Saturday, 7 January 2012

Pintu Perpisahan




Untung tak bisa diraih
Malang tak bisa ditolak
Seperti juga siang dan malam
Pertemuan dan perpisahan
Adalah pasangan dalam kehidupan

Bahagia dan derita
Adalah dua sisi dari koin yang sama

Tapi,
Aku tak berani mengundi diri

Semua kemungkinan terbuka
Seperti pintu terbuka
Bagai perpisahan ini

Catatan Perpisahan




Kasih.,
Hujan yang turun mengguyur kota kita senja tadi
Tak mampu menyirami hatiku yang kering karena duka

Sepertinya ada kemarau panjang di hatiku
Mungkin sepanjang jarak dan waktu
Yang mengiringi perpisahan ini

Ketika jemari tak sanggup lagi menggenggam
Ketika peluk hanya melingkar di ruang kosong
Hanya lengang kehilangan
Dan kesendirian yang bisu

Kekasihku..,
Desember kita yang kelabu
Januari kita yang biru
Kini bungkam dalam catatanku

Thursday, 5 January 2012

Bayi Lahir Besar Belum Tentu Akan Mengalami Obesitas




NEW YORK - Apakah ukuran menentukan? Inilah pertanyaan yang kerap muncul terhadap berat badan bayi dan pertumbuhan berat bayi di awal Tahun. Muncul kecemasan terkait dugaan bahwa bayi yang dianggap memiliki bobot terlalu berat bakal berisiko mengembangkan diabetes dan obesitas di kemudian hari.
Sejumlah periset di AS pun mengkaji tren pada berat bayi lahir dan ukuran untuk memastikan faktor risiko mengidap obesitas di kehidupan nanti. Riset itu dilakukan setelah berat dan panjang bayi lahir di tenggara Ohio mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Namun temuan studi mengungkap tidak ada kaitan antara obesitas di kemudian hari dengan saat kanak-kanak.
Riset terbaru yang dipublikasikan di The Journal of Pediatrics, menggunakan data ke belakangan hingga 1929 untuk mencatat jejak perkembangan ukuran bayi saat lahir hingga dewasa. Para peneliti menemukan mereka yang lahir setelah 1970 tertimbang satu pon lebih berat dan berukuran lebih dari setengah inchi lebih panjang ketimbang bayi-bayi yang lahir pada dekade sebelumnya.
"Namun bayi yang dianggap anak besar pada 1930-an tidak dianggap bayi besar saat ini," ujar salah satu peneliti, Ellen Demerath dari Divisi Epidemiologi, Kesehatan Masyarakat dan Komunitas, Universitas Minnesota.
Namun pada usia satu tahun, sebagian besar bayi memiliki ukuran sama dengan bayi pada generasi sebelumnya. Temuan itu memberi sugesti bahwa bayi terlahir kecil pada masa lalu mengalami pertumbuhan cepat dalam tahun pertama sehingga memiliki berat rata-rata bayi modern.
Ternyata bukan hanya bayi, rata-rata ukuran ibu juga meningkat dalam dekade terkini, terlihat dalam indeks massa tubuh (BMI), sebuah metoda yang menggunakan ukuran relatif berat badan dengan tinggi tubuh. Antara 1930 dan 1949, 18 persen ibu dalam studi memiliki BMI yang dikategorikan sebagai pengidap obesitas.
Kemudian pada tahun 1990 dn 2008 terjadi peningkatan dalam kategori tersebut hingga 48 persen.
Beberapa periset berspekulasi bahwa BMI besar saat hamil mengarah pada bayi lebih besar. Kondisi itu dicemaskan berkontribusi pada obesitas anak-anak di kemudian hari.
Untuk menguji pandangan tersebut, Demerath dan kolega perisetnya menggunakan data dari studi jangka panjang di Ohio terhadap bayi baru lahir sejak 1929 dan ibu-ibu mereka. Sejumlah 620 bayi yang mereka pantau ditimbang dan diukur dari sejak lahir hingga berusia 3 tahun dan semua adalah keturunan Eropa.
Some researchers have speculated that higher maternal BMIs are leading to bigger babies, which in turn may contribute to obesity later in childhood.
"Ini adalah kelas masyarakat di mana mayoritas warga berada, kelas menengah, semi urban yang dipantau jejaksnya," ujar Demerath. "Dan ternyata ada banyak perubahan besar dalam pertumbuhan bayi."
Perbedaan rata-rata pertumbuhan setelah kelahiran antara bayi di generasi awal dan kemudian, ujar Demerat, cenderung terkait kesehatan ibu saat kehamilan.
Pada periode pra-1970-an, "Angka bobot bayi lahir relatif rendah dan kesehatan ibu mungkin tak sebaik saat ini," ucap Demerath.
Para periset menyimpulkan pula bahwa tingginya jumlah bayi pada era moderan yang diberi susu formula juga menerangkan alasan pertumbuhan lambat mereka di awal tahun. Namun, kesimpulan itu belum bisa diuji dengan informasi yang mereka peroleh.
Demerath mengatakan, di atas itu semua, pertumbuhan lambat menjadi tantangan bagi mereka yang meyakini bahwa bayi besar pemicu epidemi obesitas saat ini. "Tidak berarti bayi dengan pertumbuhan berat badan tinggi bakal berakhir dengan masalah obesitas," ujar Demerath.
Pendapat itu juga dikuatkan oleh guru besar dari Departemen Pengobatan Populasi dari Sekolah Kedokteran Havard, Dr. Emily Oken. Berhati-hati, ia berkomentar sulit untuk memprediksi pertumbuhan keseluruhan seseorang pada usia-usia awal.
"Saya pikir dalam rentang usia dua hingga lima tahun terlalu dini untuk memastikan bagaimana prospek jangka panjang seseorang terhadap risiko kesehatannya dan ukuran tubuhnya," ujar Oken.
Oken menambahkan beberapa anak terlihat sedikit menambah berat badan setelah empat dan lima tahun.
Pada 2010, sebuah studi berbasis pada data lebih dari 36 juta bayi di seluruh AS, Oken dan kolega risetnya menemukan bahwa bayi dilahirkan pada 2005 berukuran lebih kecil ketimbang mereka yang lahir pada 1990. Grupnya tak bisa menerangkan tren berdasar karakteristik ibu atau bayi, atau berdasar perubahan panjang kehamilan.
Oken mengatakan hasil studinya tak lantas bertentangan dengan temuan di Ohio. Ia hanya menekankan bahwa studinya hanya berdasar pada data terkini populasi nasional. Ia juga mencermati bahwa secara umum bayi-bayi di penjuru dunia menjadi lebih besar sejak 1950-an.
Menurut Demerath, pesan utama dari riset tersebut yakni kondisi kesehatan ibu benar-benar berbeda pada beberapa dekade lalu. Namun ia dan koleganya menyimpulkan rata-rata pertumbuhan tahun pertama kehidupan tak bisa menjelaskan keterkaitan dengan obesitas di kemudian  hari.

Sumber : Republika.co.id

Pemicu Tingginya Lemak Bukan Karena Protein




WASHINGTON - Bila selama ini orang menduga bahwa menyantap protein bisa memicu kondisi tinggi lemak, maka anggapan itu melest. Ternyata orang yang mengonsumsi terlalu banyak makanan dengan kalori tinggi dan menjalani diet rendah protein cenderung memiliki kadar lemak tubuh lebih tinggi ketimbang mereka yang menyantap makanan dengan kadar protein tinggi, kata peneliti AS, Selasa (4/12)
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Asosiasi Kesehatan Amerika edisi 4 Januari itu melibatkan 25 orang di Louisiana yang setuju untuk bertindak sebagai pasien dalam penelitian mengenai penambahan berat badan selama periode 56 hari.
Selama sekitar dua bulan, mereka makan makanan dengan kalori berlebih, lebih sekitar 1.000 kalori setiap harinya.
Beberapa diantaranya makan makanan diet dengan kandungan lima persen protein, beberapa diantaranya dengan kandungan 15 persen protein - yang dianggap sebagai tingkat normal - dan sisanya makan makanan dengan kandungan 25 persen protein, atau jumlah yang lebih tinggi.
Tujuan dari peneliti itu adalah untuk mengungkap perbedaan pengaruh dari kadar protein terhadap kenaikan berat badan secara keseluruhan, lemak tubuh dan pengeluaran energi.
Mereka menemukan bahwa orang-orang dengan diet rendah protein mengalami penambahan berat badan jauh lebih sedikit dari pada yang lain, namun kelebihan energi mereka disimpan dalam bentuk lemak dibandingkan dengan orang dengan diet protein normal atau tinggi.
Orang dengan diet rendah protein mengalami penambahan berat badan setengah dari yang lain, yaitu sekitar rata-rata 3,6 kilogram selama penelitian sedangkan orang dengan diet protein normal dan tinggi mengalami penambahan berat badan sebesar 6,05 kilogram dan 6,51 kilogram.
Namun penambahan berat badan itu dalam bentuk massa tubuh tanpa lemak, untuk orang dengan diet protein menengah atau tinggi.
Sembilan puluh persen dari energi ekstra yang dikonsumsi oleh orang-orang dengan diet rendah protein disimpan sebagai lemak, dibandingkan dengan sekitar 50 persen dalam dua kelompok lainnya.
"Temuan dari penelitian ini adalah bahwa kalori lebih berperan daripada protein apabila mengonsumsi kelebihan energi sehubungan dengan peningkatan lemak tubuh," kata penelitian itu, yang dipimpin oleh George Bray dari Pennington Biomedical Research Center di Baton Rouge, Louisiana.

Sumber : Republika.co.id

Wednesday, 4 January 2012

Rajin Menggosok Gigi Mencegah Radang Paru-Paru




Jangan sepelekan kesehatan mulut. Rajin menggosok gigi dan membersihkan mulut tak hanya baik untuk kesehatan gusi dan kepercayaan diri, mulut yang bersih ternyata bisa mengurangi resiko radang paru-paru atau pneumonia.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Yale mengatakan bahwa kondisi mulut berhubungan dengan kesehatan sistem pernapasan. Hal ini ditemukan pada penderita pasien di beberapa rumah sakit. Para peneliti menemukan fakta bahwa orang yang mengalami sakit paru-paru awalnya ‘memelihara’ bakteri di dalam mulut mereka. Tim menemukan bahwa sekitar 37 pasien pneumonia telah mengalami perubahan yang signifikan dalam 'komposisi bakteri’ dalam mulut mereka terlebih dahulu.

"Temuan ini dapat memperbaiki cara kita mencegah pneumonia di masa depan,” kata pemimpin penelitian, Dr Samit Joshi, seperti dikutip dailymail.co.uk.

CEO British Dental Health Foundation, Nigel Carter memperkuat temuan Joshi. Ia mengatakan bahwa merawat gigi dapat meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan. "Hubungan antara kesehatan gusi dan kesehatan secara keseluruhan sudah dipelajari, menjaga kesehatan mulut benar-benar membantu mencegah penyakit," ujar Carter.

Sumber : Republika.co.id