Thursday, 4 August 2011

Memandang Surat Al-Fatihah



Manusia itu mempunyai dua kekuatan, yaitu:
1.    Kekuatan ilmiyah, nadhariyah.
2.    Kekuaatan praktisi dan iradi.

Kebahagiaan yang mutlak bagi manusia itu terserah atas kesempurnaan dua kekuatan yang berada dalam dirinya,, baik yang bersifat ilmiah maupun iradiyah (amaliah). Kesempurnaan kekuatan ilmiah ini dapat ditempuh dengan makrifat kepada pencipta-Nya, makrifat kepada nama-nama-Nya, sifat-Nya, mengetahui jalan yang menuju kepada-Nya, mengetahui beberapa hambatan yang ada padanya, lalu mengenali diri dan aibnya sendiri.

Makrifat yang lima, sebagaimana telah disebutkan di atas, bias menyempurnakan kekuatan ilmiah. Manusia paling alim adalah mereka yang paling mengerti dan paling memahami lima sifat tersebut. Kesempurnaan iradi dan ilmiah dimaksud tidak akan bias tercapai, kecuali dengan memelihara hak Allah terhadap hamba. Lalu bias melaksanakannya secara ikhlas, jujur, mau member nasehat, berbuat baik, dan setelah itu menyaksikan beberapa nikmat yang telah Allah  berikan kepadanya. Lalu mau melihat kepada sikap keteledoran dirinya (intropeksi) untuk menunaikan hak-Nya. Lalu ia merasa malu untuk menghadap kepada-Nya dengan pelayanan yang serba kurang itu.

Dengan demikian, kesepnurnaan kekuatan manusia tidak akan bias tercapai, kecuali dengan menempuh beberapa hal di atas, dan hal itu telah terkumpul dalam diri manusia tersebut. Sesungguhnya kekuatan yang dimaksud telah terkandung dalam surat Al-Fatihah, lalu ditertibkan secara baik.
Sebagaimana Allah swt berfirman:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. (Al-Fatihah, 2-4)

Ayat-ayaat tersebut telah mengandung dasar permulaan dari makrifat kepada Allah. Yaitu makrifat terhadap asma (nama) dan sifat serta perbuatan-Nya.

Nama-nama Allah swt tersebut dalam ayat di atas merupakan pokok dari asmaul husna. Yaitu nama Allah Ar-Rabb, Ar-Rahman dan sebagainya.

Nama-nama Allah yang dimaksud mengandung arti Rububiyah. Disamping itu, nama-nama Allah yang dimaksud juga mengandung arti Uluhiyah. Adapun perinciannya adalah bahwa nama Ar-Rabb mengandung arti Rububiyah. Sedangkan nama Allah, Ar-Rahman, mengandung arti sifat Yang Maha Baik, konsisten dan berbuat segala sesuatu yang bersifat memberikan pertolongan. Dan makna nama-Nya yang dimaksud hanya beraviliasi dengan segala sesuatu yang baik pula.
Sebagaimana Allas swt berfirman:

Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (Al-Fatihah, 5)

Ayat tersbut mengandung makrifat untuk mengetahui jalan menuju kepada-Nya. Dan tiada jalan yang bias mengarah kepada-Nya kecuali dengan menempuh ibadah yang murni hanya untuk-Nya. Yaitu, dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya. Setelah itu meminta pertolongan untuk dapat beribadah kepada-Nya. Sebagaimana dituntunkan di dalam firman-Nya:

Tunjukkan kepada kami jalan yang lurus. (Al-Fatihah, 6)

Ayat tersebut mengandung pengertian, bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai kebahagiaan, kecuali dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus; dan tidak akan mampu untuk berpijak kepada ajaran yang lurus, kecuali mendapat sinar petunjuk-Nya. Sebagaimana Allah swt berfirman:

Bukan jalan orang-orang yang Engkau benci, dan juga bukan jalan orang-orang yang telah tersesat. (Al-Fatihah, 7)

Ayat tersebut menjelaskan mengenai dua jalan yang menyimpang, yakni jalan kesesatan dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Berpihak kepada salah satu jalan yang menyimpang tersebut, berarti berpihak kepada kesesatan dan kebinasaan. Dimana ia berarti kerusakan ilmu dan itikad. Demikan pula ketika seseorang berpihak pada jalan kesesatan yang lain, maka berarti mengantarkan dirinya untuk dimurkai oleh Allah swt. Sebabnya adalah adanya noda dalam niat dan amal perbuatan yang dilakukan.

Dalam surat Al-Fatihah, pada permulaannya mengandung rahmat, pada pertengahannya mengandung hidayah dan pada bagian akhirnya mengandung nikmat. Sementara bagian atas seorang hamba atau suatu nikmat itu terserah pada sinar hidayah yang ia terima. Sedangkan bagian hidayah atas seorang hamba terserah pada bagian rahmat-Nya. Jadi, seluruhnya itu berkisar pada rahmat dan nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Nikmat dan rahmat termasuk unsur lazim di dalam sifat Rububiyah. Yang karenanya, Allah pasti Maha Belas Kasih dan Maha Memberi nikmat, dimana hal itu termasuk seuatu keharusan bagi sifat Uluhiyah-Nya. Allah adalah Rabb Yang Maha Benar, sekalioun diingkari dan disebutkan oleh kaum musyrik sebagai memiliki sekutu.

Barangsiapa yang merealisir pengertian surat Al-Fatihah pada dirinya, baik itu secara ilmu, makrifat, amal, dan juga terhadao keadaan diri (hal), maka sungguh ia telah mendapatkan bagian yang sempurna. Lau ibadahnya termasuk ibadah orang khusus, yang derajatnya telah terangkat dari kebanyakan orang awam yang ahli ibadah.

Wallaahul Musta’aan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Memetik Manfaat Al-Qur’an. Daar Al Yaqiin li An Nasyar wa At Tauzii’, Mesir, Al Manshur.2000.






Friday, 29 July 2011

5 Kebudayaan India Paling Unik

1. Strange Health Ritual


 Di beberapa bagian India, tradisi ini dipraktekkan oleh para pemimpin agama Hindu untuk menyembuhkan anak-anak yang menderita penyakit ringan seperti flu, demam. Setiap tahun polisi India menangkap orang-orang yang melakukan praktek ini; ini ritual yang aneh dan berbahaya yang telah dilakukan di India sekitar 500 tahun. Satu lagi misteri manusia untuk Anda.


2. Thaipusam


 Thaipusam adalah festival yang dirayakan oleh umat Hindu Tamil selama bulan Tamil Thai (Januari – Februari), juga dirayakan oleh umat Hindu non-India yang berada di Sri Lanka-, Malaysia dan Afrika Selatan. Thaipusam didedikasikan untuk Dewa Hindu Murugan, putra Siwa dan Parvati. Pada hari Thaipusam, sebagian besar umat Dewa Murugan memberinya buah-buahan dan bunga-bunga warna kuning atau oranye, warna favorit dan juga menghiasi gaun dengan warna yang sama, banyak juga umat melakukan penyiksaan tubuh mereka untuk menyenangkan Dewa agar memaafkan mereka .


3. Burying Tradition


 Tradisi Hindu yang lain dan sangat aneh adalah praktek mengubur anak cacat hidup sampai leher mereka selama enam jam saat gerhana matahari selama kurang lebih enam jam. Hindu mengatakan bahwa mereka melakukan praktek ini untuk meniadakan akibat yang buruk yang disebabkan oleh Gerhana matahari.


4. Crab Ritual


 Di kota Gujarat India, pada kesempatan Makar Sankranti, ratusan pengikut Hindu berdiri dalam antrian panjang untuk menawarkan kepiting sebagai korban kepada Dewa Siwa di kuil Tuhan di pertengahan Januari. Penawaran kepiting telah menjadi ritual usia-tua dan umat percaya bahwa keinginan mereka akan terpenuhi dengan menawarkan kepiting di kuil Ramnath Shiv Ghela.


5.Budaya Sati

 
Budaya Sati adalah praktik pemakaman diantara beberapa komunitas Hindu di mana seorang wanita janda baru akan secara sukarela atau dengan menggunakan kekerasan dan pemaksaan mengorbankan dirinya dibakar diatas tumpukan kayu pemakaman suaminya. Praktek ini sekarang langka dan ditinggalkan di India modern.

Sumber : Kaskus


Wednesday, 27 July 2011

Unsur Kejadian Jin




Di dalam Alquran banyak ayat yang dapat dijadikan dalil untuk membuktikan bahwa sesungguhnya ada makhluk berwujud yang bernama jin. 

Tujuan diciptakannya makhluk jin oleh Allah SWT itu sebagaimana tujuan diciptakannya manusia, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya. Allah SWT berfirman yang artinya, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyaat: 56). 

Alquran dan hadis sangat jelas menyatakan bahwa jin diciptakan dalam dunia nyata, unsur kejadiannya dari api. "Dan, Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al-Hijr: 27). "Dan, Dia menciptakan jin dari nyala api." (Ar-Rahman: 15). 

Allah juga berfirman tentang kisah iblis, "Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (Al-A'raf: 12). Iblis, yang oleh Alquran ditegaskan dari jenis jin, mengemukakan dalil penolakannya untuk sujud kepada Adam. Dan, dalam keterangan di atas dengan jelas bahwa jin diciptakan dari api. 

Hadis Nabi saw. pun menginformasikan hal yang sama. Imam Muslim dalam kitab sahihnya melalui istri Nabi saw., Aisyah r.a., meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang berkobar, sedangkan Adam (manusia) diciptakan sebagaimana apa yang telah dijelaskan kepada kalian." 

Meskipun keterangan telah jelas, baik dari Alquran dan hadis, sejak dahulu ada saja yang menolak pengertian penciptaan jin dari api. Dalam kitab Al-Funun, Abu al-Wafa' bin 'Aqil menyebutkan bahwa seseorang bertanya kepadanya tentang persoalan jin, maka ia menjawab, "Allah mengabarkan tentang mereka bahwa mereka diciptakan dari api, dan mengabarkan bahwa api dapat membahayakan danmembakar mereka. Lalu, bagaimana api dapat membakar api? Jawabannya, Allah SWT menisbahkan jin dan setan kepada api, sebagaimana Ia menisbahkan manusia kepada tanah, Lumpur, dan tanah liat. Maksudnya, manusia asalnya adalah tanah, tetapi manusia itu bukan tanah. Begitu pula jin, asalnya adalah api, tetapi jin bukan api." Dalil tentang persoalan di atas disebutkan dalam perkataan Rasulullah saw., "Ketika setan datang dalam salatku, aku mencekiknya sampai aku mendapati air liurnya pada telapak tanganku." (HR Bukhari, Imam Ahmad juga meriwayatkannya). 

Al-Qadhi Abu Bakar mengatakan, "Hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat mereka (bansa jin). Sedangkan orang yang tidak diberikan penglihatan untuk melihat, tidak bisa melihat mereka."

Ibn Mardawaih meriwayatkan dari Ibn Mas'ud, dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda, "Mimpinya seorang muslim merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian kenabian. Dan api ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api yang sangat panas, yang darinya diciptakan jin."
 
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mengatakan, Rasulullah saw. bersabda, "Api kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh ranting api neraka jahanam." Demikian disebutkan dalam kitab Bad'ul Khalq.


Tuesday, 26 July 2011

Perbedaan Pendapat Tentang Ada Tidaknya Jin



Adakah eksistensi atau wujud dari sesuatu yang dinamai oleh Alquran dengan jin (atau setan)?

Imam Al-Haramain dalam kitabnya yang berjudul Asy-Syamil pernah menjelaskan, "Mayoritas ahli filsafat, orang-orang Qadariyah, dan kebanyakan kafir zindik (orang yang melahirkan keislaman tetapi batinnya kafir) sama sekali tidak mengakui adanya setan dan jin." Selanjutnya, beliau memberikan komentar dengan ungkapanya, "Tidak apalah orang-orang yang tidak mengakui adanya jin itu orang-orang yang tidak berpegang teguh dengan syariat, yang mengherankan adalah pengingkaran kaum Qadariyah dengan melandaskan pendapatnya pada nas-nas Alquran, hadis, dan atsar."

Abul Qasim al-Anshari dalam kitabnya yang berjudul Syarah al-Irsyad menerangkan, "Kaum Muktazilah juga mengingkari adanya jin, pengingkaran mereka ini justru menunjukkan kurangnya perhatian dan tipisnya keagamaan mereka. Sedang menurut hukum akli saja adanya jin ini tidak mustahil. Nas-nas Alquran dan hadis pun menunjukkan adanya jin. Oleh karena itu, bagi para cendekiawan yang berpegang pada syariat agama Islam pasti akan menetapkan sesuatu yang dibenarkan akal dan telah dinas oleh syara."

Abul Qasim Abu Bakar al-Baqilani memberikan keterangan yang lebih terperinci lagi, yaitu sebagai berikut :

·         Mayoritas kaum Qadariyah mengakui adanya jin pada zaman dahulu, tetapi pada zaman sekarang mereka tidak percaya.
·         Sebagian dari mereka ada yang menetapkan adanya jin tetapi tidak dapat dilihat lantaran jasadnya yang halus sehingga sinar pun dapat menembusnya. Ada yang memberikan alas an sehubungan dengan tidak terlihatnya, yaitu karena jin tidak mempunyai warna atau rupa.
·         Berpegang teguh pada lahirnya dalil, hadis-hadis daif, serta konsensus ulama pada masa sahabat dan tabi'in cukup dapat meyakinkan kita bahwa jin dengan setan itu benar-benar ada. Dan orang-orang yang kuat agamanya tidak akan membantah kesepakatan ulama tersebut di atas. Barang siapa mengingkari keberadaan jin setelah mengetahui dasar-dasar yang digunakan, orang yang bersangkutan perlu dicurigai keagamaannya yang berarti pula bahwa ia telah keluar dari agama, yakni murtad.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa tidak seorang pun dari kaum muslimin dan kebanyakan dari golongan orang-orang kafir yang tidak mengakui adanya jin. Demikian juga orang-orang ahli kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, mereka mengakui dan menetapkan bahwa jin itu benar-benar ada, yang demikian itu berita-berita para nabi a.s. telah mutawatir, menunjukkan bahwa jin itu ada hidup berakal sehat dan terkena beban baik yang berupa perintah maupun larangan.

Perlu dicatat bahwa ketika seseorang menyatakan bahwa jin adalah makhluk halus, maka kehalusan yang dimaksud tidak harus dipahami dalam arti bahwa hakikatnya demikian, tetapi penamaan itu ditinjau dari segi ketidakmampuan manusia melihatnya. Jika demikian, boleh jadi saja ia makhluk kasar, tetapi karena keterbatasan mata manusia, maka ia tidak terlihat, dan karena ia tidak terlihat, bahasa manusia menamakannya makhluk halus.

Dalam pandangan sementara ilmuwan muslim ada lima hal yang merupakan hierarki keseluruhan realitas wujud, yaitu alam naasuut (alam materi), alam malakuut (alam kejiwaan), alam jabaruut (alam roh), alam laahuut (sifat-sifat uluhiyah), dan alam haahuut (wujud zat Ilahi). Kelima ragam bentuk wujud di atas mereka sebut dengan istilah al-hadharaat al-ilahiyah al-khams (lima kehadiran Ilahi). Hanya alam pertama yang dapat dijangkau oleh manusia secara umum, dan karena itu Allah bersumpah dalam Alquran, "Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang kamu tidak lihat." (Al-Haaqah: 38--39).

Berkaitan dengan makhluk ciptaan Allah, Alquran secara tegas menyatakan, "Dia (Allah) menciptakan apa yang kamu tidak ketahui." (An-Nahl: 8).

Janganakan makhluk-makhluk yang menghuni seluruh alam raya, yang berada di planet bumi yang kita huni saja belum semua dapat kita ketahui, bahkan dari kita sebagaimns banyak sisinya yang sampai kini masih merupakan hal-hal yang gaib sekalipun bagi para pakar.

Ilmu pengetahuan hingga kini belum banyak mengetahui rahasia fenomena alam yang terbentang di hadapan ilmuwan, bahkan walaupun yang mereka gunakan dalam eksperimen-eksperimen mereka, misalnya listrik! Bahkan, dewasa ini banyak pakar yang percaya adanya sesuatu yang tidak dikenal atau tidak mereka ketahui.

Harian terkemuka Mesir, Al-Ahram, menulis pada tanggal 19 Mei 1999 dalam halaman pertamanya berita berikut. Dalam eksperimen ilmiah yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan yang diikuti oleh 400.000 pengguna komputer di seluruh dunia sedang diadakan satu upaya mencari indicator-indikator yang dapat membuktikan adanya makhluk-makhluk hidup di tempat-tempat lain di alam raya ini. Eksperimen tersebut terlaksana dalam satu wadah kerja sama ilmiah Inggris dan Amerika dengan nama "Penelitian tentang Makhluk Hidup di Luar Bumi", bertujuan menemukan peradaban makhluk-makhluk berakal di alam raya dengan menggunakan dua teleskop raksasa yang mampu menangkap signal-signal yang datang dari kejauhan sampai 200 juta tahun cahaya. Karena signal yang ditangkap oleh kedua teleskop tersebut sangat banyak, para peneliti mengundang semua pemilik komputer yang berminat untuk menghubungi pusat komputer yang melakukan studi ini untuk membantu melakukan analisis terhadap informasi yang mereka terima. Sampai sejauh ini, kami belum menerima laporan terbaru dari eksperimen tersebut.

Merupakan satu keangkuhan intelektual, menolak atas nama ilmu pengetahuan, wujud sesuatu yang diinformasikan oleh kitab suci dengan alasan bahwa dunia empiris tidak menyaksikannya atau laboratorium tidak mendeteksinya. Kebenaran tidak diukur di laboratorium, atau dibuktikan melalui eksperimen. Banyak informasi dari kitab suci yang dahulunya oleh para ilmuwan dianggap atau ditafsirkan secara metaphor, tetapi kini ternyata benar dan tidak perlu dipahami secara metaphor.

Di sisi lain, kepercayaan dan agama bersumber dari rasa manusia yang terdalam. Perasaan tidak diukur dengan ukuran material atau harus dihidangkan dalam dunia nyata. Para ilmuwanlah yang terlebih dahulu menertawakan, bahkan mengecam siapa yang menggunakan alat ukur yang tidak sesuai dengan objek yang akan diukur. Anda keliru jika menggunakan timbangan untuk mengukur panjang dan luas ruangan.

Ada banyak hal yang tidak diinformasikan agama, boleh jadi karena tidak perlu diketahui manusia, boleh jagi juga karena bila dijelaskan tidak akan dicerna oleh pikirannya. "Mereka bertanya tentang roh. Katakanlah, 'Roh adalah sebagian dari urusan Tuhanku.' Kalian tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit." (Al-Isra: 85).

Meskipun telah dicapai kemajuan dalam bidang psikologi, yang belum terungkap dari jiwa manusia masih jauh lebih banyak. Ini terhadap manusia yang wujudnya terlihat dan terukur, dapat diraba dan dibawa ke laboratorium untuk diuji dan dianalisis. Bagaimana dengan sesuatu yang sejak semula dinyatakan jin, yakni sesuatu yang tersembunyi dan yang tidak dapat dilihat oleh manusia? Sekali lagi jangan tergesa-gesa menolaknya. Memang ada informasi dari kitab suci yang belum terbukti. Ada juga yang sebelum ini tidak dapat dibuktikan oleh generasi lalu, tetapi kini telah terbukti. Sekali lagi, merupakan kekeliruan intelektual menolak informasi yang belum terbukti itu selama belum dapat dibuktikan kekeliruannya dengan alat ukur yang sesuai.

Saturday, 23 July 2011

5 Fakta Tentang Adzan



Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari.

Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

1 . Kalimat Penyeru Yang Mengandung "Kekuatan Supranatural"

Ketika azan berkumandang, kaum yang bukan sekedar muslim, tetapi juga beriman, bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak mereka mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah shalat berjamaah.

2. Asal Mula Yang Menakjubkan

Pada jaman dulu, Rasulullah Saw. kebingungan untuk menyampaikan saat waktu shalat tiba kepada seluruh umatnya. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu shalat itu tiba, ada yang usul untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok.

Adalah Abdullah bin Zaid yang bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan yang sudah kita ketahui sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: ”Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.”
yang kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu untuk menyerukan panggilan shalat.

3. Adzan Senantiasa Ada Saat Peristiwa2 Penting

Adzan Digunakan islam untuk memanggil Umat untuk Melaksanakan shalat. Selain itu adzan juga dikumandangkan disaat-saat Penting. Ketika lahirnya seorang Bayi, ketika Peristiwa besar .

Peristiwa besar yang dimaksud adalah

- Fathu Makah : Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah. Lalu Bilal Mengumandangkan Adzan Diatas Ka'bah

- Perebutan kekuasaan Konstatinopel : Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur. lalu beberapa perajurit ottoman masuk kedalam Ramapsan terbesar Mereka Sofia..lalu mengumandangkan adzan disana sebagai tanda kemenagan meraka.

4. Adzan Sudah Miliyaran kali Dikumandangkan

Sejak pertama dikumandangkan sampai saat ini mungkin sudah sekitar 1500 tahunan lebih adzan dikumandangkan. Anggaplah setahun 356 hari . berarti 1500 tahun X 356 hari= 534000 dan kalikan kembali dengan jumlah umat islam yang terus bertambah tiap tahunnya. Kita anggap umat islam saat ini sekitar 2 miliyar orang dengan persentase 2 milyar umat dengan 2 juta muadzin saja. Hasilnya =

534.000 x 2.000.000 = 1.068.000.000.000 dikalikan 5 = 5.340.000.000.000

5. Adzan Ternyata Tidak Pernah Berhenti Berkumandang

Proses itu terus berlangsung dan bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula sumatra. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.

Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, (Dawn) adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.

Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.

Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan Adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.

Sebelum Adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka waktu adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Fajar, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan untuk Isya.