Sunday, 14 August 2011

Batas Akhlak



Akhlak mempunyai beberapa batas bila telah melewati batasnya maka boleh dikatakan keterlaluan. Apabila kurang daripadanya dikatakan kurang dan hina. Marah memiliki batas, yaitu keberanian yang terpuja, dan enggan melakukan kekurangan dan kehinaan, dan inilah yang sempurna. Apabila telah melewati batasnya, maka dikatakan serong. Apabila berkurang dikatakan takut dan tidak enggan melakukan kerendahan.

Senang kepada dunia itupun mempunyai batas… yaitu kecukupan dalam urusan dunia dan bisa mendapatkan bekal daripadanya. Apabila kurang akan terhina dan menyiakan. Apabila tambah dan melebihi target termasuk tamak dan senang kepada hal yang tidak perlu.

Makdus mempunyai ukuran yaitu cepat-cepat dalam merebut kesempurnaan. Barangsiapa melewati batas maka termasuk dzalim yang berkeinginan untuk lenyapnya suatu nikmat dari orang yang dihasudi, lalu senang menyakitinya. Apabila kurang dari itu, maka termasuk kehinaan, lemah cita-citanya dan semangat dan berjiwa kecil.

Rasul bersabda:
Tiada hasud kecuali dua hal; seorang lelaki memiliki harta, lau digunakan untuk kebenaran, dan seorang lelkai yang diberi hikmah (ajaran al-qur;an atau hadits) lalu ia menghukumi dengan dan diaarkan kepada manusia (HR. Bukhari).

Ini adalah hasud (baca keinginan) untuk berlomba-lomba agar seperti orang yang diingini, bukan keinginan yang terhina untuk mencari agar nikmat orang yang diingini lenyap.

Syahwat juga memiliki ukuran yaitu ketenangan hati dan pikiran dari melakukan taat, mendapatkan keutamaan dengan susah payah, dan berupaya untuk mencapainya. Apabila telah melebihi dari hal tersebut maka bisa dikatakan suka makan dan bisa digabungkan ke derajat binatang. Apabila kurang daripadanya maka bisa dikatakan lemah dan hina.

Ketenangan mempunyai ukuran mengembalikan tenaga untuk mempersiapkan diri untuk menjalankan keutamaan sekiranya bisa memperlemah diri dalam menjalankan kebaikan. Apabila istirahatnya melebihi target bisa dikatakan suka menunda-nunda persoalan, malas da menyianyiakan waktu, lalu banyak maslahat diri yang terabaikan. Apabila kurang bisa membahayakan kepada kekuatan tubuh dan menghinakannya, malah bisa habis tenaga.

Murah hati memiliki batas antara dua sisi, bila melewati batas dikatakan israf atau tabdzir. Apabila kuranng dikatakan bathil atau irit.

Keberanian mempunyai batas bila melewatinya bisa dikatakan serampangan. Apabila kurang daripadanya bisa dikatakan penakut.

Cemburu juga ada batasnya, bila melebihi bisa dikatakan tuduhan dan sangkaan jelek kepada orang yang bersih, dan bila kurang daripadanya dikatakan lalai atau prinsip orang yang tidak mempunyai cemburu.

Tawadhu’ juga mempunyai batasa, bila melebihi batas bisa dikatakan kehinaan atau rendah budi, bila kurang daripadanya bisa dikatakan congkak atau bangga.

Kemuliaan juga memiliki ukuran, bila melebihi bisa dikatakan sombong atau akhlak tercela, bila kurang bisa dikatakan hina atau rendah budi.

Ukuran dalam hal ini adalah adil atau keseimbangan, yaitu selalu mengambil jalan tengah antara mengabaikan dan terlalu memperhatikan. Di sinilah kemaslahatan dunia dan akhirat dilandasi, bahkan kemaslahatan tubuh tidak bisa berjalan baik kecuali dengannya. Apabila keseimbangan dalam tubuh ini berkurang atau melewati batas maka kesehatanpun akan porak poranda. Apabila berada dalam keadaan pertengahan antara dua sisi yang tidak baik, maka termasuk orang yang bisa membuat keseimbangan. Apabila telah serong ke salah satunya bisa dikatakan kekurangan dan menumbuhkan kekurangan yang kedua.

Termasuk ilmu yang termulia adalah ilmu tentang batas atau ukuran, apalagi batas syari’at yang diperintahkan atau yang dilarang, manusia yang paling alim adalah manusia yang paling mengerti tentang batas itu, hingga tidak memasukkan apa yang memang tidak termasuk di dalamnya dan tidak mengecualikan apa yang mestinya tidak terkecuali.

Manusia yang paling sederhana dan paling lurus adalah manusia yang bisa berbuat sesuatu yang sederhana, berada dijalan tengah baik akhlak atau perbuatan dan beberapa syari’at yang lain baik bidang pengetahuan atau perbuatan Wabillahit Taufiq.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Memetik Manfaat Al-Qur’an. Daar Al Yaqiin li An Nasyar wa At Tauzii’, Mesir, Al Manshur.2000.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment