Friday, 24 February 2012

Pusat-pusat Peradaban Islam : Kairo (Mesir)



Kota Kairo dibangun pada tahun 17 Sya’ban 358 H/969 M oleh panglima perang Dinasti Fathimiah yang beraliran Syi’ah, Jawhar Al-Siqili, atas Khalifah Fathimiah, Al-Mu’izz Lidinillah (953-975 M), sebagai ibukota kerajaan tersebut. Bentuk kota ini hamper merupakan segi empat. Disekelilingnya dibangun pagar tembok besar dan tinggi, yang sampai sekarang masih ditemui peninggalannya. Pagar tembok ini memanjang dari Masjid Ibn Thulun sampai ke Qal’at Al-Jabal, memanjang dari Jabal Al-Muqattam sampai ke tepi sungai Nil. Daerah-daerah yang dilalui dinding ini sekarang disebut Al-Husainiyah, Bab Al-Luk, Syibra dan Ahya Bulaq.

Wilayah kekuasan dinsti Fathimiah meliputi Afrika Utara, Sicilia, dan Syiria. Berdirinya kota Kairo sebagai ibukota kerajaan dinasti ini membuat Baghdad menadapt saingan. Setelah pembangunan kota Kairo rampung lengkap dengan istananya, Al-Siqili mendirikan masjid Al-Azhar, 17 Ramadhan 359 H (970 M). masjid ini berkembang menjadi sebuah universitas besar yang sampai sekarang masih berdiri megah. Nama Al-Azhar di ambil dari Al-Zahra’, julukan Fathimiah, putri Nabi Muhammad SAW dan istri Ali bin Abi Thalib, Imam pertama Syi’ah.

Kota yang teletak di tepi sungai Nil ini mengalami tiga kali masa kejayaan, yaitu pada masa dinasti Fathimiah, dinasti Shalah Al-Din Al-Ayyubi dan dibawah Baybars dan Al-Nashir ada dinasti Mamalik. Periode Fathimiah dimulai dengan Al-‘Aziz. Al-Mu’izz Lidinillah dan ‘Aziz (975-996 M) di Mesir dapat disejajarkan dengan Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun di Baghdad. Selama pemerintahan Al-Mu’izz dan tiga orang pengganti pertamanya, seni dan ilmu mengalami kemajuan besar.

Al-Mu’izz melaksanakan tiga kebijaksanaan besar, yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, dan toleransi beragama (juga aliran). Dalam bidang administrasi, ia mengangkat seorang wazir (menteri) untuk melaksanakan tugas-tugas kenegaraan. Dalam bidang ekonomi, ia memberi gaji khusus kepada tentara, personalia istana, dan pejabat pemerintahan lainnya. Dalam bidang agama, di Mesir diadakan empat lembaga peradilan, dua untuk mazhab Syi’ah dan dua untuk mazhab Sunni. Al-‘Aziz kemudian mengadakan program baru dengan mendirikan masjid-masjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal baru. Pada masa Aziz Billah dan Hakim Biamrillah, terdapat seorang mahaguru bernama Ibn Yunus yang menemukan pendulum dan ukuran waktu dengan ayunannya. Karyanya Zij al-Akbar al-Hakimi diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dia meninggal pada tahun 1009 M dan penemuan-penemuannya diteruskan oleh Ibn Al-Nabdi (1040) dan Hasan Ibn Haitham, seorang astronom dan ahli optika. Yang disebut terakhir menemukan sinar cahaya datang dari objek ke mata dan bukan keluar dari mata lalu mengenai benda luar.

Pada masa pemerintahan Al-Hakim (996-1021 M), didirikan Bait al-Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al-Ma’mun di Baghdad. Dilembaga ini banyak sekali koleksi-koleksi buku.  Lembaga ini juga merupakan pusat pengkajian astronomi, kedokteran, dan ajaran-ajaran Islam terutama Syi’ah.

Pada masa-masa selanjutnya, dinasti Fathimiah mulai mendapat ganguan-gangguan politik. Akan tetapi, Kairo tetap menjadi sebuah kota besar dan penting. Ketika jayanya, Kairo terdapat kurang lebih 20.000 toko milik khalifah, penuh dengan barang-barang dari dalam dan luar negeri. Khalifah-khalifah, tempat-tempat pemandian, dan sarana umum lainnya banyak sekali didirikan oleh penguasa. Istana khalifah dihuni oleh 30.000 orang, 12.000 diantaranya adalah pembantu, 1.000 pengawal berkuda.

Dinasti Fathimiah ditumbangkan oleh dinasti Ayyubiah yang didirikan oleh Shalah Al-Din, seorang pahlawan Islam terkenal dalam perang salib. Ia tetap mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh dinasti Fathimiah tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari Syi’ah kepada Sunni. Ia juga mendirikan lembaga-lembaga ilmiah baru, terutama masjid yang dilengkapi dengan tempat belajar teologi dan hukum. Karya-karya ilmiah yang muncul pada masanya dan sesudahnya adalah kamus-kamus biografi, kompendium sejarah, manual hukum, dan komentar-komentar teologi. Ilmu kedokteran diajarkan di rumah-rumah  sakit. Prestasinya yang lain adalah didirikannya sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat pikiran.

Kekuasaan Ayyubiah di Mesir diambil alih oleh dinasti Mamalik. Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasaannya dari serangan bangsa Mongol dan mengalahkan tentara Mongol itu di Ayn Jalut di bwah pimpinan Baybars. Meskipun bukan sultan yang pertama,  Baybars (1260-1277 M) dapat dikatakan sebagai pendiri sebenranya dinasti ini. Sebagaimana Shalah Al-Din, ia juga pahlawan Islam terkenal dalam perang salib. Pada masa itu, Kairo menjadi satu-satunya pusat peradaban Islam yang selamat dari serangan Mongol. Oleh karenanya, Kairo menjadi pusat peradaban dan kebudayaan Islam terpenting. Baybars memugar bangunan-bangunan kota, merenovasi Al-Azhar, dan pada tahun 1261 M mengundang keturunan Abbasiyah untuk melanjutkan khilafahnya di Kairo. Dengan demikian, prestise kota ini semakin menanjak. Banyak bangunan didirikan dengan arsitektur yang indah-indah pada masanya dan masa-masa kekuasaan dinasti Mamalik berikutnya. Kejayaan dinasti Mamalik memang berlangsung agak lama. Pada tahun 1517 M, dinasti ini dikalahkan oleh kerajaan Usmani yang berpusat di Turki dan sejak itu Kairo hanya menjadi ibu kota provinsi dari kerajaan Usmani tersebut.

Sumber :
Dr. Badri Yatim, M.A.”Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta:2008.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment