Sunday, 26 August 2012

“Retina Buatan” Ala Ilmuwan Amerika




Perangkat prostetik itu mentransmisikan objek penglihatan menjadi kode saraf yang diuraikan oleh otak, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh prostetik lainnya.

Pada penyakit neurodegeneratif seperti degenerasi makula atau retinitis pigmentosa, kebutaan terjadi karena sel-sel yang peka terhadap cahaya atau fotoreseptor pada retina di belakang mata tidak berfungsi, sehingga retina tidak lagi mampu mengirim sinyal ke otak untuk diproses.

Tapi umumnya sel-sel ganglion retina - yang mengirim gambar ke otak – masih bisa berfungsi. Para ilmuwan menggunakan sel-sel yang masih berfungsi ini untuk menciptakan perangkat prostetik, menanamkan elektroda di mata pasien untuk menstimulasi apa yang tersisa dari sirkuit visual. Hasilnya, kata pakar neurofisiologi Sheila Nirenberg, adalah penglihatan yang kasar dan minim.

Tapi Nirenberg dan mahasiswanya, Chethan Pandarinath, di Fakultas Kedokteran Weill di Universitas Cornell di New York telah menambahkan apa yang mereka anggap sebagai kaitan yang hilang dalam jalur visual. Mereka telah membuat sebuah perangkat prostetik dengan encoder yang meniru bahasa saraf atau pulsa-pulsa yang biasanya dikirim dari sel-sel ganglion retina ke otak dimana kode-kode itu diuraikan dan dipahami sebagai citra.

"Kami pada dasarnya menangkap kode itu dan memasukannya ke dalam prostetik itu. Jika ini tidak dilakukan, kemampuan prostetik ini akan terbatas. Dan jika kode ini ditambahkan, maka proses penglihatan akan berhasil," kata Nirenberg.

Untuk menunjukkan efektivitas prostetik itu, para peneliti menunjukkan sebuah film kepada tikus-tikus sehat dan mencatat pola pergerakan sel dalam otak binatang selagi mereka menyaksikannya. Kemudian, mereka menunjukkan film yang sama kepada tikus-tikus yang buta. Nirenberg mengatakan tikus-tikus itu tidak memiliki fotoreseptor yang berfungsi, dan tidak merespon film tersebut. Tikus-tikus itu kemudian dilengkapi dengan encoder yang menciptakan pulsa-pulsa informasi visual ke retina.

Nirenberg menambahkan, "Kami berhasil menghidupkan respon itu kembali. Jadi, kami tahu jika itu dapat menghasilkan pola aktivitas yang sama dengan retina normal, maka itu akan mengirimkan sinyal yang sama ke otak, dan sinyal-sinyal itu dapat dipahami otak."

Menurut Nirenberg, prostetik itu terdiri dari dua komponen; enkoder yang akan dibuat menjadi sepasang kacamata hitam dan terapi gen untuk memperkenalkan protein yang dapat mengirimkan pulsa-pulsa visual dari sel-sel ganglion retina ke otak.

Para peneliti mengatakan mereka juga memiliki kode untuk retina monyet, yang sangat mirip dengan manusia.

Diperkirakan sekitar 20 sampai 25 juta orang di seluruh dunia menderita kebutaan karena penyakit retina. Para peneliti berharap bisa mengembangkan prototipe retina buatan dan memulai uji klinis dalam satu atau dua tahun ke depan. Akhirnya, Nirenberg mengatakan para ilmuwan dapat mengembangkan implan yang mengkodekan informasi saraf ke otak.

Artikel mengenai penciptaan prostetik visual baru ini diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

Sumber

Friday, 24 August 2012

Alasan Mengapa Dokter Memakai Baju Operasi Berwarna Hijau




Semula memang yang digunakan adalah warna putih yang melambangkan kebersihan. Namun, seorang dokter berpengaruh menggantinya dengan warna hijau karena menurut dia warna hijau lebih nyaman di mata. Walaupun sulit dikonfirmasi mengapa warna hijau jadi populer karena alasan ini, hijau memang cocok bagi dokter untuk melihat lebih baik di ruang pembedahan, karena hijau adalah lawan dari warna merah dalam roda warna.

Menurut seorang ahli psikologi, melihat pada warna hijau dapat menyegarkan mata ahli bedah dalam melihat benda-benda bewarna merah, termasuk organ-organ tubuh yang berlumuran darah saat pembedahan. Melihat warna merah terus menerus menyebabkan sinyal warna merah di otak memudar sensifitasnya terhadap variasi warna merah.

Alasan lainnya adalah, terus-menerus berfokus pada warna merah akan menyebabkan ilusi nofa berwarna hijau pada latar warna berwarna terang atau putih. Ini akan menggangu penlihatan dokter. Jika warna baju ahli bedah berwarna hijau, ilusi ini akan memudar dan tidak akan mengganggu penglihatan dokter.



Saturday, 18 August 2012

Korelasi Antara Golongan Darah dengan Resiko Penyakit Jantung



JAKARTA-Orang-orang dengan tipe darah AB memiliki risiko yang lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan dengan orang bergolongan darah O, menurut penelitian baru.

Hal ini tercermin dari dua penelitian terhadap 90.000 orang selama lebih dari 20 tahun. Kesimpulan penelitian itu, risiko penyakit jantung koroner berbeda-beda tergantung dari golongan darah.

Orang dengan golongan darah O memiliki risiko paling rendah, sedangkan tipe darah AB memiliki 23 persen lebih mungkin terkena penyakit jantung koroner. Semantara itu, golongan darah B 11 persen, sedangkan golongan darah A hanya 5 persen.

"Karena orang-orang tidak mungkin mengganti golongan darah mereka, penemuan kami mungkin bisa membantu para dokter untuk lebih mengerti siapa saja yang berisiko terkena penyakit jantung," kata pemilik penelitian, Dr. Lu Qi, asisten profesor nutrisi di Harvrad School of Public Health di Boston.

Para peneliti itu merujuk pada dua penelitian Harvard, pertama terhadap 62 ribu perempuan berusia lebih dari 26 tahun dan kedua terhadap 27.400 pria berusia lebih dari 24 tahun. Secara keseluruhan, lebih dari 2.500 orang didiagnosa memiliki penyakit jantung.

Hubungan dengan golongan darah ini dilakukan setelah peniliti melihat variable lain yang bisa menyebabkan penyakit jantung seperti kadar kolesterol, penyakit diabet, dan hipertensi.

Hasilnya sangat mengejutkan, kata Dr. Richard Stein, kardiologis serta juru bicara untuk Asosiasi Jantung Amerika. Sementara penelitian kecil lainnya telah menyebutkan bahwa ada korelasi, penelitian ini merupakan penelitian skala besar pertama yang mendukung korelasi itu, katanya.

Stein mengatakan selama penelitian lanjutan dibutuhkan, tipe darah bisa dimasukkan dalam daftar sebagai pertimbangan ketika dokter menilai pasien tentang resiko penyakit jantung, karena tes yang bisa mengungkapkannya tidak mahal serta tanpa efek.

Untuk mengurangi resiko penyakit jantung, seseorang harus berolahraga, makan dengan benar dan atur berat badan serta rajin kontrol kolesterol, kata Stein.

Mengetahui bahwa tipe darah bisa meningkatkan resiko penyakit jantung bisa juga meningkatkan motivasi orang-orang untuk "menjaga diri mereka sendiri serta menghentikan kebiasaan buruk," kata Qi seperti dikutip dalam laman web livescience.com.

Peneliti menemukan korelasi antara golongan darah dengan resiko penyakit jantung, bukan hubungan sebab-akibat.

Peneliti lainnya menyebutkan mekanisme yang bisa menjelaskan hubungan tersebut, seperti hubungan golongan darah A dengan jenis kolesterol tertentu, dan hubungan antara golongan darah AB dengan peradangan tinggi.
Hubungan ini ditemukan dalam penelitian yang sangat kecil, kata Stein, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk bisa menjelaskan korelasinya.

Di Amerika Serikat, 45 persen orang memiliki golongan darah O, sehingg menjadi golongan darah yang umum. Hanya 4 persen dari populasi di Amerika Serikat yang memiliki golongan darah AB, sementara itu golongan darah A ada 40 persen dan golongan darah B ada 11 persen. Karya ilmiah ini dipublikasikan di Jurnal Arteriosclerosis, Thrombosis and Vascular Biology.



Tak Usah Malu Memakan Ubi, Ini Dia Manfaatnya



Center for Science in the Public Interest U.S beberapa waktu lalu menobatkan ubi jalar sebagai juara satu dalam kompetisi kekayaan nutrisi kategori sayuran. Hal ini didasarkan pada kandungan ubi jalar yang lebih lengkap dibandingkan jenis sayuran lainnya.

Selain itu, dalam setiap butir ubi jalar ukuran sedang terkandung vitamin A yang dapat memenuhi kebutuhan vitamin A harian tubuh sebanyak dua persen.

Nah, berikut 6 fakta sehat lainnya yang bisa Anda dapatkan dari mengonsumsi sebutir ubi jalar.

Lebh banyak serat

Menurut The U.S. Sweet Potato Council Inc.,ubi yang dimasak beserta kulitnya menghasilkan lebih banyak serat dibanding seporsi oatmeal. Ubi juga mengandung vitamin A, B, C, Kalsium dan potassium yang berfungsi untuk meringankan radang perut.

Aman dikonsumsi penderita diabetes

Kadar Glycemic Index (GI) pada ubi lebih rendah bila dibandingkan dengan nasi ataupun roti sehingga aman dikonsumsi bagi penderita diabetes. Studi yang digelar oleh University of Vienna, Austria, pada 2003 silam, membuktikan bahwa pengidap diabetes melitus tipe II yang mengonsumsi ubi menunjukkan penurunan yang signifikan resistensi insulin tanpa perbedaan dalam berat badan, atau faktor lain yang mungkin akan mempengaruhi.

Alternatif untuk diet

Bagi Anda yang sedang menjalani diet, ubi bisa menjadi alternatif asupan karbohidrat terbaik. Ubi mentah yang berukuran sedang mengandung 112 kalori, bebas lemak, kolesterol dan rendah sodium serta mampu memberikan energi lepas berkala sekaligus membuat perut Anda kenyang lebih lama.

Vitamin A

Sebutir ubi mengandung lebih dari 200 persen kebutuhan harian akan vitamin A. Vitamin ini memberikan warna kuning pada ubi dalam bentuk beta karoten. Beta karoten juga berperan penting sebagai antioksidan serta menjaga kesehatan mata.

Vitamin C

Sepotong ubi dapat memenuhi 66 persen kebutuhan vitamin C dalam sehari. Tidak hanya itu ubi juga kaya akan zat besi, kalsium, dan vitamin B6.

Antioksidan

Ubi juga berfungsi sebagai antioksidan, membantu mencegah infeksi dalam pencernaan, saluran kencing, dan paru-paru. Meski dianggap sebagai ‘makanan kampung’ namun kehebatan ubi dalam memberikan manfaat kesehatan masih belum terbantahkan hingga saat ini. So, tak perlu malu makan ubi!


Sumber

Minum Air Putih Sebelum Makan Dapat Menyebabkan Kanker ?



Untuk mengurangi makan berlebih banyak orang minum air terlebih dahulu sesaat sebelum makan. Sebaiknya hilangkan kebiasaan itu, jika ingin minum sebelum makan lakukanlah satu jam sebelum waktu makan.

Mengonsumsi air terlalu banyak tepat sebelum makan memang membuat Anda kehilangan nafsu makan karena lambung menjadi penuh. Tapi minum air sesaat sebelum makan akan membuat proses penyerapan makanan oleh enzim menjadi lebih sulit.

Karena air yang diminum butuh waktu 30 menit mengalir dari lambung menuju usus. Sehingga jika minum sesaat sebelum makan, belum sempat air menuju usus sudah ditambah dengan makanan yang membuat enzim bekerja lebih sulit.

Profesor Hiromi Shinya MD, pakar enzim yang juga guru besar kedokteran di Albert Einstein College of Medicine AS, seperti dikutip dari karangannya, ‘The Miracle of Enzyme’, menyarankan agar minum air putih dilakukan 1 jam sebelum waktu makan.

Seperti halnya tanaman, menurutnya ada periode yang baik untuk minum karena pengairan yang berlebihan pada tanaman akan membuat tanaman menjadi busuk dan layu. Sehingga ada periode waktu yang sesuai untuk tubuh minum air.

Cara ideal untuk mencukupi kebutuhan air untuk tubuh adalah:

1-3 gelas saat bangun tidur pada pagi hari

2-3 gelas, 1 jam sebelum makan siang

2-3 gelas, 1 jam sebelum makan malam.

Menurutnya yang harus diperhatikan adalah minum air setelah bangun tidur karena cairan yang hilang harus cepat diganti saat bangun tidur.

Profesor Hiromi tidak menyarankan minum air sebelum tidur tapi jika sangat haus bisa dilakukan satu jam sebelum waktu tidur.

Minum air sesaat sebelum tidur bisa mencegah terjadinya aliran balik. Walaupun hanya air, jika bercampur dengan asam lambung bisa memasuki tenggorokan dan terhirup ke dalam paru-paru yang dikhawatirkan risiko menderita pneumonia.

Biasakanlah tidur dengan perut kosong karena tenggorokan dirancang agar tidak ada yang masuk ke dalamnya selain udara. Jika masih ada makanan atau minuman, isi lambung akan meluap naik menuju kerongkongan saat Anda merebahkan diri. Saat itu terjadi, tubuh akan menyempitkan saluran pernapasannya dan menghentikan pernapasan Anda untuk mencegah isi lambung memasuki tenggorokan.

Banyak kejadian orang meninggal akibat serangan jantung pada dini hari. Penyebabnya adalah karena asam yang mengalir balik sebagai akibat makan atau minum larut malam, dan berakhir pada tertutupnya saluran pernapasan, kemudian napas jadi tidak teratur, kadar oksigen dalam darah berkurang dan akhirnya kurang persediaan oksigen menuju otot jantung.

Diakuinya, kebutuhan minum tiap orang berbeda tapi biasakan untuk minum air 6-8 gelas per hari (1,5-2 liter) untuk orang dewasa. Jika cuaca sangat panas misalnya maka orang akan membutuhkan minum yang lebih banyak. Sebaliknya orang yang mengalami sistem pencernaan lemah dapat mengalami diare jika minum terlalu banyak.

Banyaknya air yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda tergantung pada ukuran tubuh orang tersebut dan apa yang dianggap sesuai untuk tubuhnya. Hanya saja tetap perhatikan waktu-waktu untuk minum yang ideal, di luar kebutuhan minum lainnya.

Jika kebutuhan air terpenuhi dengan baik maka Anda akan jarang terkena sakit. Saat kebutuhan air terpenuhi, air akan melembabkan area-area dalam tubuh yang mudah diserang oleh bakteri dan virus seperti daerah bronkus (pipa saluran pernapasan), mukosa lambung dan usus. Dengan begitu sistem kekebalan tubuh menjadi aktif sehingga area-area tersebut menjadi sulit diserang virus atau bakteri.

Sebaliknya jika air yang dikonsumsi kurang, membran mukus pada bronkus akan mengalami dehidrasi dan mengering, dimana dahak dan lendir diproduksi dalam bronkus. Jika tidak ada air yang cukup maka dahak dan lendir akan menempel pada bronkus yang kemudian menjadi tempat berkembangbiaknya virus dan bakteri.

Air penting bagi tubuh. Jika tidak ada air orang tidak hanya kekurangan gizi, tapi kotoran dan racun juga akan terkumpul di dalam sel dan tidak dapat dikeluarkan. Efek buruknya, racun yang terakumulasi itu akan merusak sel-sel gen yang salah satunya bisa menyebabkan berubahnya gen menjadi sel kanker.