaktian terhadap darma” disusun oleh seorang petapa perempuan bernama Buyut Ni Dawit yang bertapa di pertapaan Ni Teja Puru Bancana di Gunung Kumbang. Oleh karena itu tidak mengherankan jika naskah itu memberikan uraian tentang sebuah gisa “lesung” dengan istilah-istilah yang khas untuk perempuan, seperti dikayasan, dyangiran, dan dipesekan. Demikian juga uraian mengenai pakaian bidadari. 

          Berdasarkan isinya, naskah Sewakadarma dapat dianggap sebagai salah satu bukti mengenai pernah berkembangnya aliran Tantrayana di wilayah budaya Sunda pada masa silam. Ajarannya menampilkan campuran aliran Siwa Sidhanta yang menganggap semua dewa sebagai penjelmaan Siwa dengan agama Budha Mahayana. Capuran kedua agama itu masih terjadil dengan “agama pribumi” mengingat ternyata unsure hyang tetap dibedakan dari dewata walaupun tempat kediaman keduanya sama-sama disebut kahiyangan.

          Naskah Sewakadarma berisi uraian mengenai kalopasan “kelepasan moksa” yang menekankan kepada penggunaan bayu “tenaga”, sabda “ucapan” dan hedap “tekad” yang sesuai dengan tuntutan dan petunjuk darma. Uarian mengenai hal itu secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi ajaran yang menguraikan cara persiapan jiwa untuk menghadapi maut sebagai gerbang peralihan ke dunia gaib. Di situ dilukiskan peristiwa maut secara indah dan mengesankan karena maut merupakan “pintu gerbang kelepasan” bagi jiwa. Bagian kedua melukiskan perjalanan jiwa sesudah meninggalkan “penjaranya” yang berupa jasad dan kehidupan duniawi.

          Ada pandangan yang berbeda tentang moksa sebagaimana yang tersurat dalam naskah Sewakadarma yang khas bersifat keagamaan. Perbedaan itu terdiri dari : Pertama, naskah itu membicarakan kesejahteraan hidup manusia di dunia dengan memahami darmanya masing-masing. Kedua, bila tuntutan darma terpenuhi dengan sempurna, tercapailah kreta “kesejahteraan dunia”. Ketiga, keberhasilan dalam darma akan membuka kesempatan untuk moksa bagi siapa pun tanpa harus menjadi “pendeta” dulu. 

          Ada pula naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesyan yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut Dasakreta sebagai kundangon urang reya “pegangan orang banyak”, sedangkan bagian kedua yang disebut Darma pitutur berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengetahuan yang seyogyanya dimiliki oleh setiap orang agar dapat hidup berguna di dunia. Uraian naskah itu nampak sekali didasarkan pada kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat dan bernegara.

          Walaupun naskah itu menyebutkan dirinya karesyan, isinya tidak hanya berkenaan dengan kehidupan kaum agamawan. Bahkan lebih banyak yang berkaitan dengan kearifan dan kewaspadaan hidup menurut ajaran darma. Ditinjau dari isinya, kata siksa kandang karesyan mungkin dapat diartikan “aturan atau ajaran tentang hidup arif berdasarkan darma”. 

          Naskah Jatiniskala mengandung informasi mengenai ajaran keagamaan yang memperlihatkan berbaurnya ajaran Hindu dengan ajaran pribumi. Bahkan dalam naskah itu, nama-nama pribumi itu jauh lebih banyak, dan mereka yang memperoleh derajat sebagai apsari “makhluk kayangan, pendamping dewa”

          Naskah Kawih Paningkes memuat ajaran keagamaan yang memperlihatkan bercampurnya ajaran Hindu dengan ajaran pribumi. Nama-nama dewa dan istilah yang dikenal dalam ajaran Hindu seperti dewa, dewata, sri, mahayoga, dan moksa, misalnya ditemukan bersamaan dengan nama puhaci dan istilah yang dikenal dalam kebudayaan asli Sunda : wirumananggay, kahyangan, sanghyang, dan puhun.

          Dari naskah-naskah lama berbahasa Sunda dapat diketahui bahwa orang sunda di masa lampau sangat mengutamakan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan, kebudayaan, dan akhlak. Hampir semua naskah menitikberatkan uraiannya kepada segi kerohanian, bukan kepada hal-hal yang lebih bersifat jasmani. Dalam empat buah naskah, yaitu naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesyan, naskah Sewakadarma, naskah Kawih Paningkes, dan naskah Jatiniskala, misalnya membicarakan tentang segi-segi rohani itu sangat menonjol, sedangkah yang bersifat jasmani disampaikan hanya sekedarnya sebagai pengetahuan umum.

Sumber :
Apipudin. Penyebaran Islam Di Daerah Galuh Sampai Dengan Abad Ke-17. Badan Litbang dan Diktat Kementerian Agama RI. 2010

Monday, 23 January 2012

Rumah Yang Penuh Berkah



Rumah merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Di sanalah seseorang mendapatkan tempat berlindung dari cuaca panas dan dingin, atau tempat kembali setiap kali bepergian. Di rumah pula, segenap anggota keluarga dapat melakukan berbagai aktivitas.

Selain itu,  rumah juga berfungsi sebagai tempat pembinaan. Rumah adalah lokasi terbaik dalam menyemai benih-benih kebaikan serta keimanan dari sebuah keluarga. Sehingga, tidak berlebihan jika setiap orang mendambakan rumah yang nyaman, sejuk, agar mendukung terciptanya  keluarga sakinah.

Tidaklah cukup hanya sekadar membangun fisik rumah secara mewah serta mentereng. Namun yang terpenting adalah membangun suasana kondusif dengan dinaungi nilai-nilai Islami dan pada akhirnya sanggup menenteramkan batin penghuninya.

Rasulullah SAW banyak memberikan tuntunan kepada umat yang ingin menjadikan tempat tinggal mereka penuh harmoni dan keberkahan. Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami dalam Berakhlak dan Beradab Mulia, mengatakan,  umat perlu meniru rumah Rasulullah SAW.

Nabi SAW memberikan panduan agar jangan berlebihan dalam membangun tempat tinggal. Melainkan, rumah seorang Muslim adalah yang cukup untuk sekadar mampu menutupi dari pandangan orang lain dan melindunginya dari bahaya hewan buas.

Paling tidak, pedoman sebuah rumah yang baik adalah yang bisa memberikan rasa nyaman serta asri. ‘’Dengan begitu, penghuninya akan merasa nyaman, juga merasa terlindungi,’’ papar Syekh asy-Syaami.

Sikap dan tindak tanduk penghuni rumah turut memberikan kontribusi bagi terciptanya suasana tenteram. Nabi SAW menekankan, agar setiap Muslim memperhatikan adab ketika hendak masuk rumah.

‘’Jika kamu hendak masuk rumah, maka sebaiknya kamu ucapkan salam, karena hal itu akan membawa keberkahan bagi kamu dan keluargamu.’’ (HR Tirmidzi)

Ada beberapa hal lain yang patut mendapat perhatian. Rasulullah mencontohkan, saat masuk rumah, jangan secara tiba-tiba, tanpa sepengetahuan keluarga yang ada di dalam, agar mereka tidak kaget. Itulah tujuannya seseorang mengucapkan salam lebih dulu.

Beliau juga berdoa saat pulang ke rumah. ‘’Segala puji hanya milik Allah SWT semata, Zat yang telah memberiku kecukupan dan tempat berlindung, yang telah memberiku makan dan minum, yang telah memberiku karunia dan melebijkannya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu selamatkanlah aku dari api neraka.’’

Dan ketika sudah masuk dalam rumah, beliau biasanya membuka pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan. ‘’Nabi menanyakan bagaimana keadaan mereka (anggota keluarga yang lain),’’  tutur Syekh asy-Syaami.

Hendaknya, segala aktivitas yang dilakukan di rumah, tidak terlepas dari niat untuk meraih ridha Allah SWT. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah menekankan, ketika masuk rumah dan sebelum makan di rumah, seseorang sebaiknya menyebut asma Allah.

Maka setan pun berkata, ‘’Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian.’’ Akan tetapi, jika tidak menyebut asma Allah, setan berkata, ‘’Malam ini kalian mendapatkan tempat bermalam dan hidangan makan malam.’’

Dianjurkan pula kepada penghuni rumah untuk senantiasa melingkupi suasana rumah dengan bacaan Alquran. Sabda Nabi SAW, ‘’Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sungguh, rumah yang di dalamnya selalu dibacakan ayat-ayat Alquran, tidak dimasuki setan.’’ (HR Tirmidzi)

Rasulullah juga menjaga keharuman di dalam rumah beliau. Ini mengingat beliau sangat menyukai wewangian. Oleh sebab itu, di dalam rumah sebaiknya penghuni benar-benar menjadi kebersihan, khususnya kamar mandi untuk menghindari munculnya bau yang kurang sedap.

Dari pandangan Syekh Yusuf al Qardhawi, setidaknya terdapat empat elemen terwujudnya rumah yang Islami. Pertama, luas dan bersih, kedua, menghias rumah secara halal dan tidak berlebihan, ketiga, tidak memajang patung di rumah. ‘’Serta keempat, tidak memelihara anjing,’’  ungkap ulama terkemuka itu.

Apabila keluarga itu berkelebihan, dianjurkan untuk memelihara anak yatim, sesuai sabda Rasulullah. ‘’Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk.’’ (HR Ibnu Majah).

Sumber : Republika.co.id

Monday, 27 June 2011

Gambaran Neraka Menurut beberapa Versi Agama

Islam




Pintu (tingkat) neraka yang disebutkan di dalam Al Qur'an adalah:

1.Hawiyah

Neraka yang diperuntukkan atas orang-orang yang ringan timbangan amalnya, yaitu mereka yang selama hidup didunia mengerjakan kebaikan bercampur dengan keburukan. Orang muslim laki dan perempuan yang tidak tanduknya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, seperti para wanita muslim yang tidak menggunakan jilbab, bagi para lelaki muslim yang sering memakai sutra dan emas, mencari rejeki dengan cara tidak halal, memakan riba dan sebagainya, Hawiyah adalah sebagai tempat tinggalnya. Surah Al-Qari'ah.

2.Jahiim

Neraka sebagai tempat penyiksaan orang-orang musyrik atau orang yang menyekutukan Allah. Mereka akan disiksa oleh para sesembahan mereka. Dalam ajaran Islam syirik adalah sebagai salah satu dosa paling besar menurut Allah, karena syirik berarti menganggap bahwa ada makhluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat Allah dan bisa pula menganggap bahwa ada Tuhan selain Allah. Surah Asy-Syu'ara' dan Surah As-Saffat.

3.Saqar

Neraka untuk orang munafik, yaitu orang yang mendustakan perintah Allah dan rasul. Mereka mengetahui bahwa Allah sudah menentukan hukum Islam melalui lisan Muhammad, tetapi mereka meremehkan syariat Islam. Surah Al-Muddassir.

4.Lazhaa

Neraka yang disediakan untuk orang yang suka mengumpulkan harta, serakah dan menghina orang miskin. Bagi mereka yang tidak mau bersedekah, membayar zakat, atau bahkan memasang muka masam apabila ada orang miskin datang meminta bantuan. Surah Al-Ma’arij.

5.Huthamah

Neraka yang disediakan untuk orang yang gemar mengumpulkan harta berupa emas, perak atau platina, mereka yang serakah tidak mau mengeluarkan zakat harta dan menghina orang miskin. Di neraka ini harta yang mereka kumpulkan akan dibawa dan dibakar untuk diminumkan sebagai siksaan kepada manusia pengumpul harta. Surah Al-Humazah.

6.Sa'iir

Neraka yang diisi oleh orang-orang kafir dan orang yang memakan harta anak yatim. Surah Al-Ahzab, Surah An-Nisa', Surah Al-Fath dan Surah Luqman.

7.Wail

Neraka yang disediakan untuk para pengusaha atau pedagang yang licik, dengan cara mengurangi berat timbangan, mencalokan barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat. Barang dagangan mereka akan dibakar dan dimasukkan kedalam perut mereka sebagai azab dosa-dosa mereka. Surah Al-Tatfif dan Surah At-Tur.

Kristen

 
Dalam agama Kristen,Neraka terbagi dalam 3 tingkat,yaitu:

1.Syeol/Hades

Adalah tempat atau bagian dari neraka yang paling atas atau sama dengan tempat penantian. namun di dalam tempat penantian itupun banyak jiwa yang tidak luput dari pandangan para utusan neraka.

2.Gehenna/Neraka

Adalah tempat atau bagian tengah dari neraka. Siksaan di bagian ini lebih kejam daripada di hades.

3.Jurang tak berdasar.

Adalah bagian neraka yang paling dalam. Di tempat ini terdapat lautan api dan belerang dimana para jiwa yang berdosa direndam dalam lautan itu. Di tempat itu pula Allah memenjarakan Sang Naga atau Iblis yang akan dilepaskan pada masa tujuh tahun penderitaan.

Buddha


Agama Buddha — Didalam agama Buddha dijelaskan bahwa terdapat 8 Maha Niraya (neraka besar) terdiri dari :

1. Sanjiva 

Makhluk apapun juga yang terlahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk yang dimilikinya. Di alam ini, makhluk makhluknya dipotong-potong menjadi kepingan-kepingan yang tiada akhirnya.

2. Kalasuta : benang hitam

Makhluk apapun juga yang terlahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, tubuhnya dijelujuri (dijahit) dengan benang hitam dan dipukuli, dengan beliung sampai sisa-sisa akusala karma (perbuatan- perbuatan jahat) nya HABIS, barulah terbebaskan dari derita ini.
3. Sanghata : neraka penghancur

Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini, akan merasakan pernderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, akan merasakan terpaan/ terjangan benda-benda keras, mis : batu karang dari empat penjuru angin, ke arah tubuhnya tanpa henti-hentinya. Semuanya ini akan berakhir, jika akusala karmanya telah terlunasi.

4. Roruva : daerah tertarus

Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, akan merasakan masuknya nyala api dan asap ke tubuh, melalui sembilan lubang mis : telinga, hidung, mulut dan lain lain serta membakar di dalamnya. Dan pada akhirnya akan menimbulkan keperihan yang luar biasa. Derita ini akan berakhir, jika sisa-sisa akusala karmanya telah habis.

5. Maha roruva : daerah tertarus yang besar

Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk, yang dimilikinya. Makh-luk makhluk yang dilahirkan di alam neraka ini, juga akan merasakan penderitaan yang luar biasa, ia dipanggang bagaikan sate di atas bara yang menyala. Ratapan dan tangisan yang menderu-deru, terdengar keras sekali di alam ini. Siksaan di alam ini juga akan berakhir, jika hutang-hutang akusala karma (perbuatan jahat) telah terlunasi.

6. Tapana : pembakar

Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam ini, akan merasakan penderitaan yang luar biasa, sebagai akibat dari karma buruk yang dimilikinya. Makhluk makhluk yang terlahirkan di alam ini, tubuhnya akan dibakar dengan tangan terikat di tiang besi yang panas dan lantainya menyala-nyala, diiringi dengan adanya api yang besar sekali. Sungguh derita yang menyakitkan sekali dan akan berakhir, jika sisa-sisa akusala karmanya habis.

7. Patapa : pembakaran yang hebat

Makhluk apapun juga yang ditumimbal lahirkan di alam neraka ini akan merasakan penderitaan yang luar biasa akibat dari karma buruk yang dimilikinya. Makhluk makhluk yg terlahirkan di alam ini, akan di dera penderitaan yang luar biasa dan juga akan berakhir, jika sisa-sisa akusala karmanya habis.

8. Avici : tanpa penghentian

Terlahirkan di neraka Avici adalah sebagai akibat dari melakukan 5 perbuatan durhaka (panca nantariya karma) yang terdiri dari : membunuh ibu, membunuh ayah, melukai Sang Buddha, membunuh arahat dan memecah belah Sangha (persaudaraan para Bhikkhu/Bhikkhuni). Di neraka Avici disaat ini, berdiam Devadatta yang mana di masa kehidupan Sang Buddha Gautama, sering berusaha mencelakakan Sang Buddha dan memecah belah Sangha.

Hindu

 
Neraka dalam pandangan agama hindu digambarkan sebagai suatu tempat yang terletak jauh di dalam bumi. Ia adalah tempat penyiksaan yang sangat mengerikan berbentuk kawah api yang panasnya beribu kali lipat dari panas api di dunia. Roh- roh yang banyak melakukan dosa di dunia akan mengalami penyiksaan ditusuk dengan tombak dan dipukuli dengan palu godam.

Di dalam Hindu sangat sedikit mantra ataupun sloka yang menjelaskan kosep Neraka mengingat Hindu mengakui terjadinya reinkarnasi atau proses kelahiran kembali dan konsep Moksha. Di Hindu Neraka dikatakan merupakan balasan yang diterima pada saat reinkarnasi atau dalam proses kelahiran kembali. Di dalamnya kita di berikan dua pilihan yang berdasar pada perbuatan kita pada masa hidup terdahulu, yaitu reinkarnasai Sorga atau reinkarnasi Neraka.

Yahudi

 
Menurut agama Yahudi, biasanya digambarkan sebagai suatu tempat yang terletak jauh di dalam bumi. Neraka adalah tempat penyiksaan yang sangat mengerikan. Di neraka terdapat kawah api yang terus berkobar-kobar yang panasnya seratus kali api bumi. Di sini roh-roh malang itu dipanggang. Di Neraka juga disediakan jenis penyiksaan yang lain, misalnya ditusuk dengan tombak atau dipukuli dengan palu godam.
Berapa lama roh-roh malang itu disiksa? Tergantung dari kejahatan yang dilakukan di muka bumi. Ada yang singkat ada juga yang selama-lamanya.

Jika penghukum dengan cara penyiksaan itu dilakukan oleh manusia atau oleh suatu pemerintah di dunia ini, maka ia akan dikutuk sebagai orang atau pemerintah yang tidak beradab, sangat kejam, sadis dan tidak berperikemanusiaan sedikitpun.


Saturday, 4 June 2011

Teori Asal-Usul Agama : Teori Sentimen Kemasyarakatan



          Teori ini berasal dari seorang filosof dan sosiolog dari Perancis. Emile Durkheim (1958-1917). Di bidang antropologi budaya, dia dikenal karena kritiknya terhadap teori Tylor tentang animisme. Menurut Durkheim, manusia pada awal perkembangan kebudayaannya belum dapat menyadari tentang faham “jiwa” yang abstrak, sebaga substansi yang berbeda dari utubuh atau jasmani. Apalagi tranformasi jiwa menjadi makhluk halus di luar hidup manusia adalah tidak dapat disadari oleh manusia primitif.

          Teori Durkheim berpusat pada beberapa pengertian dasar sbagai berikut :

1. Makhluk manusia, yang pertama kali mengembangkan hidupnya di bumi ini, mengemukakan aktivitas agamanya bukan karena mempunyai kesadaran tentang jiwa yang abstrak tetapi karena adanya suatu getaran jiwa, suatu emosi keagamaan, yang timbul dalam jiwa manusia karena adanya pengaruh rasa sentimen kemasyarakatan.
2.  Sentimen kemasyarakatan itu berada dalam batin manusia berupa suatu kompleks perasaaan yang mengandung rasa terikat, rasa bakti, rasa cinta dan sebagainya terhadap masyarakatnya sendiri, yang merupakan seluruh alam tempat ia hidup.
3.  Sentimen kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan, yang merupakan pangkal dari segal kelakuan agama, kadang-kadang menjadi lemah. Oleh karena itu perlu diadakan suatu kontraksi masyarakat, dalam arti mengumpul seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan besar.
4.    Emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentimen kemasyarakatan memerlukan suatu objek tujuan yang mempunyai sifat keramat, sacred, berlawanan dengan objek-objek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan, yaitu objek yang tidak keramat atau profane.
5.   Objek keramat tidak lain adalah suatu lambang masyarakat. Pada suku bangsa asli di Autralia misalnya, objek keramat itu sering berupa sejenis binatang, tumbuh-tumbuhan juga benda. Objek keramat ini disebut totem, yang mengkonkretkan prinsip konsep totem yang berada di belakangnya, yaitu suatu kelompok tertentu dalam masyarakat berupa clan.

Menurut Durkheim, emosi keagamaan atau sentimen kemasyarakatan merupakan inti dari setiap agama. Adapun tida lainnya, yaitu kontraksi masyarakat, kesadaran akan adanya objek keramat (sacred) dan tidak keramat (profane), serta totem sebagai lambang masyarakat, dimaksudkan untuk memelihara inti agama tadi. Ketiga-tiganya akan menjelmakan upacara, kepercayaan dan mitologi, yang selanjutnya akan menentukan bentuk lahir dari suatu agama dalam masyarakat tertentu.

Susunan tiap masyarakat dari beribu-ribu suku bangsa yang berbeda-beda dimuka bumi ini telah menentukan adanya beribu-ribu bentuk agama yang perbedaannya tampak dalam upacara-upacara, kepercayaan dan mitologinya.

Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.

Thursday, 2 June 2011

Teori Asal-Usul Agama : Teori Masa Krisis dan Teori Kekuatan Luar Biasa

Teori Masa Krisis

Teori ini berasal antara lain dari M. Crawley dalam bukunya Tree of Life (1905), juga A. Van Gennep dalam bukunya Rites de Passages. Menurut kedua sarjana ini, manusia mengalami banyak krisis yang menjadi objek perhatiannya dan sering menakutkan dalam hidupnya. Betapapun bahagianya orang, namun ia harus ingat akan timbulnya krisis itu, terutama yang berupa bencana sakit dan mati, yang tidak dapat dikuasainya dengan segala kepandaian, kekuasaan, atau harta yang dimilikinya.

Dalam jangka waktu hidup manusia, ada suatu masa dimana kemungkinan sakit dan mati sangat besar terjadi, misalnya pada masa kanak-kanak, masa peralihan dari masa pemuda ke dewasa, masa kehamilan, masa kelahiran dan lain sebagainya. Dalam menghadapi masa krisis itu manusia perlu melakukan perbuatan untuk memperteguh iman dan memperkuat dirinya. Perbuatan-perbuatan serupa itu, yang berwujud upacara-upacara yang dilakukan pada masa krisis-krisis tadi, merupakan bentuk agama manusia.


Teori Kekuatan Luar Biasa

Teori ini terutama dikemukakan oleh seorang antropolog dari Inggris R.R Marett, dalam bukunya The Threshold of Religion (1909). Ia mengecam teori jiwa yang dimajukan oleh Tylor, yang dikenal dengan animisme. Manurut Marett, kesadaran akan adanya jiwa sehingga meningkat pada makhluk halus aadlah terlampau kompleks bagi manusia primitif. Karena itu Marett mengajukan pandangannya yang baru, yaitu bahwa pangkal dari segala kekuatan agama adalah timbul karena adanya suatu perasaan rendah menghadapi gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa alam yang dianggap sebagai hal-hal yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Alam tepat gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa itu berasal, yang dianggap manusia sebagai tempat adanya kekuatan-kekuatan yang melebihi kekuatan-kekuatan yang telah dikenal manusia dalam alam sekelilingnya, disebut dengan The Supernatural. Gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa itu dianggap akibat dari suatu kekuatan supernatural atau kekuatan sakti.

Kepercayaan terhadap suatu kekuatan sakti di balik gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa alam yang luar biasa itu merupakan suatu bentuk kepercayaan yang ada pada manusia sebelum ia percaya kepada makhluk halus atau ruh yang oleh Tylor disebut animisme. Inilah sebabya bentuk religi semacam ini disebut oleh Marett dengan Praenimisme.

Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.

Dinamisme : Konsep Kepercayaan “Magi”



1.       Pengertian “Magi”

Magi berasal dari bahasa Persia “maga” yang berarti iman ataupendeta dalam agama Zoroaster yang tuganya adalah mengembangkan dan melihara kelestarian agamanya serta memimpin segala macam upacra keagamaan. Atas jerih payah golongan maga ini agma Zoroaster dapat tersebar luas keseluruh Persia.

Magi sering dakatakan erat hubungnnya dengan sihir. Tetapi, menurut Hinog, kata tersebut semula berarti iman, sehingga anhe sekali bila magi berhubungan dengan sihir termasuk perbuatan yag sangat tidak baik. Namun magi justru berarti ilmu sihir. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh orang-orang Yunani yang mengacaukan iman-iman dengan ahli-ahli sihir. Lebih lanjut magi berarti penguasa segala sesuatu yang berhubungan dengan rohani manusia, pelopor perbuatan-perbuatan yang misterius, juga dengan menyiksa manusia dengan berbagai cobaan.

Sebenarnya menurut kepercayaan masyarakat primitif pengertian magi ialah luas daripada sihir, karena yang dikatakan magi menurut kepercayaan mereka adalah suatu cara berfikir dan suatu cara hidup yang mempunyai arti lebih tinggi daripada apa yang diperbuat oleh seorang ahli sihir. Orang yang percaya dan menjalankan magi mendasarkan pada dua hal, yaitu :

a.     Bahwa dunia ini penuh dengan daya-daya gaib, yang disebut daya-daya alam oleh orang modern.
b.     Bahwa daya-daya gaib tersebut dapat digunakan ,tetapi penggunaannya tidak dengan akal pikiran melainkan dengan cara-cara yang irrasional.

Orang yang ahli mempergunakan daya-daya gaib tersebut, dapat berbuat sebaliknya, yaitu mematahkan daya gaib dengan cara yang irrasional yang menimbulkan perasaan ngeri dan takut. Perbuatan itulah yang disebut perbuatan magis, dan pegetahuan tentang cara menggunakan atau mematahkan daya gaib itu disebut dengan ilmu magis atau ilmu sihir.

Lebih lanjut Frazer mengemukakan asal usul magi tersebut. Pada mulanya manusia memecahkan persoalan hidup akal dan sistem pengetahuannya, tetapi ternyata akal dan sistem pengetahuan tersebut terbatas. Makin terbelakang kebudayaan manusia, makin sempit lingkaran batas akalnya. Soal-soal yang tidak dapat dipecahkan dengan akalnya dipecahkan dengan magi atau ilmu gaib. Waktu itu agama belum ada dalam kebudayaan manusia. Lama kelamaan terbukti pula bahwa banyak tindakan magi itu tidak ada hasilnya, sehingga mulailah manusia yakin bahwa alam ini didiami oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa daripada dirinya. Kemudian mulailah menusia mencoba mencari hubungan dengan makhluk-makhluk halus tersebut, sehingga kemudian timbullah apa yang dinamakan agama.

2.       Macam-Macam Magi

Honig membagi magi menjadi dua macam, white magic (magi puttih) dan black magic. Magi putih adalah magi yang dilakukan secara bersama-sama dan untuk kepentingan bersama pula. Contohnya adalah tindakan untuk memanggil atau mencegah turunnya hujan menolak bencana penyakit dan sebagainya. Magi hitam adalah magi yang dilakukan secara perorangan dan biasanya digunakan untuk kepentingan pribadi, semisal tenung.

Selain itu, Frazer membagi magi menjadi dua pula, yaitu :
A.     Positif Magic atau Public Magic, yaitu magi yang harus dilakukan untuk mendatangkan akibat yang diharapkan. Magi positif ini di bagi lagi menjadi dua bagian :

·        Immitative Magic, atau disebut juga Homopathic Maigic, yaitu magi yang didasarkan atas asosiasi ide, lantaran ada persamaan sehingga dilakukan berdasarkan pengertian bahwa segala sesuatu yang mirip bentuknya adalah sama (law of similarity).
·        Contagious Magic, yaitu magi yang didasarkan atas asosiasi ide tentang adanya hubungan atau kontak magi ini dilaksanakan dengan kepercayaan bahwa segala sesuatu yang sudah pernah berhubungan sebelumnya akan selalu berhubungan satu sama lain meskipun sudah berjauhan temptanya.

Kedua macam magi positif ini disebut pula Sympathetic Magic (law of sympathy).

B.     Negative Magic atau Private Magic, yaitu magi dalam pengertian yang sama dengan magi hitam.

Frazer juga membedakan antara magi dengan ilmu magi. Jika magi dilihat sebagi seuatu sistem hukum alam, maka magi terbseut disebut Theoritical Magic atau Magic as pseudo-Science, dan bila magi dilihat sebagai suatu segi dari perutan manusia untuk mencapai sesuatu tujuan maka disebut dengan Practical Magic atau Magic as pseudo-Art.

3.       Kedudukan Magi

Dalam masyarakat primitif, kedudukan magi sangat penting. Boleh dikatakan semua upacara keagamaan, sikap hidup orang-orang primitif, terutama sikap  rohani mereka, adalah bersifat magis karena magi merupakan segala perubatan atau abstensi dari segala perbuatan mereka untuk mencapai suatu maksud tertentu melalui kekuatan-kekuatan yang ada di alam gaib.

Manusia primitif berusaha mengisi segala alat perlengkapan hidup dan kehidupan mereka dengan daya-daya gaib. Keris dibuat dan diisi dengan daya gaib. Begitu pula hal dengan tombak untuk berburu, bajak untuk menyuburkan tanah dan sebagainya. Bercocok tanam, mendirikan rumah, berburu dan lain-lainnya dilakukan secara magis.

Sukap hidup primitif adalah sikap hidup magis.  Ini berarti bahwa sikap hidup tersebut adalah suatu perlawanan terhadap kekuasaan-kekuasaan yang dijumpai. Manusia primitif tidak tunduk terhadap kekuasaan tersebut, melainkan berusaha menaklukannya. Manusia primitif memaksa tanah agar menjadi subur, binatang buruan agar mudah ditangkap, musuh agar bertekuk lutut dan sebagainya, dengan memusatkan segala kekuatan ke dalam dirinya dengan cara-cara yang irrasional. Manusia magis membuat dunia bagi dirinya sendiri, dan dalam dunia ciptaannya itu hanya dia sendiri yang berkuasa.

Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.





Wednesday, 1 June 2011

Teori Asal-Usul Agama : Teori Firman Tuhan





Teeori ini pada mulanya berasal dari seorang antropolog Australia, Wilhelm Schmidt (1868-1954), namu sebelumnya seorang sastrawan Ingris, Andrew Lang (1844-1912) juga telah mengemuakanya dalam bukunya The Making of Religion (1898). Terutama dalam bagian kedua buku ini, Lang menulis tentang folklore dan mitologi suku bangsa-suku bangsa di berbagai daerah di bumi ini. Dalam folklore dan mitologi itu dapat dijumpai adanya tokoh-tokoh dewa yang oleh suku bangsa bersangkutan dianggap sebagai dewa tertinggi, pencipta seluruh alam dan seisinya, penjaga ketertian alam dan kesusilaan. Keyakinan terhadap tokoh dewa seperti ini, menurut Lang, terutama terdapat pada suku bangsa yang masih rendah sekali kebudayaannya yang masih menggantungkan hidupnya dari berburu, seperti suku Ona dan Yahgan di sebelah selatan kepulauan Amerika Selatan, suku asli penduduk Autralia, pegunungan Irian Jaya tengah, Pulau Nugini dan sebagainya. Lang mendapatkan bukti bahwa kepercayaan terhadap dewa tertinggi itu tidak timbul akibat pengaruhagama Islam atau Kristen. Kepercayaan seperti ini kemudian terdesak ke belakang oleh adanya kepercayaan terhadap ruh halus seperti Dewa Alam, ruh nenek moyang dan lain-lainnya.

Pendapat Lang di atas kemudian tidak lama lagi diolah oleh Wilhelm Schmidt, seorang antropolog yang juga pendeta Katolik. Ia beranggapan bahwa agama itu berasal dari firman Tuhan yang diturunkan kepada manusia pada masa permulaan sejarahnya. Inilah sebabnya mengapa tanda-tanda adanya suatu kepercayaan terhadap dewa pencipta justru terdapat pada suku-suku yang masih rendah kebudayaannya atau suku yang laing tua, yang memperkuat teori akan adanya Firman Tuhan yang asli. Kepercayaan yang asli dan bersih seperti ini disebut Schmidt dengan Urmonotheismus. Dalam perkembangannya yang kemudian, yaitu pada tingkat kebudayaan yang lebih maju, kepercayaan ini semakin kabur dengan semakin banyaknya kebutuhan manusia. Akhirnya kepercayaan tersebut semakin terdesak oleh adanya pemujaan terhadap makhluk-makhluk halus, ruh, dewa-dewa dan lain sebagainya.

Demikianlah pendadapat para sarjana yang mengadakan studi tentang agama primitif, yaitu agama dari orang-orang yang hidup dalam suatu masyarakat kecil dengan kebudayaan material yang sederhana dan tidak memiliki kesusastraan. Agama semacam ini terdapat di bagian-bagian dunia yang tertutup dan terpisah satu sama lain, dan merupakan perkembangan yang bebas dan berdiri sendiri, tanpa ada hubungan historis atau dengan yang lainnya.

Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.

Teori Asal-Usul Agama : Teori Batas Akal





          Teori ini dimuculkan oleh James G. Frazer (1854-1941), seorang antropolog terkemuka dari Inggris, dalam bukunya The Golden Bough, A Study in Magic and Religion (1890). Menurut Frazer, manusia memecahkan permasalahan hidupnya dengan kakal dan pengetahuannya, tetapi akal dan pengetahuan tersebut terbatas. Smakin maju kebudayaan manusia akan semakin luas pula batas akal itu, tettapi dalam banyka kebudayaan batas akal manusia tersebut sangat sempit. Oleh karena itu persoalan-persoalan hidup yang tidak dapat dipecahkan dengan akal, dipecahkan dengan ilmu gaib. Imu gaib ini adalah segala perbuatan manusia, termasuk abstraksi dari perbuatan, untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada di alam serta seluruh kompleks perbuatan yang terdapat di belakangnnya.

          Pada mulanya manusia hanya mempergunakan ilmu gaib untuk memecahkan soal-soal hidupnya yang berada di luar batas kemampuan akal dan ilmu pengetahuan. Pada saat itu agama belum ada dalam kebudayaan manusia. Karena lambat laun terbukti bahwa ilmu gaib ini banyak mengalami kegagalan, maka manusia kemudian percaya bahwa alam ini didiamai oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa. Oleh karena itu manusia berusaha mencari hubungan dengan makhluk-makhluk halus tadi. Dari sini kemudian timbul agama.

          Menurut Frazer, ada perbedaan besar antara ilmu gaib dengan agama, atau antara magi dengan religi. Ilmu agama adalah segala sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan mempergunakan kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di alam, sementara agama menyandarkan diri pada kemauan dab kekuasaan makhluk-makhluk halus yang menempati alam.

Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.

         

Monday, 30 May 2011

Teori Asal-Usul Agama : Teori Jiwa



          Penemu teori ini adalah seorang ahli antropologi asal Inggris, Edward B. Tylor (1832-1917), dengan bukunya Primitive Culture (1873). Menurut Tylor, kesadaran manusia akan paham jiwa timbul karena dua hal :

a.     Perbedaa yang tampak pada manusia akan hal-hal yan hidup dan mati. Suatu saat makhluk itu bergerak yang berarti hidup, dan suatu saat ia tidak bergerak yang berarti mati. Lambat laun manusia tahu bahwa yang bergerak dan hidup itu disebabkan adanya jiwa, yaitu suatu kekuatan yang berada di luar tubuh manusia.
b.     Dalam peristiwa mimpi, manusia melihat dirinya berada di tempat lain dri tempat tidurnya. Karena itu manusia tahu bahwa ada perbedaaan antara tubuhnya, yang ada di tempat tidur, dengan bagian lain dari dirinya yang berada di tempat lain, yaitu jiwanya.

Sifat abstrak jiwa itu menimbulkan keyakinan bahwa jwa dapat hidup lepas dari tubuh. Pada waktu hidup, jiwa maish tersangkut dalam tubuh, dan pada saat mimpi atau pingsan jiwa meninggalkan tubuh. Akibatnya tubuh dalam keadaan lemah. Walaupun jiwa sedang melayang ke luar tubuh, namun hubungan masih tetap ada. Hanya pada waktu mati, jiwa tadi benar-benar terlepas dari tubuh. Jiwa bersifat bebas dan dapat berbuat semaunya. Alam semesta penuh dengan jiwa-jiwa yang merdeka itu, yang disebut dengan soul atau spirit, atau “makhluk halus”. Demikianlah pikiran manusia telah mentransformasikan kesadaran terhadap adanya jiwa menjadi kepercayaan pada makhluk-makhluk halus.

Makhluk-makhluk halus itu tinggal disekeliling manusia. Tetapi karena begitu halusnya maka tidak dapat tertangkap oleh indera manusia. Mereka dapat berbuat sesuatu yang tidakdapat diperbuat manusia sehingga menempati kedudukan terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia melakukan penghormatan dan pemujaan kepadanya melalui berbagai macam upacara berupa doa, sesaji atau korban. Kepercayaan ini oleh Tylor disebut dengan Animisme.

Selanjutnya gerak alam ini, yang berupa peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala alam seperti jalannya matahari, mengalirnya air dari gunung ke laut, gempa bumi dan sebagainya, dipercaya digerakkan oleh jiwa alam yang dipersonifikasikan dengan suatu pribadi yang memiliki kemauan dab pikiran. Makhluk-makhluk halus yang berada di balik gejala alam itu disebut Dewa Alam.

Sejalan dengan timbulnya susunan kenegaraan dalam masyarakat, timbul pula kepercayaan bahwa Dewa-Dewa Alam juga hidup dengan susunan kenegaraan seperti masyarakat manusia. Dewa-dewa tersebut juga bertingkat-tingkat mulai dari tingkat rendah sampai tingkat yang tertinggi. Susunan tersebut akhirnya menimbulkan suatu kepercayaan bahwa dewa itu pada hakikatnya hanya merupakan penjelmaan saja dari dewa yang tertinggi, sehingga kemudian timbul kepercayaan akan adanya suatu Tuhan.


Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.