Saturday, 16 July 2011

Apa sih Jin Itu ?

Pendapat Pakar Islam Rasionalis

Meskipun mayoritas umat mengakui adanya jin, pemahaman mereka tentang makhluk yang tersembunyi ini berbeda-beda. Bahkan, para pakar Islam pun terdapat beberapa pendapat tentang makhluk jin. Pakar-pakar Islam yang sangat rasional tidak mengingkari ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang jin, tetapi mereka memahaminya bukan dalam pengertian hakiki. Paling tidak ada tiga pendapat yang menonjol dari kalangan rasionalis Islam menyangkut makhluk jin.

1. Mereka memahami jin sebagai potensi negatif manusia. Menurut penganut paham ini, malaikat adalah potensi positif yang mengarahkan manusia ke arah kebaikan. Pandangan ini menjadikan jin sepenuhnya sama dengan setan. Di sisi lain mereka menilainya tidak memiliki wujud tersendiri karena jin atau setan menurut paham ini merupakan potensi negatif yang berada di dalam diri manusia.

2. Mereka memahami antara lain sebagai virus dan kuman-kuman penyakit. Paham ini mengakui eksistensi jin tetapi menyatakannya sebagai kuman-kuman. Maka, mereka menilainya bukan makhluk berakal, apalagi makhluk mukalaf, yang dibebani tugas-tugas tertentu oleh Allah SWT.
3. Mereka yang memahami jin sebagai jenis dari makhluk manusia liar yang belum berperadaban. Pendapat ini dikemukakan kali pertama oleh salah seorang pemikir India kenamaan yang bernama Ahmad Khan (1817-1898 M), yang menulis buku tentang jin dalam pandangan Alquran. Menurutnya, ayat-ayat yang menunjukkan tentang jin tidak dapat dijadikan bukti tentang adanya makhluk yang bernama jin. Ahmad Khan juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa syair-syair jahiliah.
Bintu asy-Syathi, Aisyah Abdurrahman, pakar kontemporer Mesir dalam bidang bahasa dan Alquran, dalam bukunya Al-Qur'an wa Qadhaya al-Insan menulis antara lain lebih kurang sebagai berikut.
"Bukanlah satu keharusan membatasi pengertian jin pada hal-hal yang secara umum kita kenal pengertiannya sebagai hantu-hantu yang tidak nampak kepada kita kecuali dalam kegelapan yang manakutkan atau gambaran waham dan ilusi. Tetapi kata jin sesuai dengan pengertian kebahasaan yakni ketertutupan dan sesuai juga dengan kebiasaan Alquran memperhadapkan penyebutannya dengan 'ins' (manusia) dapat mencakup semua jenis makhluk selain manusia yang hidup di alam-alam yang tidak terlihat atau terjangkau dan yang berada di luar batas alam tempat kita manusia hidup, serta yang tidak terikat dengan hukum-hukum alam yang mengatur kehidupan kita sebagai manusia."
Atas dasar pandangan ini, Bintu asy-Syathi tidak menutup kemungkinan jin masuk dalam pengertian apa yang dinamakan UFO (Unidentified Flying Object). Dalam dunia iptek, UFO adalah objek yang terlihat di angkasa dan diduga sebagai awak angkasa yang datang dari luar planet bumi namun tidak dapat diidentifikasi.

Wawasan Alquran tentang Jin

Di dalam Alquran ditemukan paling tidak lima kata yang sering digunakan untuk menunjuk makhluk halus dari jenis jin, yaitu jin, jaan, jinnat, iblis, dan syaithan.
Para pakar berbeda pendapat tentang maksud kata jaan. Pakar bahasa Arab, Al-Jauhari (W 1005), menyatakan bahwa jaan sama dengan jin, hanya saja kata jin adalah bentuk jamak dari kata jinny yang berbentuk tunggal, sedangkan jaan adalah ism jame atau kata yang digunakan untuk menunjuk sekelompok, jinny. Dalam Alquran surah Ar-Rahman ayat 15 dinyatakan, "Dia (Allah) menciptakan jaan dari nyala api."
Siapa yang dimaksud dengan jaan dalam ayat di atas? Ada yang berpendapat bahwa jaan adalah bapak jenis jin, sebagaimana Adam adalah bapak jenis manusia. Ada juga yang menyatakan bahwa jaan adalah iblis yang menggoda Adam dan bukan bapak jin.
Kata jinnat, baik yang dibubuhi alif dan lam atau tidak, ditemukan dua belas kali di dalam Alquran. Kesemuanya mengandung makna ketertutupan seperti gila (Al-A'raf: 184). Tetapi, tidak semuanya bermakna makhluk halus. Banyak ulama memahami kata jinnat dalam arti jin. Huruf "ta" yang menghiasi akhir kata itu adalah alamat ta'nist/tanda/bentuk feminisme untuk menunjukkan bahwa kata ini digunakan untuk menunjuk thaaifah (kelompok), sehingga kata jinnat berarti kelompok jin.
Perlu dicatat bahwa tidak semua jin adalah setan, karena jin ada yang taat kepada Allah SWT dan ada pula yang membangkang. "Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda." (Al-Jin: 11).
Di sisi lain, tidak semua setan adalah jin, karena ada juga setan manusia. "Setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin sebagian dari mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)." (Al-An'am: 112).
Kini, kalau Anda bertanya bagaimana wawasan Alquran tentang jin, dan apa yang harus dipercayai oleh seorang muslim tentang hal ini? Secara singkat dapat disimpulkan bahwa Alquran menjelaskan adanya makhluk ciptaan Allah yang bernama jin, tercipta dari api, sebagaimana diakui iblis dan dibenarkan oleh Alquran. "Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12). Perlu diingat informasi Alquran yang menyatakan, "Iblis (enggan sujud). Dia adalah dari golongan jin." (Al-Kahfi: 50).
Makhluk ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan ciri manusia, antara lain bahwa dia dapat melihat manusia dan manusia tidak dapat melihatnya. “Sesungguhnya ia danpengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A'raf: 27).
Makhluk ini dapat hidup di planet bumi. Alquran tidak menjelaskan di mana tetapi demikian itulah perintah Allah kepada-Nya ketika Yang Maha Kuasa itu mengusirnya bersama Adam dan surga. "Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (Al-Baqarah: 36).
Mereka mempunyai kemampuan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat, seperti apa yang mereka lakukan untuk Nabi Sulaiman. "Dan, sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawwah kekuasaan Sulaiman) dengan izin Tuhannya." (Saba': 12). "Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam serta periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku)." (Saba': 13).
Mereka juga mempunyai kemampuan hidup berada di luar planet bumi berdasarkan ucapan mereka yang dibenarkan dan diabadikan Alquran. "Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)." (Al-Jin: 8 - 9).
Tidak semua bangsa jin itu jahat atau membangkang perintah Allah. "Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dandi antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda." Demikian ucap jin yang direkam dalam Alquran surah Al-Jin ayat 13.
Mereka juga mempunyai kemampuan memahami bahasa manusia, terbukti dari kemampuan mereka mendengar dan memahami Alquran. "Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami." (Al-Jin: 1 -

Sumber :
  • Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan & Malaikat dalam Al-Qur'an-As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, M. Quraish Shihab
  • Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
 

Friday, 15 July 2011

Kebekuan


Di sini.....
Kusaksikan pergantian masa
Surya tenggelam mengundang rembulan
Sahutan ayam terdengar memanggil fajar
Telah mengambil bagian diriku

Di sini.....
Kumengenang hari-hari yang telah berlalu
Membawaku dalam kebekuan jiwa
Di dalam dunia lamunan
Yang terus menyelimuti di setiap waktuku

Di sini.....
Kusaksikan taman mulai berbunga
Kuntum-kuntumnya mulai mekar menebar keharuman
Pepohonannya mulai rindang dan berbuah di setiap cabang

Di sini.....
Aku hanya diam membeku
Tak mampu berbunga dan berbuah
Dalam kebekuan jiwa
Di setiap waktuku

Tak Berbekas


Kulihat apa yang tersurat
seraya mencoba mengerti apa yang tersirat
keagungannya

Tetapi ......
Mulutku telah mencaci
Kaki tanganku terus menodai
kesuciannya

Tetapi ......
Yang kudengar masih kulanggar
Yang kufahami tak kujalani
darinya

Tetapi ......
Semuanya tak berbekas
dalam gerak hidupku bersama desah nafasku
dalam aliran darahku yang mengiringi denyut nadiku

Kulihat apa yang tersurat
seraya mencoba mengerti apa yang tersirat
tanpa kehadirannya


Permata


Di mana tetesan air mata
Yang mengalir membasahi pipi
Ketika mengenang segala dosa
Yang singgah menodai hati

Ke mana getaran rasa pergi
Tinggalkan seorang hamba
Ketika memandang kuasa Ilahi
Hingga tak berbekas di jiwa

Permata yang hilang
Terpuruk di relung jiwa nan kelam

Rasa kesombongan
Sembunyikan kehambaan
Berjalan tanpa salah dan dosa
Seakan tak pernah ada

Rasa penyesalan
Hilang dalam kegersangan
Bersama tandusnya taman iman
Yang menyerap embun kesejukan

Permata yang hilang
Terbenam dalam lumpur noda

Permata yang berharga
Terkikis masa
Bersama nafsu menggoda
Dan kekuasaannya berjaya

Thursday, 14 July 2011

Fithrah Seorang Wanita



Setelah kita menyadari pentingnya kembali kepada fitrah, lantas bagaimana sesungguhnya fitrah wanita itu? Apakah fitrah itu sesuatu yang biasa dikerjakan manusia? Ataukah suatu budaya yang telah berlangsung secara turun temurun?

Bukan, fitrah adalah ketetapan yang Allah Subhanahu Wata'ala gariskan bagi para makhluknya. Allah yang menciptakan hambaNya sehingga Allah Subhanahu Wata'ala yang paling mengetahui apa-apa yang baik bagi hambaNya dan apa yang buruk bagi hambaNya. Lalu Allah Subhanahu Wata'ala memberikan tugas kepada masing-masing makhluk serta memberikan perangkat dan alat sesuai dengan tugasnya di dunia. Ketika satu diantara mereka menyerobot tugas yang bukan menjadi tugasnya, maka akan ada suatu pekerjaan yang tidak tertangani dan semakin banyak pekerjaan yang tumpang tindih dan semrawut akan semakin besar pula kekacauan yang timbul. 

Allah Subhanahu Wata'ala menggariskan bagi kaum laki-laki untuk memimpin wanita karena memang Allah Subhanahu Wata'ala mengkaruniai suatu alat bagi laki-laki untuk memimpin yang tidak dikaruniakan kepada wanita. Demikian pula Allah Subhanahu Wata'ala mempercayakan seorang bayi kepada kaum wanita lantaran Allah Subhanahu Wata'ala telah memberikan piranti kepadanya sesuatu yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki.

Contoh lain, Allah Subhanahu Wata'ala menetapkan bagi wanita separuh dari bagian laki-laki dalam hak waris, karena Allah Subhanahu Wata'ala melebihkan suatu beban bagi kaum laki-laki dengan apa yang tidak dibebankan dengan kaum wanita, yakni memberikan nafkah bagi keluarga. Begitulah, Allah Subhanahu Wata'ala memberikan sarana kepada makhluknya dengan apa yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Jika demikian pantaskah kita sambut seruan “persamaan gender” dalam hak-hak secara keseluruhan?

Jika kaum wanita hari ini yang menuntut persamaan hak mendapatkan jatah kursi, persamaan hak untuk mendapatkan jatah warisan dan barang murahan lainnya, maka lihatlah apa yang menjadi tuntutan para shahabiyat yang seharusnya menjadi teladan kita?

Suatu ketika Asma’ bin Yazid bin Sakan menghadap Rasulullah Shallallahu a'alaihi wasallam dan berkata, “wahai Rasulullah Shallallahu a'alaihi wasallam, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita yang berada dibelakangku, mereka sepakat dengan apa yang aku katakan dan sependapat dengan pendapatku… sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala mengutus Anda kepada laki-laki dan juga kepada para wanita. Kamipun beriman kepada Anda dan mengikuti Anda sedangkan kami para wanita terbatas gerak-geriknya, kami mengurus rumah tangga dan menjadi tempat menumpahkan syahwat bagi suami-suami kami, kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Namun Allah Subhanahu Wata'ala memberikan keutamaan kepada kaum laki-laki dengan shalat jama’ah, mengantar jenazah, dan berjihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga hartanya dan memelihara anak-anaknya, maka apakah kami mendapatkan pahala sebagaimana yang mereka dapatkan?”

Mendengar tuntutan Asma’ tersebut, nabi menoleh kepada para shahabat seraya bersabda, “pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agamanya yang lebih bagus dari pertanyaan ini?” kemudian Beliau bersabda, “pergilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita dibelakangmu bahwa perlakuan baik kalian terhadap suami dan upaya kalian mendapat ridho darinya serta keta’atan kalian kepadanya, pahalanya sama dengan apa yang engkau sebutkan tentang pahala laki-laki.“

Maka perhatikanlah, adakah sama tuntutan hak para shahabiyat dengan kebanyakan muslimah hari ini?.

sumber : milis daarut tauhid at yahoo dot com