Thursday, 8 March 2012

Hidup Itu Ibarat Kecap




Berwarna hitam, tapi rasanya enak.
Jangan menilai buku dari cover-nya. Jangan tertipu oleh fananya dunia. Walau kadang cobaan yang kita hadapi terlihat berat, namun akan selalu ada sesuatu yang indah di balik itu semua.

Ada yang dikemas dalam botol beling, botol plastik, plastik isi ulang, maupun sachet plastik yang kecil.
Walau kita terlahir dalam kondisi yang berbeda-beda, ada yang kaya tapi ada juga yang kurang kaya, ada yang ganteng/cantik tapi ada juga yang kurang ganteng/cantik dikit, dsb, namun hidup yang dijalani pada dasarnya sama. Lahir, tumbuh, berkembang, meninggal. Bagi yang sudah paham mungkin akan memaknai hidup untuk beribadah di mana setiap materi, waktu, dan tindakan ada pertanggungjawabannya.

Ada kecap manis, kecap asin, bahkan kini ada kecap pedas.
Begitulah kehidupan yang kaya akan aneka rasa dan warna. Hari ini menangis, mungkin esok tertawa karena dunia senantiasa berputar.

Walau rasanya enak, tapi tetap ada yang tidak suka.
Ada juga orang yang tidak suka dengan dunia ini. Ada yang ingin cepat2 mati maupun ingin bunuh diri, bahkan untuk alasan yang sebenarnya simpel. Tapi ada juga yang ingin cepat mati karena rindu dengan Rabbnya. Walau kita dianjurkan zuhud, akan tetapi selain habluminallah pun selagi masih bernafas ada pula habluminannaas.

Mungkin rasa tidak pernah bohong, namun rasa yang di lidah pun makin lama akan hilang tak berbekas.
Sekalipun hidup kita terasa nikmat, akan tetapi pada akhirnya semua akan musnah.

Bila didiamkan saja maka bisa basi.
Bila hidup kita tidak dimanfaatkan atau tidak dimaknai, maka akan menjadi sangat tak berharga dan hanya membuang waktu saja, seperti kata Asy-Syahid Hasan Al Banna, “Sesungguhnya kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia”.

Terinspirasi ketika sedang makan siomay di tepi jalan, di bawah awan mendung, bertemankan kendaraan yang lalu lalang.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment