Kamis, 29 Maret 2012

Berbagai Jenis Nafsu Insani




Nafsu insani yang tidak terkawal, adalah sebagai penghalang seseorang untuk mencapai ketenangan dalam menghadap Allah swt. Hidayah Allah tidak akan masuk ke dalam sanubarinya, seandainya ia belum mampu mengendalikan hawa nafsunya. Pada asasnya, manusia dibagi kepada dua golongan, yaitu golongan yang dikalahkan nafsunya sehingga tingkah lakunya dikendalikan nafsu dan golongan yang mampu mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu itu tunduk dengan perintahnya. Para shalihin ada yang berkata: “Akhir dari perjalanan hidup seseorang yang menuju jalan makrifat yaitu jika ia dapat membuktikan bahwa dirinya telah mampu mengendalikan nafsu-nafsunya. Siapapun yang berhasil mengendalikannya, maka beruntunglah ia, sebaliknya bagi mereka yang dikalahkan nafsu, maka rugilah ia. Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut:


“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutmakan kehidupan dunia, maka sesunggunya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”.
(QS. An-Naazi’at : 37-41)

  1. Nafsu Muthmainnah
Nafsu Muthmainnah yaitu nafsu tenang bersama Allah, tenteram ketika mengingatnya, selalu merindukan Allah dan senantiasa dekat dengan-Nya. Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut:


“Hai jiwa yang tenang. Maka masuklah ke dalam jamaah yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku”.
(QS. Al-Fijr : 27-30)


Ibnu Abbas ra berkata: “Muthmainnah artinya yang membenarkan. Qatadah berpendapat muthmainnah yaitu hanyalah orang-orang yang beriman, yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah”. Orang yang berjiwa tenang ini akan nampak pada akhlaknya, bersikap tenang,sabar dan sanggup menerima setiap cobaan dari Allah swt. 


Jiwa yang muthmainnah yaitu jiwa yang berhijrah dari segala sesuatu yang dibenci auatu yang dilarang oleh Allah swt menuju kepada perbuatan yang diridhai-Nya. Umpamanya dari sikap ragu-ragu kepada memperoleh keyakinan. Dari bodoh kepada berilmu pengetahuan, dari lalai hingga ingat kepada Allah. Begitulah seterusnya dari keburukan menuju kepada yang lebih baik dan mendapat bimbingan Allah.


Pokok ari semuanya itu adalah kesadaran jiwa yang tinggi, serta peka terhadap goncangan jiwa dan perasaan. Sehingga terhindar dari segala bentuk dosa maksiat yang pernah dikerjakan. Setelah melihat kesadarannya itu barulah tahu bahwa hidup ini tidak lama dan akan berakhir dengan kematian. Akhirnya akan bertemu yang Maha Agung. 


Oleh sebab itu, setiap muslimin hendaknya secepat mungkin untuk memanfaatkan sisia-sisa umur yang pendek ini untuk mengabdi hanya keada Ilahi. Menghidupkan kembali hati yang telah mati, ataupun memberi penawar bagi jiwa yang telah sakit, agar kehidupan kita bahagia di akhirat kelak.

  1. Nafsu Lawwamah
Nafsu Lawwamah yaitu nafsu yang tidak pernah stabil atau satu keadaan. Ia selalu berubah, baik dalam bentuk pendirian ataupun tingkah laku. Ia diantara ingat dan lalai, antara ridha dan marah, antara cinta dan benci dan lain-lain. 


Sebagian orang berpendapat bahwa nafsu Lawwamah adalah nafsu prang yang beriman. Ada juga yang mengatakan Lawwamah yaitu mencela diri sendiri kelak pada hari kiamat, di mana setiap orang akan berbuat serupa. Jika ia pernah membuat kesalahan, maka ia mencela kebodohan sikapnya itu, dan jika berbuat baik maka ia juga mencelah karena sedikitpnya kebaikan yang ia lakukan.


Imam Ibnu Qayyin berkata: “Semua pendapat di atas tentang nafsu Lawwamah itu adalah benar”. Kemudian Lawwamah dibedakan lagi kepada dua jenis, Lawwamah yang tercela dan Lawwamah yang terpuji. Lawwamah yang tercela yaitu nafsu yang bodoh dan zalim, semuanya itu dicela oleh Allah swt. Lawwamah yang terpuji yaitu nafsu yang senantiasa berfungsi sebagai peneliti atas setiap tindakan seseorang. Apakah telah mengabdikan diri kepada Allah, beriman dan beramal saleh, serta segala kebaikan yang diperintah-Nya.

  1. Nafsu Ammarah
Nafsu Ammarah adalah nafsu yang tercela, sebab ia selalu mengajak kepada kezaliman. Tidak seorangpun yang terlepas dari nafsu ini, kecuali oarng yang memperoleh pertolongan Allah swt. Seperti kisah istri Al- Azizi penguasa Mesir. Firman Allah menjelaskan :


”Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. Yusuf : 53)


Firman Allah swt menjelaskan sebagai berikut :


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti angkah-langkah seteanm maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbauatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih dari perbuatan-perbuatan keji yangmeungkar itu selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
(QS. An-Nuur : 21)


Sebenarnya nafsu ini hanya satu, tetapi ia dapat bersiat ammarah, bersifat lawwamah dan terakhir dapat meningkat kepada muthmainnah. Muthmainnah inilah merupakan puncak kesempurnaan dan kebaikan nafsu insani. Karena nafsu muthmainnah selalu berteman dan berada di sisi Malaikat. Senantiasa berusaha untuk mengabdi kepada Allah swt. 


Sedangkan nafsu ammarah selalu berdampingan dengan setan. Menggoda dan mempengaruhi manusia dengan janji-janji palsu, mengajar manusia mengerjakan kebatilan dan kemaksiatan. Nafsu ammarah merupakan nafsu yang menjadi penghalang bagi nafsu muthmainnah untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Begitulah seterusnya, bahwa dalam kehidupan kita ada dua nafsu yang selalu berlawanan.

Sumber :
Drs. Muhammad Isa Selamat, MA. Penawar Jiwa dan Pikiran. Kalam Mulia: Jakarta. 2005.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar