Sunday, 4 March 2012

Harapan Kecilku


Sebuah Harapan akan keindahan tak lagi menemani
Ketika sebuah kehampaan berubah menjadi duri.
Sebuah kisah kini tlah mati
Menyisakan luka yang teramat dalam di hati.
Dimanakah dia yang kini tlah pergi???
Bayangan kasihmu slalu menghantui,
Lambayan cintamu begitu mengikat di dalam hati,
Menyisakan airmata yang tertumpah di pipi.
Kasih bila engkau kan kembali,
Bawalah hati dan cinta yang kau bawa pergi.
Bila kau tlah tiada di bumi,
Ku ingin kau kembalikan hati yang suci
Bersama sebercak mentari di pagi hari.


Cinta Di Ambang Pintu
Cinta diabang pintu bagai duri sembilu, tertusuk di hati ku
Kau datang saat ku rapuh
Kau pergi saat ku berharap
Dan kau tinggalkan ku saat ku membutuhkan mu
Tahukah kamu betapa sakit hatiku
Saat kau tinggalkan ku untuk nya
Dia sahabatku adalah orang yang kau cinta
Dia sahabatku adalah orang yang kau sayang
Dan dia sahabatku adalah orang yang kau pilih
Kini ku sadari semuanya tinggal mimpi
Cinta yang suci telah menusuk hati
Cinta yang ku tanam telah menjadi duri
Dan cinta itu telah terhapus terbawa arus

Cinta Yang Berlalu
Cinta.. begitu maniskah ketika datang
Dipuja disanjung dikata tiap detik
Begitu mudah dikorbankan bila atas nama cinta
Tawa ceria hiasi mereka..
… Tapi bila cinta pergi
Dihujat dicaci ditangisi
Lalu Sesali semua yang terjadi
Tak dapat terobati walau sejuta obat di nanti
Maka itu cinta terlalu jangan terjadi
Kita camkan hanya manusia
Tuhanlah pemilik cinta
Dan kita tak berhak memiliki dan memaki…


Saturday, 3 March 2012

Hanya keputusasaan dan keraguan


Ketika semula berawal dari sebuah kerisauan..
Yang tak mungkin berlalu dengan cepat..
Ketika itu kau mendera ..
Yang menganggap semua ada..

Hanya keterbatasan dan pilihan..
Hanya keputusasaan dan keraguan..
Hanya kerinduan namun tak tersampaikan..

Bilamana gunung kan beranjak..
Lembah pun selintas terlewati..
Tak sedikitpun langkah waktu kan mengurai tegas..
Namun khayalan begitu jelas..
Hanya pada satu kisah..
Dan begitulah kisahnya..

Perumpamaan Tumbuhnya Tanaman dalam Al-qur’an




Seperti Bangkitnya Manusia dari Kubur


Jika kita mau menganalisa atau melakukan observasi terhadap tumbuhnya tanaman yang ada di sekitar kita, kita akan sadar terhadap terjadinya hati kebangkitan. Oleh karena itu, al-qur’an melukiskan bangkitnya manusia dari dalam kubur seperti tumbuhnya tanaman, sebagaimana yang di jeaskan dalam surat Qaaf ayat 11 yang artinya : “Dan kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Serperti itulah terjadinya kebangkitan.”


Di dalam tafsir Shawiy disebutkan bahwa keluarnya manusia dari kubur ini sama prosesnya dengan tumbuhnya tanaman. Tanaman bisa tumbuh subur jika disiram dengan air, begitu juga yang terjadi pada hari kebangkitan. Sebelum Allah membangkitkan manusia dari dalam kuburnya, Allah menyirami permukaan alam ini dengan menurunkan hujan, yang airnya seperti sperma. 


Tatkala seluruh makhluk telah mati semua, sehingga tidak ada satupun makhluk yang masih hidup, baik yang ada di bumi maupun di langit, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-qur’an surat ar-Rahman ayat 26 dan 27 yang artinya : “Semua yang ada di bumi itu akan mati. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” 


Kemudian Allah berfirman tiga kali dalam surat al-Mukmin ayat 160 yang artinya : “Kepunyaan Siapakah kerajaan pada hari ini.” Maka tidak ada satupun makhluk yang menjawabnya. Kemudian Allah swt berfirman untuk menjawab diri-Nya sendiri dalam suraat al-Mukmin ayat 16 yang artinya : “Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa Lagi Maha Mengalahkan.”


Setelah itu Allah swt berfirman : “Aku adalah Rajadiraja. Dimana para raja itu?, di mana orang-orang yang sombong dan takabur?, di manakah orang yang memakan rizqi-Ku dan menyembah selain aku?”


Dunia dalam keadaan sepi kira-kira selama 40 tahun. Ketika Allah menghendaki untuk menghidupkan kembali makhluk-Nya, maka Ia menciptakan sebuah lautan yang ada di bawah Arasy, yang airnya seperti mani lelaki. Laut itu namanya Laut Penghidupan. Dari laut tersebut terjadilah hujan di atas permukaan dunia kira-kira selama 40 hari.


Sesudah itu, tumbuhlah jasad-jasad manusia dari dalam bumi, sebagaimana tumbuhnya kacang pada musim semi. Nabi Saw pernah bersabda: “Seluruh anggota tubuh makhluk sudah hancur, kecuali tiga tulang. Maka tumbuhlah jasad atas tulang-tulang tersebut, kemudian berkembanglah jasad-jasad itu dengan seizin Allah.”


Allah menghidupkan Israfil terlebih dahulu sebelum menghidupkan seluruh makhluk. Lalu Allah memerintahkan kepada Israfil untuk meniup sangkakala, dengan tiupan yang membangkitkan. 


Tatkala meniup sangkakala, Israfil berkata: “Wahai tulang-tulang yang sudah hancur dan kulit-kulit yang sudah rusak, bangkitlah kalian semua untuk dihisab.” Maka tampaklah para makhluk itu mengangkat kepalanya, sebagaimana orang bangun dari tidurnya. Kemudian manusia-manusia yang telah dibangkitkan dari kuburnya tadi mengucapkan “Aduh ... kerusakanku..”


Menurut hukum alam, setiap tanaman itu akan tumbuh menurut jenis benih yang ditanamnya. Jika yang ditanam itu benih padi maka akan tumbuh tanaman padi, begitu seterusnya. Demikian pula yang terjadi pada hari kebangkitan. Jika semasa hidupnya ia berlaku baik, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka pada saat hari kebangkitan ia akan menuai hasil dari kebaikan yang pernah dijalankan sewaktu di dunia. Sebaliknya, jika semasa hidupnya ia suka berlaku dzalim, berbuat durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, mengkufuri Allah dan senang berbuat maksiat, maka pada saat hari kebangkitan ia akan merasakan hasil dari kedzaliman dan kekufuran yang pernah ia lakukan sewaktu di dunia tersebut.


Ketika seluruh makhluk di bangkitkan dari dalam kuburnya maka keluarlah orang-orang kafir dari kuburnya dalam keadaan tanpa alas kaki dan telanjang bulat.


Di dalam hadis yang bersumber dari Mu’adz bin Jabal r.a, dimana ia menerima hadis tersebut langsung dari Nabi saw, bahwasanya beliau pernah bersabda: “Ketika terhadi hari kiamat, (yang disebut) sebagai hari kerugian dan penyesalan, maka Allah swt mengumpulkan umatku dari dalam kuburnya menjadi 12 golongan:


Golongan Pertema, mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan tidak memiliki tangan dan kaki. Lalu ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah (Gambaran) orang-orang yang (suka) menyakiti tetangga. Tempat tinggal mereka adalah neraka.”


Golongan Kedua, mereka dikumpulkan dari dalam kuburnya dengan berbentuk binatang. Ada yang mengatakan bahwa binatang tersebut adalah babi. Kemudia ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka adalah orang-orang yang meremehkan shalat, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah balasan untuk mereka. Tempat kembali mereka adalah neraka.”


Golongan Ketiga, mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan perutnya (membuncit) seperti gunung, yang dipenuhi oleh ular dan kalajengking, mereka itu seperti keledai. Lalu ada seruan dari Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mau membayar zakat, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, sedangkah tempat mereka kembali adalah ke neraka. 


Golongan Keempat, mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan mulunya mengalir darah sedangkan usunya kengser di bumi, serta api itu keluar dari mulutnya. Lalu ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang pendusta di dalam jual beli, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka. Tempat kembali mereka adalah neraka.


Golongan Kelima, mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan berbau busuk. Kemudian ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang menyimpan kemaksiatan dengan samar (dari hadapan) manusia, dia tidak takut di hadapan Alah, mereka mati sebelum bertaubat. Maka ini balasan buat mereka. Tempat kembali mereka adalah neraka.


Golongan Keenam, mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan terpotong tenggorokannya dari arah tengkuk. Lalu ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang bersaksi dengan kebohongan dan dusta, mereka mati sebelum bertaubat. Tempat kembali mereka adalah neraka. 


Golongan Ketujuh, mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan tidak memiliki lidah, sedang dari mulutnya mengalir darah dan nanah. Kemudian ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang mencegah untuk memberikan kesaksian yang benar, mereka mati sebelum bertaubat. Maka inilah balasan bagi mereka, sedangkan tempat kembalinya adalah neraka. 


Golongan Kedelapan, mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan menundukkan kepalanya, sedangkan jari-jari kaki mereka berada di atas kepalanya, serta dari farjinya mengalir nanah bercampur darah dan nanah kental. Lalu ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang ahli zina, mereka mati selebum bertaubat. Maka inilah balasan buat mereka. Sedangkan tempat kembali mereka adalah neraka. 


Golongan Kesembilan, mereka di kumpulkan dari kuburnya dalam keadaan wajahnya hitam legam, matanya melotot serta perutnya penuh dengan api. Kemudia ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang (suka) mamakan harta anak yatim secara aniaya, mereka mati sebelim bertaubat. Sedangkan tempat kembali mereka adalah neraka.


Golongan Kesepuluh, mereka di kumpulkan dari kuburnya dalam keadaan berpenyakit kusta dan belang. Lalu ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang mendurhakai kedua orang tuanya, mereka mati sebelum bertaubat. Tempat kembali mereka adalah neraka.


Golongan Kesebelas, mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan buta hatinya, gigi-giginya berupa tanduk sapi, bibir mereka menjuntai ke atas dada, lidahnya menjulur ke atas perut, perutnya melorot hingga ke atas paha, serta dari perut mereka keluar kotoran. Kemudian ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang suka minum-minuman keras, mereka mati sebelum bertaubat. Sedangkan tempat kembalinya adalah neraka.”


Golongan Keduabelas, mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan wajah bagai bulan di malam purnama. Mreka ini melewati shirath seperti kilat yang menyambar. Kemudian ada seruan dari sisi Dzat Yang Maha Penyayang: “Mereka ini adalah orang-orang yang beramal saleh dan menjauhi kemaksiatan, menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah, dan mereka mati dalam keadaan bertaubat. Sedangkan tempat kembali mereka adalah surga. Meraka berada dalam pengampunan, keridhaan, rahmat serta kenikmatan. Karena sesungguhnya mereka itu telah ridha kepada Allah swt dan Allah (juga) ridha kepada mereka. 


Itulah di antara ilustrasi yang terjadi pada hari kebangkitan, dimana prosesnya sama dengan tumbuhnya tanaman. Oleh karena itu, tepat sekali bila Al-qur’an menganalogikan tumbuhnya tanaman itu seperti bangkitnya manusia dari kubur. Semoga kita di bangkitkan dari kubur dalam keadaan selamat serta dijauhkand dari aneka siksa yang menyakitkan.

Fuad Kauma. Tamsil Al-Qur’an. Mitra Pustaka: Yogyakarta. 2000.

Tujuan Dibuatnya perumpamaan




Diantara tujuan dibuatnya perumpamaan atau tamsil dalam al-qur’an adalah agar manusia mau melakukan kajian terhadap kandungan al-qur’an, baik yang berkaitan dengan ekosistem, ekologi, astronomi, anatomi, teologi, biologi, sosiologi dan ilmu-ilmu lain termasuk untuk mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami oleh umat-umat yang lampau. Semua ini adalah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah setelah melihat keagungan dan kekuasaan-Nya. 


Untuk melakukan kajian terhadap suatu masalah, orang harus berakal sehat dan berpengetahuan. Dengan sendirinya orang yang dungu dan tidak berilmu, tidak mungkin memahami tamsil yang disajikan al-qur’an, apalagi sampai melakukan kajian, jelas tidak mungkin. Oleh karena itu, orang yang bisa memahami makna yang tersirat maupun yang tersurat dalam tamsil al-qur’an, hanyalah orang-orang yang berilmu dan orang yang mau menggunakan nalarnya. Seperti disebutkan oleh Allah dalam surat al-Ankabut ayag 43 yang artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan itu hanya dibuatkan untuk manusia, tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”


Yang dimaksudkan dengan “Memahami” pada ayat diatas adalah mengetahui tentang faedah dan pelajaran yang bisa diambil dari tamsil yang disajikan oleh al-qur’an tersebut, dan ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berilmu.


Demikian diantara tujuan dibuatnya ayat-ayat tamsil dalam al-qur’an. Semoga kita bisa menyingkap misteri yang terkandung di dalamnya.

Fuad Kauma. Tamsil Al-Qur’an. Mitra Pustaka: Yogyakarta. 2000.

Anjuran Untuk Memperhatikan Perumpanaan




Al-qur’an telah menyerukan kepada umat manusia untuk memperhatikan tamsil-tamsil, sebab dari situlah akan ditemukan suatu kebenaran yang hakiki mengenai kekuasaan Allah, Yang Maha Pencipta lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu. Disamping itu, tamsil juga sebagai sarana untuk menginterpretasikan permasalahan atau peristiwa yang belum dipahami oleh umat manusia. 


Tidak sedikit orang yang salah jalan menjadi sadar setelah memperhatikan ayat-ayat tamsil. Karena di dalam ayat tersebut banyak di dapati pelajaran yang sangat berharga, terutama yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan keimanan. Di dalam ayat-ayat tamsil juga dapat ditemukan berbagai karakter umat manusia dalam pertahankan ideologi masing-masing. Dari situ nantinya dapat kita ketahui konsekuensi orang-orang yang menolak ideologi Tauhid. Mereka dianalogikan oleh al-qur’an seperti binatang. Dan banyak lagi hal yang menarik yang perlu dipelajari dari ayat-ayat tamsil. Sebagaimana dalam surat al-Hajj ayat 73 yang artinya : “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah perumpamaan itu.” 


Apabila seseorang mau memperhatikan dengan seksama terhadap perumpamaan-perumpamaan (tamsil) yang ada, maka keimanannya akan kian teguh. Sebab di sana ia dapat menjumpai hal-hal yang belum diketahui sebelumnya sebagai manifestasi atas kekuasaan Allah. Meskipun demikian, adalah orang-orang kafir dan orang-orang fasiq yang memang telah sesat jalan hidupnya, hati dan akalnya, telah dikunci mati oleh Allah, mereka tidak bisa memahami sedikitpun tamsil-tamsil yang disajikan oleh al-qur’an.

Fuad Kauma. Tamsil Al-Qur’an. Mitra Pustaka: Yogyakarta. 2000.