Sunday, 7 August 2011

Makna Berbuat Kebenaran Kepada Allah



Sungguh bahagia orang yang berbuat kebenaran terhadab Rabbnya, lalu engakui dirinya sendiri masih bodoh, sekalipun ia adalah orang yang berilmu. Disamping itu, juga mengakui beberapa noda dalam amal perbuatannya, aib dirinya, mengabaikan hak-Nya dan menganiaya dalam rangka mu’amalah dengan-Nya. Apabila ia tersiksa karena dosanya, maka ia melihat keadilan-Nya. Dan apabila tidak disiksa, maka harus melihat anugerah-Nya yang patut (wajib) untuk disyukuri.

Apabila berbuat kebaikan, maka harus dilihat dari sisi nikmat-Nya dan sedekah dari Allah kepadanya. Apabila sudah diterima, maka hal itu merupakan nikmat, dan sedekah yang kedua. Sedangkan jika ditolak, maka harus dilihat, bahwa amalan seperti itu mungkin memang tidak layak diajukan kepada-Nya.

Apabila menjalankan perbuatan maksiat, maka harus dilihat bahwa Allah telah membiarkannya, menghinakan dan tidak memberikan  jaringan pemeliharaan kepadanya. Hal itu Allah lakukan berdasarkan  pada keadilan-Nya. Lalu melihat pula, bahwa ia (sang hamba) selalu membutuhkan kepada-Nya dan ia menganiaya dirinya sendiri. Apabila dampuni oleh Allah, maka kesemuanya itu semata-mata hanyalah karena kebaikan, kebijakan dan kemuliaan-Nya.

Persoalan pokok yang harusnya dipahami adalah, bahwa Rabbnya selalu berbuat baik, dan tidak memiliki pandangan yang bersifat negative kepada dirinya, kecuali apabila sang hamba berbuat sesuatu yang jelek (batil), atau mengabaikan perintah-Nya, atau selalu kurang dalam berhikmah, lalu tidak mau melihat apa menggembirakan dari anugerah-Nya, dan kebaikan-Nya kepadanya. Juga setiap apa yang membuat risih terhadap dirinya sendiri adalah semata-mata karena dosa dan nodanya, serta keadilah Allah kepadanya.

Sementara orang-orang yang senang, telah kluar dari rumah kekasuhnya seraya berkata: “Semoga Allah member berkah kepada penghuninya.” Bergitu juga orang yang senang apabila telah melewati beberapa tahun dalam timbunan tanah, lalu ia teringat akan ketaatannya di dunia, cintanya kepada sesama, rahmatnya yang sering datang bagi orang lain dan siramannya yang menyejukkan bagi orang yang bertempat tinggal.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Memetik Manfaat Al-Qur’an. Daar Al Yaqiin li An Nasyar wa At Tauzii’, Mesir, Al Manshur.2000.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment