Friday, 5 August 2011

Dua Jalan Manuju Makrifat Kepada Allah



Allah swt telh mengajak kepada para hamba-Nya agar bermakrifat kepada-Nya dengan dua jalan, yaitu:

1.    Melihat terhadap perbuatan-Nya.
2.    Berfikir kepada ayat (tanda) kekuasaan-Nya dan sekaligus menelitinya.

Itu adalah tanda kekuasaan yang bias ditangkap oleh panca indera, dan merupakan tanda kekuasaan yang rasional. Bagian pertamanya adalah seperti disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya berikut ini:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berjalan di lautan dengan membawa barang yang bermanfaat kepada khalayak manusia, dan air yang diturunkan Allah dari langit (berupa air hujan), yang bias menghidupkan bumi setelah matinya (bias menumbuhkan pepohonan dan tanaman, padahal asalnya gersang), lalu binatang disebarkan di bumi dan diciptakan hembusan angin, awan yang berarak antara langit dan bumi, kesemuanya itu sebagai tanda atas kekuasaan Allah bagi kaum yang mau menggunakan akal pikirannya. (Al-Baqarah, 164)

Ayat seperti yang telah disebutkan di atas amat banyak jumlahnya di dalam al-qur’an. Yaitu, beberapa hal yang telah menunjukkan terhadap perbuatan, serta perbuatan menunjukkan sifat. Dengan kata lain, bahwa hal yang dibuat menunjukkan kepada hamba-Nya. Hal itu mengharuskan bagi adanya wujud-Nya, kehendak-Nya, dan juga ilmu-Nya. Karena tidak mungkin terjadi perbuatan keluar dari barang yang tidak ada; atau barang wujud yang tidak memiliki kemampuan, hidup, ilmu, dan tidak memiliki iradah (kehendak).

Kemudian barang ciptaan yang begitu banyak dan juga memiliki beberapa keistimewaan yang berlainan ini menunjukkan adanya kehendak dari sang penciptanya. Dan sesungguhnya ciptaan tersebut  tidak hanya satu, dan tidak pula berulang-ulang (dalam substansi yang sama).

Yaitu, ciptaan yang terdapat beberapa hikmah, serta kemaslahatan, dan tujuan terpiji menunjukkan atas kebijaksanaan-Nya.

Atau ciptaan yang memiliki unsur kemanfaatan, serta perbaikan dan lainnya, dimana hal itu menunjukkan akan belas kasih-Nya.

Atau ciptaan yang memiliki kukuatan fisik, yakni kuat untuk membalas dan memberi penyiksaan, dimana hal itu menunjukkan sifat marah-Nya.

Atau ciptaan yang memiliki kemuliaan, pendekatan serta perhatian, dimana hal ini menunjukkan adanya sifat marah dan juga benci-Nya.

Atau ciptaan yang dimulai dengan sangat kurang dan lemah, lalu berevaluasi sampai sempurna, dimana hal itu menunjukkan bagi adanya hari kebangkitan.

Atau ciptaan yang menggambarkan tentang keadaan tanaman dan beberapa air yang berganitan menunjukkan adanya kemungkinan hari kebangkitan.

Atau ciptaan yang terdapat beberapa kesan belas kasih dan kenikmatan terhadap makhluk-Nya, dimana hal itu termasuk tanda keabsahan Nubuwah.

Atau ciptaan yang terdapa beberapa kesempurnaan yang apabila tidak memilikinya, maka akan tampak kurang sebagai bukti bahwa pemberi kesempurnaan ini lebih sempurna kedudukannya.

Jadi, ciptaan-Nya inilah yang merupakan permulaan sesuatu yang menunjukkan sifat-sifat-Nya, dan kebenaran apa yang telah dikatakan oleh para Rasul. Ciptaan yang bias dilihat ini bias dibuat sebagai dasar untuk membenarkan kepada ciptaan yang hanya bias ditangkap dengan panca indra.

Dia (Allah) lebih dikenal daripada hal yang dikenal dan lebih jelas keberadaan-Nya dari segala apa yang jelas di alam ini.

Segala sesuatu bisa di ketahui karena Allah menurut hakikat-Nya, sekalipun secara teori Allah bisa dikenal dengan cara melihat dan mencari bukti terhadap perbuatan dan hukum-Nya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.Memetik Manfaat Al-Qur’an. Daar Al Yaqiin li An Nasyar wa At Tauzii’, Mesir, Al Manshur.2000.




Reactions:

0 comments:

Post a Comment