Thursday, 29 March 2012

Dua Kekuatan Yang Mewarnai Dunia




Keadaan dunia yang begini ini ada yang mewarnainya. Kekuatan yang mewarnai tiu yang pertama ialah agama dan yang kedua ialah filsafat. Orang yang mewarnai dunia juga hanya dua, nabi dan ulama, dan filosof. Apakah sains dan teknologi ikut juga mewarnai dunia? Tidak. Sains dan teknologi dalam garis besarnya netral. Pakar sains dan teknologi menggunakan sains dan teknologi untuk mewarnai dunia berdasarkan pandangan hidupnya; pandangan hidup itu hanya ada dua: agama dan filsafat. 


Sejarah telah mempertontonkan adanya manusia yang berani mati untuk dan karena agama yang dianutnya. Orang mengorbankan harta, pikiran, tenaga, atau nyawa sekalipun untuk dan karena kepercayaan yang dianutnya. Adapula orang yang dibakar hidup-hidup oleh orang yang merasa agamanya disentuh oleh orang tersebut. Orang rela pula dijemur dan diapit dengan batu besar untuk mempertahankan kepercayaan (agama) yang dianutnya. Orang dengan tekun menabur bunga di kuburan, membakar kemenyan di tanah-tanah tinggi atau di pojok rumah untuk dan karena kepercayaan agamanya. Ada pula orang yang rela mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena kepercayaan yang dianutnya. Demikian kenyataannya. 


Orang yang meyakini agama tertentu ingin pula agar orang lain ikut bersamanya. Lalu agama tersebut disebarkannya, didakwahkanya, dipropagandakannya. Itu dikerjakannya dengan sungguh-sungguh demi agamanya. Begitulah yang telah, sedang dan akan terjadi. Ini berarti dengan tekun mereka mewarnai dunia. Tidak jarang bentrokan besar terjadi karena latar belakang agama. Agama mengatur dunia; ini suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. 


Selain kenyataan itu, sejarah telah mencatat pula adanya orang kuat, yang kadang-kadang juga berani mati, karena meyakini sesuatu yang diperolehnya karena memikirkannya. Yang ini adalah pemikir atau filosof. Sesuatu dipikirkan sedalam-dalamnya, lantas suatu ketika ia sampai pada kesimpulan yang dianggapnya benar. Kebenaran ini mempengaruhi tindakannya; keyakinannya pada kesimpulannya itu membentuk sikapnya. Socrates sanggup mati dengan cara meminum racun, sebagai hukuman baginya, karena mempertahankan kebenaran filsafat yang dianggapnya benar. 


Keyakinan filsafat itu diikuti pula oleh orang lain. Mereka memang ingin diikuti, bahkan filosof itu merasa wajib menyebarkan pendapat mereka. Pada orang yang mengikuti itu terbentuk pula sikap mereka; tindakan mereka dibentuk oleh pandangan filsafat itu, jadi menjadi pandangan hidup mereka. Mereka juga mewarnai dunia. 


Agama dan filsafat adalah dua kekuatan yang mewarnai dunia. Barang siapa hendak memahami dunia, ia harus memahami agama atau filsafat yang mewarnai dunia itu. Orang harus mempelajari kekuatan itu.

Sumber :
Prof. Dr. Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. 2000

Andaikan Aku Bisa




Semua cerita tentang kita..
Berakhir saat kau tak lagi percaya..
Tentang pengorbanan cinta..
Yang ada untukmu tercipta..

Kau yang kini telah pergi..
Meningalkan luka dalam hati ini..
Yang kini mengikiskan semua..
Rasa cinta yang telah lama ada..

Andai aku bisa..
Memutar balikkan semua..
Kenangan indah bersamamu..
Saat kau masih di sisiku..

Kini aku harus bisa..
Jalani semua sisa cerita..
Tanpamu..
Yang kini telah tinggalkanku..

Masih terlihat jelas..
Senyummu saat kau akan melepas..
Cintaku..
Yang hanya untukmu..

Dan takkan ku lupa..
Semua hal yang telah tercipta..
Bersamamu cinta..
Selamanya..

Berbagai Jenis Nafsu Insani




Nafsu insani yang tidak terkawal, adalah sebagai penghalang seseorang untuk mencapai ketenangan dalam menghadap Allah swt. Hidayah Allah tidak akan masuk ke dalam sanubarinya, seandainya ia belum mampu mengendalikan hawa nafsunya. Pada asasnya, manusia dibagi kepada dua golongan, yaitu golongan yang dikalahkan nafsunya sehingga tingkah lakunya dikendalikan nafsu dan golongan yang mampu mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu itu tunduk dengan perintahnya. Para shalihin ada yang berkata: “Akhir dari perjalanan hidup seseorang yang menuju jalan makrifat yaitu jika ia dapat membuktikan bahwa dirinya telah mampu mengendalikan nafsu-nafsunya. Siapapun yang berhasil mengendalikannya, maka beruntunglah ia, sebaliknya bagi mereka yang dikalahkan nafsu, maka rugilah ia. Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut:


“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutmakan kehidupan dunia, maka sesunggunya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”.
(QS. An-Naazi’at : 37-41)

  1. Nafsu Muthmainnah
Nafsu Muthmainnah yaitu nafsu tenang bersama Allah, tenteram ketika mengingatnya, selalu merindukan Allah dan senantiasa dekat dengan-Nya. Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut:


“Hai jiwa yang tenang. Maka masuklah ke dalam jamaah yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku”.
(QS. Al-Fijr : 27-30)


Ibnu Abbas ra berkata: “Muthmainnah artinya yang membenarkan. Qatadah berpendapat muthmainnah yaitu hanyalah orang-orang yang beriman, yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah”. Orang yang berjiwa tenang ini akan nampak pada akhlaknya, bersikap tenang,sabar dan sanggup menerima setiap cobaan dari Allah swt. 


Jiwa yang muthmainnah yaitu jiwa yang berhijrah dari segala sesuatu yang dibenci auatu yang dilarang oleh Allah swt menuju kepada perbuatan yang diridhai-Nya. Umpamanya dari sikap ragu-ragu kepada memperoleh keyakinan. Dari bodoh kepada berilmu pengetahuan, dari lalai hingga ingat kepada Allah. Begitulah seterusnya dari keburukan menuju kepada yang lebih baik dan mendapat bimbingan Allah.


Pokok ari semuanya itu adalah kesadaran jiwa yang tinggi, serta peka terhadap goncangan jiwa dan perasaan. Sehingga terhindar dari segala bentuk dosa maksiat yang pernah dikerjakan. Setelah melihat kesadarannya itu barulah tahu bahwa hidup ini tidak lama dan akan berakhir dengan kematian. Akhirnya akan bertemu yang Maha Agung. 


Oleh sebab itu, setiap muslimin hendaknya secepat mungkin untuk memanfaatkan sisia-sisa umur yang pendek ini untuk mengabdi hanya keada Ilahi. Menghidupkan kembali hati yang telah mati, ataupun memberi penawar bagi jiwa yang telah sakit, agar kehidupan kita bahagia di akhirat kelak.

  1. Nafsu Lawwamah
Nafsu Lawwamah yaitu nafsu yang tidak pernah stabil atau satu keadaan. Ia selalu berubah, baik dalam bentuk pendirian ataupun tingkah laku. Ia diantara ingat dan lalai, antara ridha dan marah, antara cinta dan benci dan lain-lain. 


Sebagian orang berpendapat bahwa nafsu Lawwamah adalah nafsu prang yang beriman. Ada juga yang mengatakan Lawwamah yaitu mencela diri sendiri kelak pada hari kiamat, di mana setiap orang akan berbuat serupa. Jika ia pernah membuat kesalahan, maka ia mencela kebodohan sikapnya itu, dan jika berbuat baik maka ia juga mencelah karena sedikitpnya kebaikan yang ia lakukan.


Imam Ibnu Qayyin berkata: “Semua pendapat di atas tentang nafsu Lawwamah itu adalah benar”. Kemudian Lawwamah dibedakan lagi kepada dua jenis, Lawwamah yang tercela dan Lawwamah yang terpuji. Lawwamah yang tercela yaitu nafsu yang bodoh dan zalim, semuanya itu dicela oleh Allah swt. Lawwamah yang terpuji yaitu nafsu yang senantiasa berfungsi sebagai peneliti atas setiap tindakan seseorang. Apakah telah mengabdikan diri kepada Allah, beriman dan beramal saleh, serta segala kebaikan yang diperintah-Nya.

  1. Nafsu Ammarah
Nafsu Ammarah adalah nafsu yang tercela, sebab ia selalu mengajak kepada kezaliman. Tidak seorangpun yang terlepas dari nafsu ini, kecuali oarng yang memperoleh pertolongan Allah swt. Seperti kisah istri Al- Azizi penguasa Mesir. Firman Allah menjelaskan :


”Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. Yusuf : 53)


Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut :


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti angkah-langkah seteanm maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbauatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih dari perbuatan-perbuatan keji yangmeungkar itu selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
(QS. An-Nuur : 21)


Sebenarnya nafsu ini hanya satu, tetapi ia dapat bersiat ammarah, bersifat lawwamah dan terakhir dapat meningkat kepada muthmainnah. Muthmainnah inilah merupakan puncak kesempurnaan dan kebaikan nafsu insani. Karena nafsu muthmainnah selalu berteman dan berada di sisi Malaikat. Senantiasa berusaha untuk mengabdi kepada Allah swt. 


Sedangkan nafsu ammarah selalu berdampingan dengan setan. Menggoda dan mempengaruhi manusia dengan janji-janji palsu, mengajar manusia mengerjakan kebatilan dan kemaksiatan. Nafsu ammarah merupakan nafsu yang menjadi penghalang bagi nafsu muthmainnah untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Begitulah seterusnya, bahwa dalam kehidupan kita ada dua nafsu yang selalu berlawanan.

Sumber :
Drs. Muhammad Isa Selamat, MA. Penawar Jiwa dan Pikiran. Kalam Mulia: Jakarta. 2005.

Sunday, 25 March 2012

Perkembangan Transplantasi dari Masa ke Masa



Kemajuan teknologi kedokteran, utamanya transplantasi, bukanlah ilmu yang diperoleh dari hasil merenung semalaman. Sebaliknya, ia merupakan hasil penelitian dan kerja keras selama bertahun-tahun. Menurut satu legenda, transplantasi telah dikembangkan selama berabad-abad, bahkan sejak 200 tahun sebelum Masehi. Kala itu, sepasang anak manusia bernama Pien Csiao dan Hua To berjanji akan mentransplantasikan jantung mereka. Tentu saja, Anda sah-sah saja bila tak mempercayai hal itu. Namanya juga legenda.


Yang pasti kalangan kedokteran modern lebih suka menyebut abad ke-18 sebagai tonggak awal perkembangan transplantasi. Kala itu, para ahli mulai bereksperimen dengan obyek binatang maupun manusia. Pada awalnya, sejumlah percobaan transplantasi tak membuahkan hasil memuaskan. Tapi pada paruh pertama abad ke-20, percobaan-percobaan mengenai teknik transplantasi terus diasah dan dipertajam. Alhasil, pada tahun 1954, operasi transplantasi organ pertama di dunia dilakukan di Amerika. Saat itu, Dr Joseph Murray berhasil mentransplantasi ginjal lewat operasi yang berlangsung di Boston, Massachusetts.


Lalu, pada pertengahan dekade 60-an, untuk pertama kali dilakukan transplantasi liver dan pankreas. Operasi transplantasi ini membuktikan kemampuan para dokter masa itu untuk menyelamatkan nyawa dengan cara menghilangkan organ tubuh yang terkena penyakit atau tak berfungsi dengan organ lain yang sehat. Setelah sukses dengan transplantasi ginjal, liver dan pankreas, para ahli kemudian berjuang keras untuk tujuan yang lebih besar: transplantasi jantung. Dan akhirnya, Dr Christian Barnard, ahli bedah dari Afrika Selatan berhasil menorehkan prestasinya dengan tinta emas tatkala pada Desember 1967 berhasil mentransplantasi jantung dari seseorang ke orang lainnya.


Sejak itu, 'status' transplantasi berubah dari suatu operasi eksperimental menjadi suatu prosedur yang diakui manfaatnya untuk menyembuhkan penyakit jantung tingkat lanjut. Tak puas sampai di sini, para ahli kedokteran kemudian bekerja keras lagi untuk menyempurnakan teknik transplantasi dan mengembangkan obat-obat baru. Sejak itu, kisah sukses tentang operasi transplantasi organ-organ penting, makin sering terdengar.


Meski teknologi kedokteran dalam hal transplantasi makin maju, toh masih saja ada kendala yang kerap dihadapi pasien. Dalam hal ini, ada dua kendala utama dalam transplantasi yaitu: penerimaan dan ketersediaan. Artinya, suatu organ kadang kala tidak bisa dengan mudah diambil dari dari dalam tubuh seseorang lalu dicangkokkan pada tubuh orang lain.


Memang, perlu ada kesamaan genetik antara penerima dan pemberi organ untuk mencegah reaksi penolakan. Itu mengapa, organ dari anggota keluarga memiliki peluang lebih besar untuk diterima (oleh si penerima organ). Namun reaksi penolakan bisa diredam menyusul ditemukannya obat-obat penekan sistem kekebalan tubuh. Obat-obatan inilah yang membuat transplantasi semakin menjanjikan dan memungkinkan para penerima organ bisa menikmati hidup lebih lama.


Lalu bagaimana dengan kendala yang kedua: ketersediaan? Seringkali, kendala ini juga sangat memusingkan. Kendala ini terjadi lantaran permintaan akan organ jauh melebihi jumlah organ yang didonorkan. Inilah yang kemudian memicu munculnya perdagangan organ tubuh secara gelap. Muncul pula ide agar jual beli organ tubuh ini dilegalkan. Tentu saja, semua ini menimbulkan perdebatan.


Terlepas dari perdebatan ini, para ahli terus berupaya untuk menyempurnakan teknik-teknik transplantasi tersebut. Saat ini misalnya, para neurolog bereksperimen untuk mentransplantasi otak. Sementara para ahli kanker di Manchester, Inggris melakukan transplantasi testis yang pertama di dunia. Meski demikian, diantara kemajuan ini, muncul pula pertanyaan-pertanyaan yang berkait dengan soal etika. Misalnya saja, ada kalangan yang mencemaskan implikasi lantaran seseorang 'mengenakan' tangan dan sidik jari orang lain? Lalu bagaimana pula dengan seseorang yang menjalani transplantasi otak? Bukankah otak merupakan pusat identitas manusia?

Sumber : Republika.co.id

Aku Yang Bersalah




Kesempatan pertama kau masih mengerti..
Hari demi hari kau selalu berlaku yang terbaik..
Namun apa yang kulakukan..
Ku sia-siakan itu ..
Ku tak mengerti inginmu..
Dan masih meninggikan sifat acuhku..
Namun sekarang kusadari..
Bukan salahmu meninggalkanku..
Bukan salahmu tak pedulikan diriku..
Namun salahku yang tak pernah memikirkanmu itu..
Maafkan,,
Jika engkau berkenan..
Pedulilah,,
Jika engkau masih sayang..