Friday, 24 February 2012

Pusat-pusat Peradaban Islam : Kairo (Mesir)



Kota Kairo dibangun pada tahun 17 Sya’ban 358 H/969 M oleh panglima perang Dinasti Fathimiah yang beraliran Syi’ah, Jawhar Al-Siqili, atas Khalifah Fathimiah, Al-Mu’izz Lidinillah (953-975 M), sebagai ibukota kerajaan tersebut. Bentuk kota ini hamper merupakan segi empat. Disekelilingnya dibangun pagar tembok besar dan tinggi, yang sampai sekarang masih ditemui peninggalannya. Pagar tembok ini memanjang dari Masjid Ibn Thulun sampai ke Qal’at Al-Jabal, memanjang dari Jabal Al-Muqattam sampai ke tepi sungai Nil. Daerah-daerah yang dilalui dinding ini sekarang disebut Al-Husainiyah, Bab Al-Luk, Syibra dan Ahya Bulaq.

Wilayah kekuasan dinsti Fathimiah meliputi Afrika Utara, Sicilia, dan Syiria. Berdirinya kota Kairo sebagai ibukota kerajaan dinasti ini membuat Baghdad menadapt saingan. Setelah pembangunan kota Kairo rampung lengkap dengan istananya, Al-Siqili mendirikan masjid Al-Azhar, 17 Ramadhan 359 H (970 M). masjid ini berkembang menjadi sebuah universitas besar yang sampai sekarang masih berdiri megah. Nama Al-Azhar di ambil dari Al-Zahra’, julukan Fathimiah, putri Nabi Muhammad SAW dan istri Ali bin Abi Thalib, Imam pertama Syi’ah.

Kota yang teletak di tepi sungai Nil ini mengalami tiga kali masa kejayaan, yaitu pada masa dinasti Fathimiah, dinasti Shalah Al-Din Al-Ayyubi dan dibawah Baybars dan Al-Nashir ada dinasti Mamalik. Periode Fathimiah dimulai dengan Al-‘Aziz. Al-Mu’izz Lidinillah dan ‘Aziz (975-996 M) di Mesir dapat disejajarkan dengan Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun di Baghdad. Selama pemerintahan Al-Mu’izz dan tiga orang pengganti pertamanya, seni dan ilmu mengalami kemajuan besar.

Al-Mu’izz melaksanakan tiga kebijaksanaan besar, yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama (juga aliran). Dalam bidang administrasi, ia mengangkat seorang wazir (menteri) untuk melaksanakan tugas-tugas kenegaraan. Dalam bidang ekonomi, ia memberi gaji khusus kepada tentara, personalia istana, dan pejabat pemerintahan lainnya. Dalam bidang agama, di Mesir diadakan empat lembaga peradilan, dua untuk mazhab Syi’ah dan dua untuk mazhab Sunni. Al-‘Aziz kemudian mengadakan program baru dengan mendirikan masjid-masjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal baru. Pada masa Aziz Billah dan Hakim Biamrillah, terdapat seorang mahaguru bernama Ibn Yunus yang menemukan pendulum dan ukuran waktu dengan ayunannya. Karyanya Zij al-Akbar al-Hakimi diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dia meninggal pada tahun 1009 M dan penemuan-penemuannya diteruskan oleh Ibn Al-Nabdi (1040) dan Hasan Ibn Haitham, seorang astronom dan ahli optika. Yang disebut terakhir menemukan sinar cahaya datang dari objek ke mata dan bukan keluar dari mata lalu mengenai benda luar.

Pada masa pemerintahan Al-Hakim (996-1021 M), didirikan Bait al-Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al-Ma’mun di Baghdad. Dilembaga ini banyak sekali koleksi-koleksi buku.  Lembaga ini juga merupakan pusat pengkajian astronomi, kedokteran, dan ajaran-ajaran Islam terutama Syi’ah.

Pada masa-masa selanjutnya, dinasti Fathimiah mulai mendapat ganguan-gangguan politik. Akan tetapi, Kairo tetap menjadi sebuah kota besar dan penting. Ketika jayanya, Kairo terdapat kurang lebih 20.000 toko milik khalifah, penuh dengan barang-barang dari dalam dan luar negeri. Khalifah-khalifah, tempat-tempat pemandian, dan sarana umum lainnya banyak sekali didirikan oleh penguasa. Istana khalifah dihuni oleh 30.000 orang, 12.000 diantaranya adalah pembantu, 1.000 pengawal berkuda.

Dinasti Fathimiah ditumbangkan oleh dinasti Ayyubiah yang didirikan oleh Shalah Al-Din, seorang pahlawan Islam terkenal dalam perang salib. Ia tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh dinasti Fathimiah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syi’ah kepada Sunni. Ia juga mendirikan lembaga-lembaga ilmiah baru, terutama masjid yang dilengkapi dengan tempat belajar teologi dan hukum. Karya-karya ilmiah yang muncul pada masanya dan sesudahnya adalah kamus-kamus biografi, kompendium sejarah, manual hukum, dan komentar-komentar teologi. Ilmu kedokteran diajarkan di rumah-rumah  sakit. Prestasinya yang lain adalah didirikannya sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat pikiran.

Kekuasaan Ayyubiah di Mesir diambil alih oleh dinasti Mamalik. Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasaannya dari serangan bangsa Mongol dan mengalahkan tentara Mongol itu di Ayn Jalut di bwah pimpinan Baybars. Meskipun bukan sultan yang pertama,  Baybars (1260-1277 M) dapat dikatakan sebagai pendiri sebenranya dinasti ini. Sebagaimana Shalah Al-Din, ia juga pahlawan Islam terkenal dalam perang salib. Pada masa itu, Kairo menjadi satu-satunya pusat peradaban Islam yang selamat dari serangan Mongol. Oleh karenanya, Kairo menjadi pusat peradaban dan kebudayaan Islam terpenting. Baybars memugar bangunan-bangunan kota, merenovasi Al-Azhar, dan pada tahun 1261 M mengundang keturunan Abbasiyah untuk melanjutkan khilafahnya di Kairo. Dengan demikian, prestise kota ini semakin menanjak. Banyak bangunan didirikan dengan arsitektur yang indah-indah pada masanya dan masa-masa kekuasaan dinasti Mamalik berikutnya. Kejayaan dinasti Mamalik memang berlangsung agak lama. Pada tahun 1517 M, dinasti ini dikalahkan oleh kerajaan Usmani yang berpusat di Turki dan sejak itu Kairo hanya menjadi ibu kota provinsi dari kerajaan Usmani tersebut.

Sumber :
Dr. Badri Yatim, M.A.”Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta:2008.

Thursday, 23 February 2012

Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama



Sekurang-kurangnnya ada tiga alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Ketiga alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.

1.     Latar Belakang Fitrah Manusia
Kenyataan manusia memiliki fitrah keagamaan pertama kali ditegaskan dalam ajaran Islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia. Sebelumnya, manusia belum mengenal kenyataan ini. Baru di masa akhir-akhir ini, muncul beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkannya. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan fitrahnya itu. Dalam konteks ini kita dapat melihat ayat al-qur’an surat Ar-Ruum ayat 30 yang artinya: “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplaj atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu”.


Adanya potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis dari istilah insan yang digunakan Al-qur’an untuk menunjukkan manusia. Musa Asy’ari menyatakan bahwa manusia (insan) adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya. Manusia (insan) secara kodrati sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya sudah dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya. Lebih lanjut, pengertian manusia yang disebut insan, yang dalam al-qur’an dipakai untuk menunjukkan lapangan kegiatan manusia yang amat luas adalah terletak pada kemampuan menggunakan akalnya dan mewujudkan pengetahuan konseptualnya dalam kehidupan konkret. Hal demikian berbeda dengan kata basyar yang digunakan al-qur’an untuk menyebut manusia dalam pengertian lahiriahnya yang membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, hidup dan kemudian mati. 


Informasi mengenai potensi beragama yang dimiliki manusia itu dapat pula dijumpai dalam al-qur’an surat Al-A’raf ayat 172 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukanlah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”


Berdasarkan informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk nabi dalam salah satu hadisnya yang mengatakan bawha setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. 


Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat dilihat melalui bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan, sungguhpun Tuhan yang mereka percayai itu terbatas pada daya khayalnya. Misalnya saja, mereka mempertuhankan benda-benda alam yang menimbulkan kesan misterius dan mengagumkan serta memiliki kekuatan yang selanjutnya mereka jadikan Tuhan, kemudian kepercayaan ini disebut dengan dinamisme. Selanjutnya, kekuatan misterius tersebut mereka ganti istilahnya dengan ruh atau jiwa yang memiliki karakter dan kecenderungan baik dan buruk yang selanjutnya mereka beri nama agama animisme. Roh dan jiwa itu selanjutnya mereka personifikasikan dalam bentuk dewa yang jumlahnya banyak dan selanjutnya disebut agama politeisme. Kenyataan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi bertuhan. Namun karena potensi tersebut tidak diarahkan, maka mengambil bentuk bermacam-macam yang keadaanya serba relatif. Dalam keadaan demikian itulah para nabi diutus kepada mereka untuk menginformasikan bahwa Tuhan yang mereka cari itu adalah Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana juga dinyatakan dalam agama yang disampaikan para nabi. Dengan demikian, sebutan Allah bagi Tuhan bukanlah hasil khayalan manusia dan bukan pula hasil seminar, penelitian, dan sebagainya. Sebutan atau nama Allah bagi Tuhan adalah disampaikan oleh Tuhan sendiri. 


Ketika kita mengkaji paham hulul dari Al-Hallaj (858-922 M). Misalnya kita jumpai pendapatnya bahwa pada diri manusia terdapat sifat dasar ke-Tuhanan yang disebut lahut, dan sifat dasar kemanusiaan yang disebut nasut. Demikian pula pada diri Tuhan pun terdapat sifat lahut dan nasut. Sifat lahut Tuhan mengacu pada dzat-Nya, sedangkan sifat nasut Tuhan mengacu pada sifat-Nya. Sementara itu sifat nasut manusia mengacu kepada unsur lahiriah dan fisik manusia, sedangkan sifat lahut manusia mengacu kepada unsur batiniah dan Ilahiah. Jika manusia mampu meredam sifat nasutnya maka yang tampak adalah sifat lahutnya. Dalam keadaan demikian terjadilah pertemuan anatara nasut Tuhan dengan lahut manusia, dan inilah yang dinamakan hulul.

2.     Kelemahan Dan Kekurangan Manusia
Faktor lain yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adala karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Hal ini antara lain diungkapkan oleh kata an-nafs. Menurut Quraish Shihab, bahwa dalam pandangan al-qur’an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang  berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh al-qur’an dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar. Seperti yang tertera dalam al-qur’an surat Al-Syams ayat 7-8 yang artinya: “Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan.”


Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Tetapi kata nafs dalam pandangan kaum sufi merupakan sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan periaku buruk. Pengertian kaum sufi tentang nafs  ini sama dengan yag terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa yang antara lain menjelaskan bahwa nafs adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik. Selanjutnya, Quraish Shihab mengatakan, walaupun al-qur’an menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun doperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada daya tarik negatifnya, hanya aja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Untuk menjaga kesucian nafs ini manusia harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan dengan bimbingan agama, dan di sinilah letaknya kebutuhan manusia terhadap agama.

3.     Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan, sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang  dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang di dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Seperti yang tertera dalam al-qur’an surat Al-anfal ayat 36 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.”


Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehinga upaya mengagamakan masyarakat menjadi penting.

Sumber :
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 2010.

Tahukah Anda, Pengertian Dari Agama ?


Secara sederhana pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasaan (etimologi) dan sudut isltilah (terminologi). Mengartikan agama dari sudut pandang kebahasaan akan terasa lebih mudah daripada mengartikan agama dari sudut pandang istilah karena subjektivitas dari orang yang mengartikannya.
Pengetian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti antara lain uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya, dalam masyarakat Indonesia dari kata agama, dikenal pula kata din yang berasal dari bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa. Menurutnya, agama berasal dari kata Sanskrit. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata, a=tidak dan gam=pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Hal demikian menjukkan pada salah satu sifat agama, yaitu diwarisi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci, dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa agama berarti tuntutan. Pengertian ini tampak menggambarkan salah satu fungsi agama sebagai tuntutan bagi kehidupan manusia.
Selanjutnya din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang di dalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut agama yang bersangkutan. Selanjutnya agama juga menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama. Agama lebih lanjut membawa utang yang harus dibayar oleh para penganutnya. Paham kewajiban dan kepatuhan ini selanjutnya membawa kepada timbulnya paham balasan. Orang yang menjalankan kewajiban dan patuh kepada perintah agama akan mendapatkan balasan yang baik dari Tuhan. Sedangkan orang yang tidak menjalankan kewajiban dan ingkar terhadap perintah Tuhan akan mendapat balasan yang menyedihkan.
Selanjutnya kata religi berasal dari bahasa Latin. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, bahwa asal kata religi adalah relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian itu sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus di baca. Tetapi menurut pendapat lain, religi berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam agama selanjutnya terdapat pula ikatan antara roh manusia dengan Tuhan, dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Tuhan.
Dari beberapa definisi tersebut, akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa intisari yang terkandung dalam istilah-istilah di atas adalah ikatan. Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera.
Adapun pengertian agama dari segi istilah dapat dikemukakan sebagai berikut. Elizabet K. Nottingham dalam bukunya Agama dan Masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gejala yang begitu sering terdapat dimana-mana sehingga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Lebih lanjut, Nottingham mengatakan bahwa agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulkan khayalnya yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri. Sementara itu Durkheim mengatakan bahwa agama adalah pantulan dari solidaritas sosial. Bahkan kalau dikaji, katanya, Tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat.
Kemudian kaum sosiolog mendefinisikan agama dari kenyataannya yang  bersifat lahiriah dan bukan dari aspek batiniahnya. Pengertian agama yang dibangun oleh kaum sosiolog bertolak dari das sein, yakni agama yang dipraktikkan dalam kenyataan empirik yang terlihat, dan bukan berangkat dari aspek das sollen, yakni agama yang seharusnya dipraktikkan dan secara normatif teologis sudah pasti baik adanya. Agama dalam kenyataan empirik ini bisa jadi berbeda dengan agama yang terdapat pada aspek batinnya yang bersifat substantif. Kita mengetahui bahwa substansi dan misi agama akan menjadi aktual ketika agama tampil dalam bentuk yang nyata, bisa dikenali manusia, dan lebih jauh lagi adalah bahwa dengan bentuk itu substansi agama menjadi fungsional dan operasional.
Hubungan antara substansi agama dengan bentuknya yang tampil dalam kenyataan lebih lanjut menjadi bahan kajian kaum perenialis. Pendekatan perennial terhadap agama, apa pun namanya, selalu menghubungkan dengan substansinya, yaitu inti ajaran agama yang keberadaannya berada di balik bentuk formanya. Substansi ini bersifat transenden tetapi juga sekaligus imanen. Ia transenden, karena substansi agama sulit didefinisikan dan tidak terjangkau kecuali melalui predikat atau bentuk formanya yang lahiriah. Namun begitu, agama juga bersifat imanen karena sesungguhnya hubungan antara predikat dan substansi tidak mungkin dipisahkan. Kalau saja substansi agama bisa dibuat hierarki, maka substansi agama  yang paling primordial hanyalah satu. Ia bersifat perennial, tidak terbatas karena ia merupakan pancaran dari yang mutlak. Ibarat air, substansinya adalah satu tetapi bisa saja kehadirannya mengambil bentuk berupa lautan, uap, mendung, hujan, sungai, kolam, embun dan lain sebagainya.
Kemudian Schoun mengatakan, “bahwa setiap agama memiliki satu bentuk dan satu substansi.” Bentuk agama adalah telatif, namun di dalamnya terkandung muatan substansi yang mutlak. Karena agama merupakan gabungan antara substansi dan bentuk, maka agama kemudian menjadi sesuatu yang absolut tetapi sekaligus relatif, yakni absolut substansinya dan telatif bentuknya. Dengan demikian, definisi agama yang dikemukakan para sosiolog termasuk ke dalam definisi yang bersifat relatif dilihat dari segi bentuknya, sedangkan absolut dilihat dari segi substansi yang terkandung di dalamnya.
Selanjutnya, Harun Nasution mengatakan bahwa agama dapat diberi definisi sebagai berikut :
  1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
  2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
  3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
  4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
  5. Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari kekuatan gaib.
  6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib.
  7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
  8. Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.
Dari beberapa definisi tersebut, kita dapat menjumpai 4 unsur yang menjadi karakteristik agama sebagai berikut :
Pertama, unsur kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Kekuatan gaib tersebut dapat mengambil bentuk yang bermacam-macam. Dalam agama primitif, kekuatan gaib tersebut dapat mengambil bentuk benda-benda yang memiliki kekuatan misterius (sakti), ruh atau jiwa yang terdapat pada benda-benda yang memiliki kekuatan misterius; dewa Tuhan atau Allah dalam istilah yang lebih khusus dalam agama Islam.
Kedua, unsur kepercayaan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia ini dan di akhirat nanti tergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud. Dengan hilangnya hubungan yang baik itu, kesejahteraan dan kebahagiaan yang dicari akan hilang pula. Hubungan baik ini selanjutnya diwujudkan dalam bentuk peribadatan, selalu mengingat-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ketiga, unsur respon yang bersifat emosional dari manusia. Respon tersebut dapat mengambil bentuk rasa takut, seperti yang terdapat pada agama primitif, atau perasaan cinta seperti yang terdapat pada agama-gama monoteisme. Selanjutnya, respon tersebut dapat pula mengambil bentuk penyembahan seperti yang terdapat pada agama-agama monoteisme dan pada akhirnya respon tersebut mengambil bentuk dan cara hidup tertentu bagi masyarakat yang bersangkutan.
Keempat, unsur paham adanya kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan, tempat-tempat tertentu, peralatan untuk menyelenggarakan upacara, dan sebagainya.
Dari uraian tersebut kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa agama adalah ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun temurun diwariskan oleh suatu generasi ke generasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang di dalamnya mencakup unsur kepercayaan kepada kekuatan gaib yang selanjutnya menimbulkan respon emosional dan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup tersebut tergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan gaib tersebut.
Dari kesimpulan tersebut dapat dijumpai adanya 5 aspek yang terkandung dalam agama, antara lain sebagai berikut:
  1. Aspek asal-usulnya. Yaitu adanya yang berasal dari Tuhan seperti agama samawi, dan ada yang berasal dari pemikiran manusia seperti agama ardli atau agama kebudayaan.
  2. Aspek tujuannya. Yaitu untuk memberiktan tuntunan hidup agar bahagia di dunia dan akhirat.
  3. Aspek ruang lingkupnya. Yaitu keyakinan akan adanya kekuatan gaib, keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib, respon yang bersifat emosional, dan adanya yang dianggap suci.
  4. Aspek permasyarakatannya. Yaitu disampaikan secara turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi lain.
  5. Aspek sumbernya. Yaitu kitab suci.

Sumber :
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 2010.

Beberapa Tips Untuk Mewarnai Rumah


Mewarnai rumah ternyata tidak sesederhana yang kita kira. Salah warna, dampaknya akan berbeda. Berikut adalah tips dari desainer interior David Bromstad:

Pilih furnitur dengan warna netral
Bila Anda mencari cara murah untuk memperbarui penampilan ruangan, pilihlah furnitur besar dengan warna yang netral. Sang perabot akan memudahkan Anda untuk mengubah warna cat, sarung bantal, gorden, dan aksesori lainnya.

Aksesori sebagai inspirasi warna
Jadikan permadani, bantal kursi, pajangan lain yang menjadi favorit Anda sebagai inspirasi warna. Ambil warnanya sebagai pilihan cat dinding, kain gorden, dan hiasan tambahan untuk ruangan yang sama.

Izinkanlah perasaan Anda jadi pemandu
Bila Anda tipe orang yang emosional, pilih warna yang mencerminkan suasana hati Anda. Warna-warna ‘panas’ seperti merah dan oranye akan memberi semangat Anda untuk menjalani hari-hari yang sibuk. Warna ‘dingin’ seperti hijau dan biru akan membuat Anda santai dan tenang. Untuk mendapatkan penampilan formal, pilihlan warna yang sangat kontras seperti cokelat tua dan perak.

Cat sampel
Bila Anda ragu memilih warna dinding, gunakan cat sampel di dinding dengan beberapa warna. Biarkan beberapa hari untuk melihat perbedaan dampaknya terhadap perubahan cahaya.

Aksen tertentu
Satu aksen berwarna tertentu di dinding akan menjadi focal point ruangan. Dampaknya, memberi sentuhan beda tanpa harus menyapu satu warna tersebut untuk seluruh ruangan.

Ulangi satu atau beberapa warna
Buatlah aliran warna di seluruh ruangan dengan mengulangi satu warna atau beberapa warna dari satu ruang ke ruang berikutnya. Misalnya, dinding ruang keluarga berwarna biru, gunakan aksen kaca biru di ruang sebelahnya.

Aksen kecil
Ulangi warna dari satu dinding yang menjadi pusat dari ruangan dengan aksen-aksen kecil di seluruh ruangan yang bisa membuat seluruh ruangan menjadi satu. Upayakan menyebar warna itu dalam porsi kecil di dinding lain seperti hiasan di meja konsul yang merapat di dinding tersebut.

Tambahkan aksesori seperti bantal
Bila rampung menebar warna di ruangan namun Anda masih merasa ada yang kurang, cobalah saran ini. Tambahkan bantal, bingkai lukisan atau foto, aksen kaca berwarna hitam. Tujuannya untuk menguatkan warna-warna lain di dalam ruangan itu.

Pilih rentangan warna cokelat
Bila Anda kesulitan memilih warna untuk ruangan Anda, cara amannya adalah pilihlah rentangan warna cokelat. Letakkan sesuatu di dalam ruangan itu sebuah benda tambahan berukuran besar dengan warna yang berani.

Sumber : Republika.co.id

Beberapa Makanan dan Minuman yang Membuat Perut Bermasalah


Untuk Anda yang kerap mengalami masalah perut, sebelum menenggak obat-obatan yang tidak jelas, cobalah untuk mewaspadai berbagai makanan dan minuman yang Anda konsumsi. Boleh jadi, dari makanan dan minuman itulah, sumber masalah yang membuat perut bergejolak.


Konsumsi Air
Mengonsumsi terlalu banyak atau terlalu sedikit air bisa berpengaruh pada masalah pencernaan. Terlalu banyak dapat membuat Anda bolak-balik ke kamar mandi, sedangkan terlalu sedikit air bisa juga memicu infeksi. Tanyakan pada dokter Anda, jumlah yang pas untuk Anda konsumsi. Namun, biasanya disarankan meminum 6-8 gelas per hari.


Alkohol
Minuman ini harus dihindari dengan berbagai alasan. Untuk urusan pencernaan, alkohol merangsang kerja perut dan menghambat kontrol gerak pencernaan. Alkohol juga membuat tubuh cepat merasakan dehidrasi yang pada akhirnya membuat iritasi perut.


Kafein
Intinya, adalah kafein. Bentuknya bisa berupa kopi, teh, soda, minuman berenergi, sampai cokelat yang mengandung kafein dalam jumlah besar. Kafein mengandung zat stimulan yang dapat membuat pencernaan lebih aktif dan membuat Anda pipis lebih sering. Cobalah mengganti kopi yang tanpa kafein dan menyantap cokelat yang sedikit kafein seperti cokelat putih.


Zat Asam
Biasanya, ini terdapat dalam buah-buahan seperti jeruk dan jus yang bisa mengiritasi perut. Buah lainnya seperti lemon, anggur, nanas, hingga tomat.


Makanan Pedas
Makanan seperti ini dapat mengiritasi dinding pencernaan dan membuat sulit kendali gerak perut. Namun, tidak berarti makanan Anda melulu santapan lunak dan tawar. Tambahkan bumbu khusus, bawang, atau bahan-bahan lain dalam makanan Anda untuk menambah cita rasa.


Pemanis
Sejumlah pemanis bisa menjadi masalah untuk pencernaan yang sensitif. Pemanis dapat memperburuk gejala dan memicu iritasi lebih sering. Seperti makanan pedas, Anda harus mencari tahu jenis pemanis yang bikin perut Anda bermasalah.


Bawang
Agar bersahabat dengan bawang, cobalah untuk memasak bawang lebih dulu. Selain itu bisa juga memakan bawang dalam jumlah lebih sedikit atau tanpa bawang sama sekali.


Olahan Susu
Makanan ini bisa tampil dalam bentuk keju sampai krim yang bisa memicu masalah pencernaan. Pastikan olahan susu yang memang membuat perut Anda bermasalah.


Makanan Olahan
Beberapa makanan olahan terbukti tak baik untuk kesehatan, terlebih untuk mereka yang mengalami masalah pencernaan. Bahan pengawet pun memperburuk keadaan pencernaan dan memperparah gejala yang muncul. Cobalah baca label nutrisi dalam makanan dan berusahalah untuk memasak sendiri makanan Anda.


Saus, Kecap, Cuka
Tambahan makanan seperti ini juga dapat membuat iritasi pencernaan. Jika memungkinkan, hindari saja penyedap rasa seperti ini dan gantilah dengan bahan makanan lain yang bisa berfungsi serupa.


Sumber : Republika.co.id