Thursday, 8 March 2012

Asal Usul Penduduk Pulau Jawa




Menurut Suyono, dari karya Van Hien, menyebutkan bahwa keterangan terbaik mengenai keadaan geologi pulau Jawa dapat ditemukan  dalam tulisan kuno Hindu yang menyatakan bahwa Jawa sebelumnya adalah pulau-pulau yang diberi nama Nusa Kendang yang menjadi bagian dari India. Pulau ini merupakan hamparan dari beberapa pulau yang kemudian karena letusan gunung-gunung berapi dan goyangan dahsyat gempa bumi pulau-pulau itu bersatu. Babad itu menceritakan bahwa pada tahun 296 sesudah Masehi terjadi letusan gunung-gunung berapi yang berada di pulau itu, sehingga gunung yang semula ada menjadi hilang dan memunculkan gunung-gunung berapai yang baru.


148 tahun kemudian. Tepatnya pada 444 sesudah Masehi terjadi gempa bumi yang memisahkan Tembini, daerah bagian selatan pulau Jawa menjadi pulau tersendiri: Nusa Barung dan Nusa Kambangan. Tahun 1208 pulau Sumtera karena suatu musibah gempa juga terpisah dengan pulau Jawa. Begitu juga pada tahun 1254, Madura yang semula bernama Hantara mengalami kejadian serupa, yang disusul kemudian pada 1293 pulau Balu yang terpisah dengan Jawa. 


Adapun para penghuni Pulau Jawa, seperti diceritakan dari sumber surat kuno yang tidak beredar, yaitu Serat Asal Keraton Malang berasal dari daerah Turki, tetapi ada yang menyebut daerah Dekhan (India). Pada tahun 350 SM, Raja Rum, pemimpin dari wilayah tersebut mengirim perpindahan penduduk sebanyak 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan. Yang dipimpin oleh Aji Keler. Pengiriman ini adalah pengiriman yang kedua, karena pengiriman yang pertama mengalami kegaalan dengan kembalinya seluruh utusan ke negeri asal yang terjadi pada tahun 450 SM. Jawa yang saat itu bernama Nusa Kendang ditemukan sebagai pulau yang ditutupi hutan dan dihuni serbagai jenis binatang buas dan tanah datarnya ditumbuhi tanaman yang dinamakan Jawi. Karena keseluruhan dataran pulau ini dipenuhi tanaman tersebut, maka ia meberi nama pulau ini dengan nama “Jawi”.


Karena nama Jawi masih umum dan meliputi seluruh daratan pulau ini, maka agak sulit menentukan lokasi pendaratan para utusan ini. Akan tetapi, diperkirakan pendaratan itu terjadi di Semampir, yaitu suatu tempat yang dekat dengan Surabaya saat ini. Gelombang kedua ini juga mengalami kegagalan karena yang tersisa dari mereka hanya 40 pasang. Hal ini mendorong Raja untuk mengirim utusan lagi dengan persiapan yang lebih matang dan penyeidaan alat yang lebih lengkap untuk menjaga dari kemungkinan serangan binatang buas seperti yang dialami utusan pertama dan kedua. Di samping peralatan pengamanan diri, mereka juga diperlengkapi dengan alat pertanian, sebagai alat bercocok tanam bila kelak berhasil menempatinya dengan aman. Sementara itu, untuk mencegah agar orang-orang supaya tidak melarikan diri, diangkatlah seorang pemimpin dari kalangan mereka yaitu Raja Kanna. Gelombang ketiga ini rupanya berhasil dan akhirnya mereka menyebar ke pedalaman yang terbuka di pulau Jawa. Dari sisi keyakinan, orang-orang gelombang ketiga ini menganut kepercayaan Animisme. Dari sumber lain menyebutkan bahwa penduduk Jawa berasal dari daratan Cina Selatan yang membanjiri pulau ini sejak 3 ribu tahun SM. Selama 2 ribu tahun kemudian terjadi perpindahan penduduk dari tempat yang sama. Penduduk Jawa menurut sumber ini berasal dari gelomnang-gelombang itu. Mereka hidup dari pertanian karena sebelumnya sudah mengenal persawahan. 


Pada tahun 100 SM terjadi lagi perpindahan penduduk keempat yang terdiri dari kaum Hindu-Waisya. Mereka itu adalah para petani dan pedagang yang karena permasalahan keyakinan mereka meninggalkan India. Warga pindahan kelompok keempat ini menetap di daerah Pasuruan dan Probolinggo. Kemudian mereka secara perlahan membuat koloni-koloni di bagian selatan pulau Jawa yang pusatnya terletak di Singosari. Ketika di Singosari, siapa yang memimpin tidak jelas, tetapi ada naskah yang menyatakan adanya Ratu yang memegang kekuasaan di daerah Kedi, namya Nyai Kedi. Singgasana kerajaan ini berada di Kediri. Pada tahun 900 sesudah M, keturunan Hindu-Waisya dimasukkan dalam kerajaan Mendang yang juga dinamakan Kamulan. Nama lain untuk Mendang dan Kamulan ini adalah Ngastina atau Gajah Huiya. Sedang raja yang memerintah di sana adalah Prabu Jayabaya. Dalam sejarah, kerajaan dengan rajanya yang menguasai seluruh wilayah Jawa Timur pada tahun 1019-1049 adalah Airlangga. Ia kemudian diganti Jaya Baya yang memerintah pada tahun 1135-1157 M. Di bawah kekuasaan Jaya Baya, Mpu Sedah menerjemahkan sebagian Epos India Mahabarata ke dalam Bahasa Jawa engan nama Baratayuda. Jaya Baya dikenal sebagai pemaklum ramalan-ramalan yang akan terjadi di pulau Jawa. Jayabaya kemudian memindahkan kerajaannya itu ke Kediri dan memberinya nama baru yaitu Doho. Raja Jayabaya ini dikenal sebagai ilmuan yang ramalan-ramalannya banyak terbukti terjadi di kemudian hari. Ia meramalkan apa yang akan terjadi di pulau Jawa hingga tahun 2074 M.


Ada cerita lain, bahwa pada tahun 78 sesudah Masehi ada seorang utusan dari kerajaan Astina, namanya Aji Saka. Astina adalah nama lain dari Gujarat. Nama Astina juga masuk dalam cerita pewayangan yang beredar di masyarakat Jawa. Kemudian, Aji Saka di utus untuk menyelidiki apa yang ada dan terjadi pada kepulauan di Nusantara. Sesampai di pulau tersebut, ia mendarat di bagian timur pulau Jawa yang saat tiu masih bernama Nusa Kendang. Kemudian Aji Saka menaklukkan kerajaan Mendang dan mengusir sang raja yang bernama Dewata Cengkar. Tetapi kemudian Aji Saka dikalahkan oleh Daniswara, putra Dewata Cengkar. Karena kalah, Aji Saka kembali ke Astina. Tahun 125 M, Aji Saka kembali lagi bersama gelombang perpindahan orang-orang Budha dan pada saat itulah ia berhasil menaklukkan kerajaan Mendang. Setelah kemenangan itu Aji Saka memindahkan pusat kerajaan ke Purwodadi. 


Bersamaan dengan datangnya Aji Saka, dimulailah Babad Jawa dan perhitungan Tahun Jawa. Dari Babad-babad itu diketahui, setelah tahun 125 M pertumbuhan penduduk semakin cepat oleh perpindahan kaum Budha. Para pendatang ini kemudian menempat di pantai selatan pulau Jawa yang bernama Barung dan Tembini. Sebagaimana disebutkan di atas, pada tahun 444 M terjadi gempa bumi dahsyat yang kemudian memecah pulau Jawa. Pantai bagian selatan terbagi dua, yaitu Nusa Barung yang berada di dekat Puger Kulon dan Nusa Kambangan yang berada di dekat Cilacap. 


Sebagaimana disebutkan dalam buku Suyono, secara berturut-turut perpindahan penganut Budha ke pulau Jawa terjadi sebagai berikut:
1.     Tahun 157 M. Yang menetap di daerah Jepara.
2.     Tahun 163 M. Yang menetap di daerah Tegal dan Banyumas.
3.     Tahun 174 M. Yang menetap di daerah Tengger.
4.     Tahun 193 M. Yang menetap di daerah Kedu.
5.     Tahun 216 M. Yang menempati daerah Madiun.
6.     Tahun 252 M. Yang menempati daerah Yogyakarta.
7.     Tahun 272 M. Yang menempati daerah Kediri.
8.     Tahun 295 M. Yang menempati daerah Ngawi dan Bojonegoro.
9.     Tahun 312 M. Yang menempati daerah Kudus.
10.  Tahun 314 M. Yang menempati daerah Mojokerto.
11.  Tahun 424 M. Yang menempati daerah Surakarta. 


Lebih lanjut, pada tahun 450 M terjadi lagi perpindahan penduduk dari India yang mendiami tanah yang terletak antara sungai Cisadane dan Citarum, di Jawa Barat. Para pendatang itu menganut agama Whisnu. Setelah beberepa lama tinggal di tempat tersebut, kemudian mereka membentuk kerajaan sendiri dan memilih seorang raja sebagai pemimpinnya. Rajanya yang dipilij adalah Purnawarman. Ia dikenal sebagai raja yang gagah dan berani karena ambisinya untuk menaklukan kerajaan-kerajaan lain di tanah Sunda. Meskipun tidak semuanya berhasil dengan kemenangan, Purnawarman dikenal sebagai raja pertama yang memimpin wilayah cukup luas di pulau Jawa. 


Peralihan penduduk selanjutnya terjadi pada tahun 643 M yang dilakukan oleh Kusuma Citra, keturunan Jaya Baya. Pada masa Kusuma Citra inilah Nama Astina dirubah menjadi kerajaan Gujarat atau Kujrat. Saat Kusuma Citra menjadi raja, ada suatu ramalan bahwa kerajaannya akan musnah, karenanya ia berkeinginan kuat untuk memindahkan kerajaannya ke Pulau Jawa. Oleh adanya keinginan itu, ia mengirim sejumlah 5.000 penduduk yang beragama Budha dengan pemimpin putranya Awab. Penduduk yang dikirim oleh Kusuma Citra itu terdiri dari Jalma Tani, Jalma Undagi, Jalma Udang Dudukan, Jalma Pangiarik, dan Jalma Prajurit. Pendaratan pertama di bagian barat tidak berhasil, kemudian mengubah haluan ke bagian timur dan berhasil mendarat di sana. Awab sebagai pemimpin kemudian mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Mendang Kamulan. Kemudian Awab menetapkan dirinya sebagai raja dengan gelar Brawijaya Sewala Cala. 


Sejarah tanah Jawa selanjutnya dapat ditemukan dalam Babad-babad yang menceritakan kelahiran kerajaan-kerajaan di Jawa. Namun demikian, sejarah tersebut penuh dengan mitos dan tampaknya kurang dapat diterima karena versinya yang amat beragam. Terlebih ada motif tertentu dari seroang raja memerinth seroang Mpu atau pujangga untuk menyusun silsilahnya sampai kepada nabi Adam yang dimaksudkan untuk semakin mentahbiskan dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi. Penegasan silsilah itu dimaksudkan untuk semakin memperteguh kewibawaannya di mata khalayak rakyat. Cerita itu sulit diterima kebenarannya karena tidak diperkuat dengan bukti terjadinya peristiwa namun demikianlah adanya saat itu. 


Memang mengenai Jawa bisa ditemukan berbagai tulisan sebagai bukti, akan tetapi bukti yang didapat isinya samar-samar. Sehingga hanya memperkuat kejadian tertentu saja. Pada saat ini, sebagaimana yang banyak disebutkan dalam beberapa sumber, sejarah Jawa dimulai dari kedatangan Aji Saka tahun 78 atau 125 M. Kemudian, dalam buku Etika Jawa, Franz Magnis menyebutkan asal-usul penduduk Jawa berasal dari perpindahan penduduk dari Melayu yang berasal dari Cina Selatan yang dimulai sejak tahun 3.000 SM. Ia berpendapat demikian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh J.H. Kerm dalam buku “Linguistic Materials for the determination of the Century of Origin of the Malay People”.


Ahmad Khalil. ISLAM JAWA Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa. Malang: UIN-Malang Press. 2008.
Franz Magnis. Etika Jawa. Jakarta: Gramedia. 2003

Perumpamaan Penciptaan Manusia




Seperti Penciptaan Tembikar

Pada mulanya manusia diciptakan oleh Allah dari tanah, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga sempurna wujudnya seperti yang kita lihat sekarang ini. Adapun proses penciptaan manusia hanya Allah-lah yang tahu, akan tetapi bahan baku yang dipergunakan dalam menciptakan manusia sama dengan bahan baku tembikar, yaitu tanah liat. Oleh karena itu, al-qur’an menganalogikan penciptaan manusia itu seperti penciptaan tembikar. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Rahman ayat 14 yang artinya : “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.”

Penciptaan manusia dari tanah liat ini disebutkan oleh Allah dalam surat al-Hijr ayat 26, 28 dan 33 yang artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Kemudian dalam ayat 28 yang artinya : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Dan dalam ayat 33 yang artinya : “Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakanya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

Sedangkan di dalam surat Ali Imran ayat 59 disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia (Adam) dari tanah : “...Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia) maka jadilah dia.”

Diterangkan dalam Tafsir Sawiy, bahwa tanah yang dipergunakan dalam menciptakan Adam (manusia) itu diadoni dengan air lalu dibiarkan sehingga ia menjadi tanah liat. Setelah itu dibentuk sebagaimana membentuk wadah. 

Inilah yang dimaksudkan bahwa penciptaan manusia itu seperti penciptaan tembikar, sebagaimana yang ditegaskan dalam surat al-Rahman di atas.

Ibnu Abbas r.a berkata: Allah swt menciptakan jasad nabi Adam as berasal dari beberapa negeri di dunia ini. Kepalanya di ambil dari tanah Ka’bah, dadanya diambil dari tanah penjajahan bumi, punggung dan perutnya diambil dari tanah Hindia, kedua tangannya dari tanah Masrq dan kedua kakinya diambil dari tanah Maghrib. 

Berakata Wahab bin Munabbih: “Allah swt menciptakan Adam as dari tujuh lapis bumi.  Kepalanya dari lapis bumi pertama, lehernya dari lapis bumi kedua, dadanya dari lapis bumi ketiga, kedua tangannya dari lapis bumi keempat, setengah punggung dan perutnya dari lapis bumi kelima, paha dan pantatnya dari lapis bumi keenam, sedangkan kedua betisnya dari lapis bumi ketujuh.”

Dalam suatu riwayat, Ibnu Abbas ra pernah berkata: “Allah swt menciptakan nabi Adam as, kepalanya terbuat dari tanah Baitul Maqdis, wajahnya dari tanah surga, kedua telinganya berasal dari tanah Tursina, dahinya dari tanah Iraq, giginya dari tanah telaga Kutsar, tangannya yang kanan berserta jari-jarinya dari tanah Ka’bah, tangannya yang kiri dari tanah Persia, kedua kaki beserta betisnya dari tanah Babilonia, punggungnya dari tanah Iraq, perutnya dari tanah Khurasan, hatinya dari tanah surga Firdaus, lisannya dari tanah Thaif, sedangkan kedua matanya dari tanah telaga Kautsar.”

Kepalanya yang terbuat dari tanah Baitul Maqdis, maka jadilah kepala itu tempat akal, tempat kepintaran dan ucapan. Kedua telinganya yang terbuat dari tanah Tursina, maka jadilah telinga itu tempat menerima nasihat. Dahinya yang berasal dari tanah Iraq, maka jadilah dahi itu tempat bersujud kepada Allah ta’ala. Wajahnya yang berasal dari tanah surga, maka wajah itu menjadi tempat kebagusan dan hiasan. Gigina berasal dari tanah telaga Kautsar, maka menjadilah gigi tersebut tempat manis. Tangan kanannya berasal dari tanah Ka’bah, maka jadilah tangan kanan itu tempat berkah dan pemberi pertolongan dalam kehidupan serta bermurah hati. Tangan kirinya berasal dari tanah Persia, maka jadilah tangan kiri itu menjadi tempat bersuci dan istinja. Perutnya berasal dari tanah Khurasan, maka jadilah perut itu tempat lapar. Auratnya berasal dari tanah Babilonia, maka menjadilah aurat itu menjadi tempat syahwat, berkhitan dan tiupan. Tulangnya berasal dari tanah gunung, maka menjadilah tulang itu sebagai tempat yang keras. Hatinya berasal dari tanah surga Firdaus, maka menjadilah hati itu sebagai tempat iman. Lisannya berasal dari tanah Thaif, maka menjadilah lisan itu sebagai tempat mengucapkan syahadat, merendahkan diri dan berdoa kepada Allah ta’ala. 

Sebagian ulama mengatakan: Anggota tubuh Adam (manusia) itu mempunyai tujuh bagian, yaitu: Otak, Otot, Urat syaraf, Tulang, Daging, Darah dan Kulit. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah dalam surat al-Insyiqaaq ayat 19 yang artinya : “Sesungguhnya kau melalui tingkat demi tingkat.”

Allah swt menciptakan Adam (manusia) mempunyai sembilan lubang. Tujuh di antaranya ada di kepala, yaitu dua matanya, dua telinganya, dua lubang hidungnya dan mulutnya. Sedangkan dua lubang ada di badannya, yaitu lubang qubul dan duburnya. 

Allah menciptakan manusia memiliki lima pancaindera, yaitu: Penglihatan pada mata, pendengaran pada dua telinga, perasa pada mulut, peraba pada kedua telapak dan pencium pada hidung. 

Mengenai proses peniupan ruh ke dalam jasad nabi Adam as, ada riwayat yang menerangkan bahwa, sesungguhnya ruh tiu masuk ke dalam otak nabi Adam kemudian berputar-putar di situ selama dua ratus tahun. Setelah itu, ia turun pada kedua matanya sehingga akhirnya nabi Adam bisa melihat dirinya yang masih berupa tanah liat yang kering. Tatkala ruh itu sampai pada kedua telinganya, ia mendengar bacaan tasbih para malaikat. Kemudian ruh itu turun pada batang hidungnya, lalu nabi Adam as bersin. Setelah nabi Adam bersin, maka ruh tadi turun ke arah mulut dan lidahnya serta ke arah kedua telinganya. Kemudian Allah lalu mengajari nabi Adam as mengucapkan Alhamdulillah Allah pun menjawab nabi Adam as dengan kalimat yarkhamuka robbuka yaa adam. Kemudian ruh itu turu ke dadanya, pada saat ruh sudah berada di dadanya, nabi Adam as bergegas ingin berdiri, akan tetapi ia tidak mampu oleh karena itu Allah swt berfirman dalam surat al-Isra ayat 11 yang artinya: “Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”

Tatkala ruh itu sampai di perutnya, nabi Adam as langsung menginginkan suatu makanan, selanjutnya ruh itu merata masuk ke dalam seluruh tubuh nabi Adam as.

Akhirnya jadilah jasad nabi Adam as itu berupa daging, darah, keringat dan otot. Kemudian Allah swt memberinya pakaian dari kukunya, yang setiap hari bertambah indah dan menakjubkan. Tatkala nabi Adam melakukan perbuatan dosa maka Allah swt mengganti kukunya dengan kulit, akhirnya tinggallah sedikit kuku tersebut pada beberapa hari. Hal ini untuk mengingatkan nabi Adam as (atas dosa yang pernah ia lakukan). 

Begitulah proses diciptakannya nabi Adam as, kemudian Allah menyempurnakan kejadian Adam, serta meniupkan ruh ke dalam jasadnya dan memberinya pakaian dari pakaian surga. Sedangkan Nur Muhammad itu bersinar di wajahnya bagaikan bulan di malam purnama. Demikian keterangan yang terdapat dalam kitab Daqa’iqul Akhbar. 

Allah menciptakan manusia itu memiliki banyak kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah yang lainnya. Allah menciptakan manusia itu lebih kuat dari segala sesuatu, sebab pada dirinya terdapat apa yang tidak ada pada segala sesuatu. Jika langit itu tinggi maka bentuk tubuh manusia adalah tegak. Jika pada cakrawala terdapat matahari dan bulan, maka pada kepada manusia terdapat sepasang mata. Jika dalam kosmos terdapat bintang-bintang maka pada diri manusia terdapat gigi-gigi. Jika pada langit terdapat hujan, maka pada kedua mata manusia terdapat air mata. Jika pada langit terdapat guntur, maka pada diri manusia terdapat bersin. Jika pada bumi terdapat ketetapan, maka pada diri manusia terdapat diam dan tenang. Jika pada bumi terdapat sungai-sungai, maka pada diri manusia terdapat urat nadi, dan rambut sebagai pengganti tetumbuhan di bumi.
Ada suatu keterangan yang mengatakan: Jika di langit terdapat Arasy, maka cita-cita manusia lebih lebih besar dari arasy. Jika di langit terdapat surga, maka pada diri seorang mukmin terdapat hati, karena hati adalah hiasan surga yang paling baik. Surga adalah tempatnya syahwat (keinginan) sedangkan hati tempatnya ma’rifat. Yang menjaga surga adalah malaikat Ridwan, sedangkan yang menjaga hati adalah orang mukmin. Semoga Dzat Yang Maha Pengasih mengasihi dirinya. 

Dalam suatu riwayat diceritakan: Di antara para nabi Allah ada seorang nabi yang bermunajah kepada Allah seraya berkata: “Wahai Tuhanku, setiap raja itu memiliki penjaga, maka siapakah gerangan penjaga-Mu?” Allah lantas menjawab: “Aku memiliki penjaga yang lebih besar daripada Arasy dan lebih besar daripada Kursi, lebih harum daripada surga, serta lebih artistik daripada alam malakut. Ia adalah orang mukmin. Buminya adalah ma’rifat, langitnya adalah iman, mataharinya adalah perasaan rindu kepada-Ku, bulannya adalah perasaan cinta kepada-Ku, bintangnya adalah keinginan hatinya untuk beribadah kepada-Ku, debunya adalah cita-cita, dindingnya adalah keyakinan, awannya adalah akal, hujannya adalah rahmat, pohonnya adalah ketaatan, buahnya adalah hikmah, sedangkan pohon tersebut memiliki empat cabang: cabang tawakal, cabang sabar, cabang keyakinan dan cabang kemuliaan. Penjaganya memiliki empat pintu, yaitu pintu dari ilmu, pintu kearifan, pintu dari keridhaan, dan pintu dari kesabaran. Pada setiap pintu-pintu tersebut terdapat kunci yang merupakan sumber segala pikiran. Ingatlah bahwa kunci itu adalah hati. 

Ada keterangan lain yang menceritakan bahwa Allah menciptakan alam ini dengan memiliki tujuh langit, Allah juga menciptakan buat manusia tujuh perkara yang identik dengan ketujuh penyusun langit tersebut. Allah menciptakan alam terdapat bintangnya, maka Allah menciptakan manusia memiliki sel telur. Allah menciptakan alam terdapat matahari maka Allah juga menciptakan sejenisnya pada diri manusia yang terletak dalam hatinya, yaitu ma’rifat. Di alam ini terdapat bulan, maka yang sejenis dengan bulan adalah akal. Dalam alam ini terdapat bintang, maka yang sejenis dengan bintang adalah ilmu. Di alam ini terdapat burung maka pada diri manusia terdapat keinginan. Di alam ini terdapat gunung, maka pada diri manusia terdapat tulang. Di alam ini terdapat empat macam air, yaitu air tawar, air pahit, air asin dan air busuk. Demikian juga yang terdapat pada diri manusia, air tawar tempatnya di mulut, air pahit tempatnya di kedua telingan, air asin tempatnya di kedua mata sedangkan air busuk tempatnya adalah pada hidungnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyaat ayat 21 yang artinya: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Artinya, berfikirlah wahai manusia terhadap apa yang telah Aku ciptakan dan Aku bentuk pada dirimu yang terdiri atas tujuh anggota tubuh, tujuh puluh ruas, seratus empat puluh depalan tulang, tiga ratus enam puluh urat, seratus dua puluh empat ribu tempat tumbuhnya rambut di kedua tangan kedua kaki, kedua mata dan kedua telinga. Seluruh anggota tubuh itu bisa hidup hanya dengan satu nyawa (ruh). Demikian juga Arasy, Kursi, Surga, Neraka, Lauh, Qalam, Langit, Bumi, Sungai, Lautan, Para Nabi, Para Malaikat, Jin, Manusia, mulai dari Arasy sampai ke Farasy (dasar, pondasi), mulai dari Falaq sampai ke ikan, mulai atas sampai ke bumi yang paling bawah, termasuk dari berbagai jenis yang berbeda-beda dan bentuk yang beragam. Semua ini diciptakan oleh Dzat Yang Maha Perkasa, Maha Mulia lagi Maha Pemaksa. 

Demikianlah, sekilas keterangan tentang peciptaan Adam (manusia) meskipun manusia pada mulanya diciptakan dengan bahan baku dari tanah liat seperti bahan bakunya tembikar, akan tetapi pada diri manusia terdapat berbagai filosofi kehidupan yang tidak terdapat pada makhluk Allah lainnya. Oleh karena itu, manusia adalah sebagus-bagusnya bentuk makhluk yang diciptakan oleh Allah. Seperti yang disebutkan dalam surat at-Tiin ayat 4 yang artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Fuad Kauma. Tamsil Al-Qur’an. Mitra Pustaka: Yogyakarta. 2000.

Wednesday, 7 March 2012

Hatimu Bersamaku Ketika Dirimu Bersamanya




Saat kita mencoba untuk menyatukan dua hati yang berbeda,,
Menghias kehidupan yang sulit disatukan,,
Dan melangkah dengan segala perbedaan,,
Aku tidak yakin ini akan berhasil..
Namun ternyata kebahagiaan muncul..
Beriringan dengan rasa kasih dan sayang..

Namun kita yang telah susah payang membangun istana ini,,
Mereka hancurkan begitu saja..
Hingga akhirnya kamu pergi bersamanya..
Dengan meninggalkan kenangan untukku..

Wahai Hawa yang ku cinta,,
Aku tahu bahwa hatimu masih bersamaku..
Dan begitupun hatiku masih tetap bersamamu..
Meski ragamu bersamanya,,
Namun hati kita tidak bisa terpisahkan..
Kecuali oleh kehendak Tuhan..

Aku ada di belakangmu..
Saat kau butuh seseorang yang mengerti dirimu,,
Tengoklah kebelakang dan hampirilah aku..
Namun aku minta maaf jika aku tak bisa selamanya terus begitu..
Mungkin akan ada seseorang yang menjumputku..
Untuk membangun istana yang lain..
Dan pada saat kamu tengok ke belakang,,
Aku telah pergi..

Tuesday, 6 March 2012

Orang yang Mendengkur atau Ngorok Dapat Beresiko Terkena Stroke



Mendengkur atau ngorok cukup sering dijumpai dan untuk sebagian orang memang merupakan masalah yang tidak mudah diatasi. Suara yang timbul pada waktu mendengkur disebabkan karena vibrasi atau getaran jaringan saluran napas yang dilewati aliran udara. Gangguan aliran nafas dapat terjadi pada hidung yaitu adanya penyempitan pada hidung, mungkin akibat kelainan anatomi atau ada cedera, menimbulkan suara seperti bersiul. Menurut dokter Zubairi Djoerban, spesialis penyakit dalam dan guru besar FKUI, vibrasi langit-langit di mulut menyebabkan suara mendengkur yang lebih berat. Tetapi keadaan ini ternyata juga dapat disebabkan oleh turbulensi aliran udara yang melewati saluran hidung yang menyempit. Pada waktu tidur, lidah dapat jatuh ke belakang sehingga menyempitkan saluran udara dan aliran udara menjadi terhambat.


Hambatan aliran udara juga dapat disebabkan merokok, alkohol, iritasi akibat aliran balik asam lambung, kegemukan, usia lanjut dan masalah hormonal, yang dapat menyebabkan pembengkakan jaringan lunak di saluran nafas, dan selanjutnya menyebabkan mendengkur. Mendengkur biasanya tidak ditimbulkan oleh penyebab tunggal, tetapi kombinasi beberapa faktor tersebut diatas.


Untuk mengatasi masalah mendengkur, perlu dicari faktor pemicunya. Untuk yang bertubuh gemuk, Zubairi menyarankan agar mulai berdiet dengan mengurangi jumlah kalori yang dimakan sehari-hari dan olahraga setiap hari, misalnya dengan jalan cepat setengah jam. Buah dan sayuran perlu disediakan setiap hari, lebih banyak makan sayur dan buah, lebih baik. Bila tidak dapat menyembuhkan atau mengurangi dengkuran, semua upaya tersebut sudah dibuktikan dapat mengurangi risiko stroke, serangan jantung dan kanker.


Mengorok dapat menimbulkan masalah sosial maupun medis. Mendengkur dapat menyebabkan kelelahan pada waktu bangun tidur sehingga sangat berbahaya jika menyetir mobil atau jika bekerja di tempat yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.


Selain itu, lanjut Zubairi, menurut penelitian, diketahui bahwa pasien yang mendengkur mempunyai risiko untuk menderita tekanan darah tinggi dan komplikasinya seperti stroke.


Mendengkur yang disertai dengan henti napas (sleep apnea) ketika tidur dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Sleep apnea didefinisikan sebagai henti nafas -- paling sedikit 10 detik -- yang terjadi sewaktu tidur. Sleep apnea menyebabkan kadar oksigen di darah menurun. Dampak mendengkur yang disertai sleep apnea menyebabkan yang bersangkutan menjadi ngantuk pada siang hari, sakit kepala pada pagi hari, malam sering kencing, dan kadang-kadang dapat menyebabkan impotensi.


Banyak terapi yang kini tersedia untuk mengatasi masalah mendengkur. Namun perlu diingat bahwa mendengkur tidak selalu mudah teratasi karena penyebabnya yang multifaktor. Salah satu pilihan adalah dengan memasang suatu alat pada gigi sehingga dagu menjadi maju ke depan. Tapi alat ini tidak selalu dapat membantu. Alat bantu yang dimasukkan ke hidung dapat sedikit membantu mengatasi masalah sumbatan aliran udara di hidung. Pilihan lain adalah pelumas tenggorokan atau bantal dengan bentuk tertentu sehingga memperbaiki posisi kepala ketika tidur.


Terkadang diperlukan tindakan pembedahan di hidung, langit-langit mulut, lidah dan leher, tergantung lokasi jaringan yang berperan dalam timbulnya dengkuran. Pada hidung misalnya, dengan meluruskan tulang rawan hidung, mengecilkan jaringan pada lapisan dalam hidung, membuang polip hidung bila ada atau menghilangkan pembengkakan jaringan akibat alergi.


Untuk mengatasi henti napas ketika tidur dapat dilakukan dengan memakai alat bantu napas khusus atau jika tidak membantu dapat dilakukan tindakan pembedahan. Henti napas ketika tidur disebabkan karena tertutupnya saluran napas bagian atas. Sering dihubungkan dengan berkurangnya saturasi oksigen dalam darah. Penurunan saturasi ini diakibatkan karena kelelahan atau tidur tak nyenyak. Alat yang dapat membantu adalah CPAP (Continous Positive Airway Pressure) yaitu alat bantu semacam pompa yang mempunyai tekanan tertentu, dipakai sebagai masker di hidung atau wajah. Tekanan positif berfungsi sebagai pompa untuk memberikan oksigen.


Selain alat bantu dan prosedur-prosedur di atas, maka faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya dengkuran juga perlu diatasi. Bila merokok, sebaiknya dihentikan karena dapat menyebabkan jaringan di tenggorokan membengkak serta dapat meningkatkan produksi asam lambung sehingga tenggorokan teriritasi dan membengkak. Berat badan juga perlu diturunkan.


Bila tips diatas sudah dijalankan dan belum berhasil, maka untuk membantu memecahkan masalah mendengkur harap berkonsultasi dengan dokter. Selain itu, bila mendengkur dan merasa tidak segar sewaktu bangun pagi, gemuk, sering tertidur di siang hari, dan ketindihan (tiba-tiba gelisah, tidak bisa bergerak sewaktu tidur), maka Anda perlu konsultasi ke dokter.

Sumber : Republika.co.id

Neptune – Last Giant Outpost



Neptune Data
Mass: 1.02 x 1025 kg or 17.1 times Earth’s
Equatorial diameter: 49 532 km or 3.9 times Earth’s
Surface gravity: 1.77 gees
Axial tilt: 29.6°
Mean surface temperature: -220 Celsius
Rotation period: 16.12 hours
Orbital period: 164.8 years
Inclination of orbit to ecliptic: 1.8°
Orbital eccentricity: 0.009
Distance from the Sun: 29.79–30.32 AU
Sunlight strength: 0.0011 of Earth’s
Satellites: >8
Largest satellite: Triton, diameter 2706 km

Perched almost on the edge of the realm of the planets, the serene blue Neptune is the last giant outpost. Another colossal world of slushy ice and gas, Neptune has many features in common with the green planet before it. But its hydrogen–helium atmosphere is one of constant turmoil, in contrast to that of the pallid and unchanging Uranus. Like the other giants, Neptune is graced by rings and satellites. Triton, its largest moon, is surprisingly active. It has a fresh, young surface. But something is very wrong with Neptune’s comparatively small retinue of eight moons. If astronomers are correct, Triton is not a Neptune native – it was gravitationally captured. The process all but destroyed Neptune’s original satellite system. And now, Triton aside, only haphazard shards of ice and rock remain in orbit about the blue giant.

Physical Overview
Taking almost 165 years to complete its orbit of the Sun, Neptune is extremely distant. From Earth there is not even the faintest chance of viewing it without binoculars or a telescope. And so, although it was discovered in the 1840s, virtually nothing was known about this fascinating blue gem for well over 100 years. Astronomers had to wait, twiddling their thumbs, until 1989 before they had any real data with which to work. This was the year in which the Voyager 2 probe made its last planetary encounter, before heading into the depths of interstellar space.

What Voyager 2 found was an apparent twin of Uranus, at least in terms of appearance. Neptune is slightly smaller than Uranus, by about 3 per cent, but it has a similar colour – again due to the presence of redlight- absorbing methane in its atmosphere. Even internally, Neptune is a lot like its green-faced partner. It has a rocky core – perhaps a bit larger than that of Uranus – surrounded by a vast ocean of icy slush, a thin shell of liquid hydrogen and other materials, and a hydrogen–helium atmosphere. But there is a surprise. While Uranus’ atmosphere is bland and featureless, Neptune’s is banded and stormy. This is perhaps odd. The blue planet is 1.5 times further from the Sun than its green neighbour, so its clouds ought to condense very low down, well out of sight. The reason for the difference is that Neptune, unlike its twin, has an unknown source of internal heat. This keeps the planet warmer than it would otherwise be and drives the atmospheric activity so clearly evident on the planet’s face. When Voyager 2 arrived at Neptune, the largest atmospheric feature on display was the Great Dark Spot. Scientists immediately likened it to a storm system, similar to the Great Red Spot on Jupiter. Scooting around this storm, meanwhile, were a number of wispy blue-white clouds of methane crystals. These floated some 50 kilometres above the bulk of the atmosphere, high enough to catch the sunlight. And yet, Neptune’s great storm has since vanished. There was no sign of it in 1994 when the Hubble Space Telescope was swung towards the distant blue giant. Other cyclones, too, have come and gone. Evidently Neptune’s weather patterns are not as long-lived as Jupiter’s.

Rings
Not surprisingly Neptune has rings, just like the other three giants. And again, they are different from those we have looked at so far. As usual, Neptune’s rings cannot compete with those of Saturn. They are very dim. Either they are made of rocky rather than icy fragments that reflect little light, or they are icy particles with a dark coating of organic molecules.

In total, Neptune has five rings. The most well defined, Adams and LeVerrier, are narrow, 50 kilometres and 110 kilometres in extent respectively. Still, these are generally wider than most of the rings of Uranus. The particles in these two rings are most likely metre-sized boulders. Two other rings are found between these two. One is again faint and narrow, while the other, though still faint, is fairly broad. Called Lassell, this ring stretches for about 4000 kilometres in radial extent. Lastly, the ring closest to the planet, Galle, is also fairly extensive, stretching for some 2500 kilometres. As well as the boulders present in some of these rings, all contain large amounts of dust, as found in the rings of Jupiter and Uranus. One thing that makes Neptune’s rings stand out, though, are the so-called ring arcs. Most of the material in the rings is evenly distributed around their circumference, as it is in all other ring systems. But in three places, Neptune’s outermost ring, Adams, is brighter than elsewhere. Apparently these arc-shaped segments contain more than their fair share of particles. At first this was a mystery. Why didn’t these arcs spread out along their orbit and repopulate the rest of the ring? The answer, astronomers think, is that the arcs are caused by the gravitational pull of a small moon just inside the orbit of the Adams ring. This moon, called Galatea, is only about 160 kilometres across, with a puny gravity. But because it is so close to the Adams ring it is able to herd the ring fragments together and prevents them from spreading out along their orbit. Galatea is one of eight satellites around Neptune – fewer than the other giant planets.

Triton and Other Satellites
Like Saturn, Neptune has only one large satellite. It is called Triton, and it is about 78 per cent the size of our own Moon. Its density indicates a roughly 50 : 50 mixture of rock and ice. The surface is dominated by frozen nitrogen, methane, carbon monoxide and carbon dioxide, with water ice underneath.

Triton is an exceptional world. Perhaps most surprising of all is that this frigid snowball is volcanically active – even though it possesses the coldest surface temperature ever measured in the Solar System, at -235 Celsius. But its volcanoes do not spout lava. Sunlight penetrates Triton’s transparent icy surface and heats up underground nitrogen. As the gas boils and its pressure rises, it escapes through cracks in the surface ice and is squirted several kilometres above the moon’s surface into its atmosphere. This is another surprise, that Triton should have an atmosphere. It is one of very few moons that do. Like Saturn’s Titan, Triton holds onto its gas shroud – nitrogen with traces of methane – because the cold gases move too sluggishly to escape the feeble gravity. But this primitive sky is a far cry from the atmospheres of the terrestrial planets. Some 100 000 times thinner than the air we breathe, Triton’s gaseous envelope is almost a vacuum. Most likely, Triton’s atmosphere derives from the surface, and the reason has to do with the moon’s orbit. Triton encircles Neptune backwards, in a path that is highly inclined to its planet’s equatorial plane – it is the only major satellite with such an irregular orbit. This means that Triton’s poles, like those of Uranus, endure long seasons when first one, and then the other – more than 80 years later – is turned towards the Sun. This sets up a cycle on Triton in which surface gases evaporate in the summer and help maintain the planet’s atmosphere, then freeze out in the winter. This also explains some of Triton’s surface features. There are few craters, probably because they are eradicated when liquid rises from the interior and later
freezes.
While Triton is impressive, Neptune’s other satellites are all little more than broken lumps of ice and rock. The largest of these worldlets is Proteus. It measures 400 kilometres by 440 kilometres, and so is not a perfect sphere. Meanwhile the smallest moons, closest to the planet, have sizes measured in just tens of kilometres. All but one of these moonlets lie well inside the orbit of Triton and, unlike that satellite, more or less in Neptune’s equatorial plane. But one of the small moons chooses not to conform: Nereid. Some 340 kilometres across, Nereid has a highly inclined orbit, like Triton, and a very elongated one – its distance from Neptune varies by an astonishing 8 million kilometres, from 9.5 million to 1.3 million kilometres. Such an orbit is evidence, as is that of Triton, that something very dramatic must have happened long ago in the history of the Neptunian system.

History of the Neptunian System
So why is Neptune’s satellite system in such disarray? Why is Triton’s orbit so bizarre? The answer seems to be that Triton did not form around Neptune in a disc, as did the regular satellites of the other giant worlds. Neptune itself did grow from a disc of gas and ice just as Jupiter, Saturn and Uranus did. It is also possible that a system of regular satellites formed around Neptune as the planet was developing. But at some later time, Triton – a massive, icy planetesimal in a similar orbit to Neptune’s – ventured too close to the blue giant and got captured into its retrograde and highly inclined orbit. During the event, Triton may well have collided with any regular satellites that had already existed. Either they were ejected from their orbits, or they were slingshotted into their parent world and destroyed. Now, aside from Triton itself, only shards remain. A few still orbit in Neptune’s equatorial plane; perhaps these are the remains of its original satellites. Nereid, meanwhile, was almost ejected from the system – but not quite. Evidently it did not acquire enough speed to escape entirely, and instead settled into its very elongated elliptical meander.

As with the rings of Uranus, Neptune’s are very likely recent. They probably did not form alongside their planet, for they would long ago have disappeared. Again, they could be fragments of comets or small moons that were torn apart by Neptune’s gravity.

Source :
Mark A. Garlick. The Story Of The Solar System. University Press: Cambridge. 2002.