Monday, 7 May 2012

Teori Perang Bubat (Analisa Kitab Kidung Sunda)




Kalau asumsinya perang dilapangan luas Bubat atau yang sering disebut “Perang Bubat” antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda Galuh ini benar-benar terjadi, semua pihak harus menerimanya secara elegan bahwa ini adalah bagian dari peristiwa sejarah yang harus dihormati keberadaanya. Tidak seharusnya dijadikan sentimen kesukuan, dan terlalu picik bila ini dipandang sebagai dendam kesukuan, tidak ada kaitannya, karena ini adalah proses sejarah yang bisa jadi menentukan keberadadaan bangsa Indonesia masa kini.

Banyak terdapat informasi penting sebenarnya dari Kitab Kidung Sunda kalau kita analisia, kitab ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain kitab Pararaton, walau kitab resmi kerajaan Majapahit yaitu kitab Negarakertagama, yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu.

Pupuh I dari kitab kidung Sunda disebutkan nama raja kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk, nama Hayam Wuruk ini diangkat juga oleh kitab Pararaton, inilah kaitannya dan kenapa dikatakan bahwa kitab Kidung Sunda dan Pararaton adalah 2 kitab saling menguatkan yaitu dalam peristiwa perang Bubat. Teramat aneh kalau masyarakat menerima sebutan raja Majapahit Sri Rajasanagara dengan Hayam Wuruk, Hayam adalah kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti Ayam, sedang Wuruk sama kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai arti jago lebih kearah jagoan kelahi. Inilah hebatnya yang mempromosikan kitab Pararaton sehingga nama Hayam Wuruk seolah-olah benar nama sebutan atau panggilan dan tidak tanggung-tanggung nama seorang raja besar kerajaan Majapahit. Bahkan pemerintah pun mengakui sebutan itu.

Informasi lainnya seperti hal-hal yang mustahil, tidak masuk logika dan berbau mistis, seperti petikan ini:

"Maka beliau (red-Gajah Mada) mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala)

Kitab Kidung Sunda dilihat dari seluruh isinya berupa narasi untuk sebuah kisah, lebih kearah fiksi fantasi artinya ada hayalan imaginer dari si pembuat atas peristiwa yang diceritakan . Tentu saja kebenaran sejarah untuk narasi seperti ini sangat diragukan bisa jadi tidak ada nilai sejarahnya, bisa jadi pula bawa perang Bubat ini hanyalah rekayasa mengikuti cerita sebelumnya, karena kitab Kidung Sunda ini diterbitan setelah kitab pertama yang memuat kejadian serupa mengenai perang Bubat diterbitkan terlebih dahulu yaitu kitab Pararaton.

Baiklah dalam hal initidak diperdalam lebih lanjut mengenai keaslian, kebenaran atau kepalsuan dari kitab Kidung Sunda dan Pararaton, tetapi lebih fokus menganalisa isi yang disampaikan oleh kitab Kidung Sunda mengenai kejadian perng Bubat, mari perhatikan petikan dari kitab Kidung Sunda:

Petikan sebagian kitab Kidung Sunda (terjemahan) Pupuh I :

Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”. 

Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan kitab Kidung Sunda diatas salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari Kerajaan Sunda Galuh, yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil, jumlah total armada itu sekitar 2.000 buah perahu terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.

Hitungan matematis sederhana, kalau dimisalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, berarti jumlah rombongan sekitar 20.000 orang, ini jumlah yang terlalu over dosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan. Bayangkan lagi kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai sekitar 40.000 orang, dan itu juga bukan jumlah sedikit, jumlah itu cukup untuk sebuah rencana menggempur atau menyerang suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.

Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan memakai perahu-perahu, pasti bukanlah jenis perahu kecil-kecil yang digunakan. Perahu-perahu ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak perahu lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu, kalau dihitung lagi dan dijumlahkan dari rata-rata 1 buah perahu memuat awak 30 orang, maka total jumlah orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang, jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.

Teknologi maritim atau tehnologi pembuatan perahu, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang masa perdamainya ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan perahu dan tehnologi akan sangat dimungkinkan, bisa jadi hasil membeli dari negara lain seperti yang diungkapkan bahwa perahu-perahu besar yang digunakan mirip dengan perahu-perahu tentara Mongol waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang, terlebih punya hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan Sriwijaya yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, ditambah lagi pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal atau perahu sejumlah itu.

Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, laki-laki yang harus datang ke tempat si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah kitab Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada, maka secara logika akal sehat sebenarnya itu tidak mungkin, kalau alasanya seperti itu, artinya dari awal dia sudah menghinakan diri dengan datang mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk (atau Sri Rajasanegara), kisah ini paradoks tentunya, tidak bisa diterima. Walau pun mungkin pada daerah-daerah tertentu atau kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki tapi itu tidak bisa disebut kebenaran umum.

Dalam kitab Kidung Sunda itu pula dibahas tentang Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa Wilayah Daha dan Kahuripan) dikeraton kerajaan Majapahit yang merpakan paman Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat, tapi mengapa dalam kitab kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk rajanya yang terbunuh, bahwa merekalah (para senior) yang melakukannya. Ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ikut serta dalam peperangan itu. Disini realistik juga, kelihatan jelas sisi fantasi si pengarang, dalam kenyataan perang sesungguhnya siapapun bisa saling membunuh tidak hanya pembesar dengan pembesar, prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja, atau bisa jadi mereka tidak terbunuh langsung tapi karena terkena panah atau tombak jarak jauh.

Walau pun ada sisi sentimentil dari Kidung Sunda itu yang mengatakan Hayam Wuruk menyesalkan kematian Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dikisahkan bunuh diri. Padahal kematian seperti itu bagi yang sudah sering mengalami peperangan adalah sesuatu hal biasa apalagi ajaran yang dianut memungkinkan si istri atau keluarga mengorbankan diri setelah suami atau orang tuanya tiada, atau memang secara kemanusiaan walaupun perang adalah suatu pilihan, melihat ribuan orang melayang jiwanya, tentunya sebagai kesatria perang semua melakukan penghormatan kepada pihaknya sendiri ataupun pihak lawan dengan rasa duka mendalam.

Dalam kitab Kidung Sunda juga dijelaskan ada utusan dari Majapahit ke kerajaan Sunda Galuh, yang diceritakan dan diterangkan membawa maksud dari raja Hayam Wuruk untuk melamar puteri kerajaan. Analisa yang mungkin untuk kejadian atau saat peristiwa datangnya utusan dari Majapahit, adalah bahwa utusan kerajaan Majapahit itu sebenarnya utusan kerajaan untuk meminta raja Sunda Galuh untuk tunduk dan takluk dibawah kerajaan Majapahit, pola utusan-utusan seperti itu hal biasa kalau salah satu kerajaan punya keinginan untuk menaklukan kerajaan yang lainnya, semacam peringatan tidak menyerang tiba-tiba tanpa alasan. Pada akhirnya kalau diterima berarti kedua belah pihak berdamai dengan syarat-syarat ditentukan bersama, kalau sebaliknya kedua belah pihak harus sudah mempersiapkan diri untuk memulai peperangan.

Seandainya perang itu sudah diniatkan oleh Raja Sunda Galuh, pertanyaannya adalah mengapa pramesuri dan putri keraton ikut serta. Hal ini mudah dijawab, karena asumsinya perjalanan panjang, sebuah rencana operasi militer dari tanah Sunda ke Majapahit setidaknya memerlukan waktu yang lama. Pastinya ada kapal-kapal utama yang nyaman untuk mereka, dikapal-kapal besar sudah tentunya bisa untuk anggota keluarga kerajaan melakukan kegiatan yang tidak terganggu oleh kondisi perjalan perang dari prajurit-prajuritnya yang lain, bisa dibuat senyaman mungkin. 

Keikutsertaan mereka dalam perjalanan pertempuran adalah hal biasa, seperti halnya pasukan Mongol yang melakukan perjalanan panjang (long march) ke negara lain, mereka sering membawa serta keluarganya, sekaligus mereka bisa dimanfaatkan dalam persiapan upacara keagamaan sebelum memulai peperangan dan lain sebagainya. Dalam waktu-waktu tertentu bisa jadi untuk motifator bagi pasukan dan sang raja, menambah semangat tempur prajuritnya.

Jumlah sekitar 2000 buah kapal adalah kemegahan yang sangat luar bisa, masuk akal bagi kerajaan Sunda Galuh yang hidup makmur dan besar secara luas wilayah kekuasaannya, ingin menunjukan superioritas perekonomian dan kemampuan dana mereka. Pasukan besar yang dipimpin raja Sunda Galuh itu merupakan hal wajar, gabungan dari koloninya, daerah-daerah kerajaan bawahan kekuasan kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu. Jumlah itu merupakan jumlah pasukan tentara gabungan dan pasti ada keyakinan dari mereka dapat mengalahkan pasukan tentara kerajaan Majapahit yang kemungkinan sebagian besar pasukanya masih melakukan ekspedisi atau invasi keluar wilayah ke negara atau kerajaan lainya.

Sumber sejarah lain yang menjadi pendukung kisah terjadinya perang Bubat yaitu kitab Pararaton (kitab para raja), yang salah satu petikan tentang peristiwa diantaranya :

"Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya." 

Petikan diatas memberikan informasi yaitu adanya pemberitahuan dari Raja Sunda Galuh kepada para bangsawannya, tentang pilihan penyerahan puteri raja sebagai persembahan bagi Raja Majapahit. Para bangsawan menolak pilihan itu tadi, ini artinya teori rencana penyerahan atau iring-iringan untuk mengantar sang puteri yang akan dinikahkan dengan raja Majapahit Hayam Wuruk itu tidak pernah terjadi, yang ada adalah raja Sunda Galuh beserta para pembesar kerajaanya sepakat untuk menyatakan perang terhadap Majapahit. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa peperangan ini sudah direncanakan sebelumnya, sedang dipilih daerah Bubat adalah karena lokasi dan pilihan strategi mereka yang sudah mereka tetapkan untuk menggempur atau menyerang kerajaan Majapahit.

Petikan dari kitab Pararaton :

" Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada fihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak.

Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh.
Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus.
Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.
Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya.
Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279."

Petikan diatas seperti gayung bersambut, seirama atau sesuai dengan informasi yang diberikan kitab Kidung Sunda mengenai jumlah pasukan tentara Kerajaan Sunda Galuh yang ikut berperang, yaitu dengan skala jumlah pasukan tentara yang luar biasa besar. 

Tambahan informasi yang menguatkan dari petikan diatas tentang adanya pernyataan bunyi bende dan keriuhan sorak seperti gemuruh, serta dinyatakan pula bahwa pasukan tentara Sunda Galuh yang gugur digambarkan dengan situasi bahwa sebaran aliran darah akibat banyaknya prajurit yang gugur diibaratkan seperti lautan, bangkai-bangkai manusia atau tentara seperti gunung, dan kehancuran total tanpa bersisa.

Seandainya jumlah mayat sampai menggunung itu bukanlah jumlah sedikit dan kematian seperti itu dalam perang jaman seperti itu mungkin sudah biasa dan sering terjadi, soalnya ketika pasukan Jenghis Khan menyerang kesultanan Kwarizmi, terjadi pembantaian luar bisa yang mencapai angka jutaan jiwa manusia. Konon katanya penggambaran situasinya waktu itu, kepala yang dipenggal saja pada waktu itu kalau digambarkankan membentuk bukit-bukit piramida besar, belum badan yang bergelimpangan dan berserakan dimana-mana. Sungguh pemandangan yang mengerikan, tetapi ini fakta sejarah dan kejadian ini pula yang bisa terjadi saat itu.

Pertanyaan kemudian adalah mengapa pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh dapat dikalahkan dalam perang itu, terbantai habis tak bersisa. Hal ini dikarenakan sudah ratusan tahun lamanya kerajaan Sunda Galuh tidak pernah lagi berperang dalam sekala besar dan panjang, setelah masa-mas kedamaian dan kemakmuran (abad ke-10 sampai ke-14 Masehi), walau pun setatusnya kerajaan besar yang merupakan salah satu negara adidaya ditataran pulau Jawa bahkan nusantara. Kondisi sebaliknya untuk pasukan tentara kerajaan dari Majapahit yang pada saat itu terus-menerus melakukan invasi milter ke negara-negara lain dan itu artinya selalu berselimut dengan pengalaman perang sampai saat itu.

Pasukan tentara Majapahit pada waktu itu diasmunsikan masih gencar-gencarnya melakukan invasi atau ekspedisi ke negara-negara lain, tentunya pasukan-pasukanya sebagian tidak ada diposisi wilayah kerajaan. Logika jumlah keterlibatan pasukan tentara Majapahit pada saat itu sendiri pasti berkurang dari jumlah keseluruhan total pasukan kerjaan secara keseluruhan, perkiraan paling sekitar 1/2 atau 2/3 dari pasukan tentara kerajaan Sunda Galuh yang ada disana. Tetapi dengan jumlah seperti itu pun bisa mengalahkan pasukan tentara Sunda Galuh, mengapa? Hal ini dikarenakan meraka sudah terlatih, terbiasa, tertempa dan berpengalaman dalam kehidupan perang selama itu.
Sekenario perang bisa saja diumpamakan 3 tahapan yaitu :
  1. Perang permulaan antar armada dilautan, pasukan armada lautan Majapahit terdesak karena kekurangan armada, tapi itu tujuannya bukan perang total lebih ke arah gangguan
  2. Perang pantai, disini hanya untuk melemahkan pasukan kerajaan Sunda Galuh karena yang hanya bisa dilakukan oleh pasukan perang Majapahit hanya bisa menahan melalui serangan panah dan itu ada batas pasokan panah, tapi ini paling efektif dalam mengurangi jumlah musuh.
  3. Perang darat yang terjadi dilapangan luas Bubat, disinilah perang total, dengan berbagai strategi, dan yang lebih dominan dalam perang seperti ini adalah pengalaman dan strategi.
Gajah Mada dan Hayam Wuruk punya prototipe atau sumber inspirasi metode pembentukan pasukan tentara perang, yaitu dari bangsa Mongol dengan panglima perang kaligus kaisar Imparium besar daratan Mongol yaitu Jenghis Khan, Sang Penakluk dengan priode kekaisarnya juga berkembang pada masa itu juga, walau pada masa mereka kaisar Mongol di pegang oleh penerusnya yaitu Kubelai Khan, ini juga merupakan model bagi negara-negara lain diseluruh dunia untuk sebuah cita-cita pemersatuan suku bangsa-bangsa menuju bangsa yang besar.

Gagasan utama atau ide pemersatuan ini dipelopori pertama kali oleh Sri Rajasa Sang Amurwabhumi (Ken Arok – versi nama Kitab Pararaton), pendiri Wangsa Rajasa, yang berawal sebagai penguasa kadipaten Tumapel, bagian dari kerajaan Kediri, selanjutnya mengambil alih kekuasaan kerajaan Kediri dan membentuk kerajaan baru yang terkenal dengan nama kerajaan Tumapel (Singhasari versi kitab Pararaton). Kematian raja Tumapel Sri Rajasa sama dengan kematian Jenghis Khan tahun 1227 Masehi. Keberadaan kerajaan Tumapel sudah ada dalam catatan dari Dinasti Yuan dari Cina dengan sebutanatau pelafalan “Tu-ma-pen”. Artinya memang hubungan perdagangan sudah dilakukan sebelumnya antara kerajaan nusantara dengan wilayah Cina, dan dari hal seprti inilah peta perpolitikan dunia tersampaikan ke wilayah nusantara.

Raja Majapahit masih keturunan langsung Wangsa Rasaja, yang pendirinya tiada lain raja Tumapel atau lebih terkenal sebutan Singhasari pertama, Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Ide atau gagasan perluasan wilayah Sri Rajasa kemudian ditindaklanjuti oleh turunan ke-4 yaitu raja Kertanegara, sehingga kekuasaan Tumapel yang lebih terkenal dengan sebutan Singhasari pada waktu itu sudah meluas dengan adanya misi yang terkenal dengan sebutan “Ekspedisi Pamalayu”.

Ide dan gagasan pemersatuan dan perluasan wilayah ini sebenarnya pada akhirnya bertujuan untuk menghadang gempuran kekuatan besar pasukan tentara Mongol itu sendiri, yang kemungkinan akan mengarah ke wilayah Asia bagian tenggara, tanpa kecuali wilayah-wilayah nusantara. Ide atau gagasan pemersatuan ini juga dibuat untuk sistem pertahanan semesta dan pembentukan aliansi atau tentara gabungan pasukan tentara seluruh kerajaan di nusantara menghadapi terjangan badai besar dari pasukan tentara Mongol.

Pasukan tentara Mongol bahkan sanggup memporakporandakan dan membantai sejumlah pasukan yang bisa jadi 5 kali lipat jumlah pasukanya, tentunya ini hasil buah strategi dan pengalaman perang mereka didaratan Mongol, perang antar klan (suku) menyebabkan meraka teruji untuk model perang seperti apapun.

Begitu juga dalam mengadapi pasukan besar tentara Sunda Galuh walaupun tentara yang dibawa sebegitu banyak, laksana air bah, mungkin tentara Majapahit hanya terkumpul 30.000 – 45.000 orang, tapi posisi meraka yang menguasai medan tempur dan ahli-ahli perang semua, akan dengan mudah membikin porak-porandakan formasi tentara Sunda Galuh.

Perang Bubat ini pasti perang yang sangat heroik dan penuh cerita kepahlawanan bagi kedua belah pihak (kalau asumsinya benar-benar terjadi), karena bukti prasati peninggalan jaman itu tidak pernah dibahas mengenai kepahlawanan perang Bubat, logikanya jika itu terjadi pasti didirikan monumen bersejarah bagi kedua belah pihak, karena peristiwa ini tidak mungkin terlupakan dalam sejarah kebangsaan.

Pasukan tentara Majapahit akan bertempur dengan strategi jitu, sedangkan Sunda Galuh selain strategi mengandalkan jumlah besarnya, walaupun pada akhirnya kalah dan pasti ada yang menyerah, pasukan majapahit pasti tidak akan menerima, soalnya ini mengadopsi dari kebijakan perang Genghis Khan, apa lagi posisi musuh menyerang duluan logikanya harus dibantai habis memang kalau kita ada dalam emosi perang seperti itu, kejadian terbalik kalau pasukan Majapahit kalau mereka dalam posisi menang, pasti pasukan Majapahit gantian yang akan dibantai habis.

Tapi mungkin yang lebih mengena adalah sifat kepahlawanan dari pasukan tentara Sunda Galuh sendiri, yang tidak mengenal kata menyerah, mereka melakukan perang seperti model perang Puputan yaitu perang sampai habis-habisan, dengan semangat perang yaitu sampa darah penghabisan alias gugur sebagai pahlawan perang.
Tentunya semangat kepahlawanan ini yang sangat membanggakan dan membuat siapa pun terharu termasuk pihak lawan, dan tradisi perang biasanya punya tradisi penghormatan luar biasa bagi pihak lawannya yang gugur. Itulah gambaran raja Hayam Wuruk yang merasa terharu oleh kondisi perang semacam itu, melihat kepahlawanan dari seluruh prajurit yang gugur termasuk seluruh keluarga raja dan para bangsawan.

Beda halnya kalau raja Sunda Galuh melarikan diri dari peperangan, tentunya ini akan mencedrai nilai kepahlawanan itu. Perang sampai titik darah penghabisan ini akan menjadi kebanggan pula bagi seluruh masyarakat Sunda Galuh pada waktu itu. Kalah memang tapi kalah secara terhormat dan membanggakan, tidak ada alasan bagi mereka merasa terhina atau malu.

Kalau metoda perang sampai paripurna oleh pasukan Majapahit, yang kemungkin besar kerajaan-kerajaan di Nusantara diperlakukan sama juga oleh cara-cara seperti ini yaitu perang total sampai bersih, diteror dengan cara yang serupa yaitu habisi dengan sempurna. Itu juga, sekali lagi kalau sudah dalam situasi perang, bagi meraka yang menyatakan tidak tunduk dan mengakui kerajaan kerajaan Majapahit, sehingga itu pula dalam waktu singkat dan cepat yang menyebabkan kerajaan-kerajaan Nusantara bisa disatukan dan ditaklukan.

Apa yang dilakukan raja Sunda Galuh bersama pasukan tentaranya adalah hal wajar, karena mereka mencoba mempertahankan diri kerjaannya dengan melakukan penyerangan duluan, teori serangan dadakan, daripada mereka diserang duluan, tapi salah perhitungan dan tidak didukung atau dibarengi dengan pengalaman perang pasukan.

Pada akhirnya meraka harus mengakui kekalahan itu. Sang raja Sunda Galuh beserta dengan seluruh pasukan tentara dan pengikut kerajaan Sunda Galuh menjadi para pahlawan yang gugur dengan gagah berani mengadapi resiko kematian sebagai hasil akhir dalam peperangan tersebut.

Gajah Mada terkenal mempunyai pasukan elit intelejen yang bernama Bayangkara, yang telah telatih dan terdidik mendekati sempurna, informasi penyerangan kerajaan Sunda Galuh seperti ini itu pasti akan sudah meraka terima sebelumnya dan sudah dipersiapkan antisifasinya walaupun dengan sumber daya seadanya.

Mahapatih Gajah mada, raja Hayam Wuruk dan pasukan militernya harus bekerja keras dan dengan strategi yang brilian untuk menghadapi jumlah musuh yg begitu besar, walaupun kemenangan diraih tapi jumlah pasukan yang selamat hanya tinggal beberapa ribu orang saja pastinya.

Setelah perang Bubat, pasukan Kerajaan Majapahit tidak memobilisasi pasukan besar ke pusat kerajaan Sunda Galuh setelah kemenangan itu, itu dikarenakan secara hitung-hitungan kerajaan Sunda Galuh bukan lagi kekuatan yang bisa menghadang dimasa yang akan datang dan mereka juga perlu waktu untuk memulihkan kondisi akibat yang ditimbulkan oleh perang besar tersebut.

Kitab Kidung Sunda menyatakan Gajah Mada moksa (menghilang ditelan bumi dengan cara-cara mistis), tetapi dalam Negarakertagama tentang Gajah Mada yaitu karena usianya sudah uzhhur sudah waktunya digantikan dan menikmati masa-masa tua, dan dalam diri Gajah Mada sendiri sudah merasa cukup, apa yang dia usahakan yang terakhir dengan mengalahkan pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh artinya seluruh nusantara dapat ditaklukan, perjalanan penaklukan yang sempurna.

Gajah Mada berusia 71 tahun ketika selesai menjabat Mahapatih di kerajaan Majapahit dari tahun 1313 M semenjak dia menjabat patih di kerajaan Kediri, bawahan kerajaan Majapahit sampai dengan tahun 1364 M, terhitung 51 tahun masa menjabatnya, ditambah dia sudah menjabat prajurit senior sebagai pemimpin pasukan Bayangkara, asumsi katakanlah 25 tahun berarti kisaran usianya sekitar 76 tahun, usia yang wajar sekiranya Gajah Mada tutup usia, atau Gajah Mada dengan umur segitu sudah menjadi manusia lanjut usia (red - aki-aki rempong), wajar untuk pensiun dan menikmati hidup apalagi cita-cita dan pengabdian besarnya sudah dirasa cukup.

Hayam Wuruk kalau merujuk tahun perang Bubat dari Kitab Pararaton yaitu tahun 1357 M, maka disesuaikan dengan masa menjabat Hayam Wuruk menjadi raja dari tahun 1334 sampai dengan tahun 1389 M dihitung tahun yang pada awal dinobatkannya disebut sebagai raja muda, katakanlah usia pada waktu itu 10 tahunan, artinya umur Hayam Wuruk pada saat perang Bubat terjadi adalah 33 tahun dan umur segitu Hayam Wuruk sudah menikah dan punya anak perempuan umur 14 tahun yang sudah dijodohkan dengan anak sepupunya yang nantinya akan menjadi raja Majapahit setelah raja Hayam Wuruk. Teori persembahan Dyah Pitaloka kayanya mubazir, karena Sang Prabu Raja Galuh pasti tidak mau anaknya jadi selir yang tidak menurunkan putera mahkota.

Cerita perang Bubat ini berbeda dengan kondisi cerita-cerita yang beredar secara umum,. Perangan antara rombongan para pengantar calon penganten puteri dari kerajaan Sunda Galuh untuk raja Majapahit Hayam Wuruk. Ini hanyalah analisa dari keberadaan kitab Kidung Sunda yang dianggap referensi untuk kejadian atau peristiwa perang Bubat. 

Kitab Kidung Sunda itu sendiri seperti halnya kitab Pararaton dan kitab Sundayana harus dipastikan ke absyahannya, kebenaran kandungan ceritanya. Soalnya ini sejarah, jangan hanya terjebak dan terpaku kepada cerita anak manusia, sekelompok orang atau pihak tertentu yang punya kepentingan tidak baik bagi kehidupan bangsa Indonesia, yang kemudian cerita itu malah dianggap sebagai kebenaran umum. Artinya kita akan salah kaprah dan riset sejarah dari pemerintah Indonesia sendirilah yang harusnya bertanggung jawab meluruskan kebenaran sejarah, dengan membentuk Dewan Sejarah Nasional.

Apa yang penulis ceritakan hanya berdasar asumi yaitu jika perang itu benar-benar terjadi, silakan masing-masing pembaca yang budiman untuk menganalisa sendiri kitab Kidung Sunda. Logika dan kondisi-kondisi realistiklah yang menjadi dasar bagi si penulis.

Satu hal yang jadi pertanyaan besar dalam kidung Sunda ini, pengarangnya tidak menyebut nama jelas prameswari dan puteri raja Sunda Galuh yaitu Citraresmi atau Dyah Pitaloka dan bahkan nama Raja Sunda Galuh pada waktu itu juga tidak disebut, logikanya orang yang mengarang kitab (buku) Kidung Sunda adalah orang yag terbatas pengetahuannya tentang sejarah itu sendiri, atau ini hanyalah fiksi dari cerita-cerita sebelumnyaan yang mana puteri Citraresmi atau Dyah Pitaloka sendiri hanya ada di kitab Pararaton, kitab yang dianggap benar oleh masyarakat umum, walau sebenarnya kitab Pararaton ini banyak keanehan dan kebenarnya yang sama-sama harus dibuktikan.

Akhir kata, Sri Rajasa (Ken Arok - versi Kitab Pararaton), Kertanegara, Gajah Mada dan Hayam Wuruk adalah para penganut pola dan metoda Jenghis khan, dan diterapkan sesuai kehidupan ditataran tanah Jawa dan Nusantara pada pencapaian lebih jauh. Masalah perang bubat bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan karena jastifikasi sejarah belum ada, tetapi kalau itupun benar banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Semoga semua pihak lapang dada menerima sesuatu yang terjadi dikehidupan masa lampau umat manusia, karena itulah jalan dan taqdir IILAHI.

Sumber : Bluefame.com, http://menguaktabirsejarah.blogspot.com

Reactions:

63 comments:

  1. sumber aslinya di http://menguaktabirsejarah.blogspot.com , mohon ditampilin sumber itu ya gan dan dibuat linknya....thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau boleh tau emang Anda dari mana? Asal mana?

      Delete
    2. saya pribadi dr banten .. knp bang ?

      Delete
    3. Jiaa, dasar orang jawa, udah licik, sok ngaku2 org banten, malu ya jadi orang jawa? Kalo plagiat gak malu ya?

      Delete
  2. Sudahlah tidak usah meributkan yang lalu. Yang pasti semenjak dulu di kerejaan-kerajaan jawa banyak intrik dan kelicikan. Beda dengan kerajaan-kerajaan di nusantara lainnya.

    Di jawa ada bunuh-bunuhan ken arok dan tunggul ametung demi kekuasaan. Belum lagi jaya katwang dari kediri yang menyerang dengan licik singasari. pemberontakan rangga lawe, pemberontakan lembu sora dll.

    Itulah mengapa bangsa indobesia tidak pernah maju di pimpin orang jawa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kelihatan sekali tulisan anda dipengaruhi sentimen kesukuan & rasa sakit hati yang tdk jelas..., pdhl anda sendiri juga nggak tahu bahwa kakek buyut anda pernah ikut rombongannya Prabu Linggabuana k Bubat. Jadi nikmati aja sejarah itu

      Delete
    2. susilo bambang yudoyoNO = NO - TO - NO - GO - RO ... seharusnya dalam sumpah gajah mada itu di perjelas kalau pemimpin yg bernama NO - TO - NO - GO - RO (belakangnya NO - TO - NO - GO - RO) itu cuma pemimpin yg nyengsarain rakyat dan penampung para koruptor ...

      Delete
    3. suatu saat sejarah akan terungkap,,,,dan dunia akan tahu,,,,,mulia mana org sunda dan org jawa...
      siapa yg paling banyak koruptor dan jiwa menjajahnya?
      sunda atau jawa?

      Delete
    4. untung aja gak dibabat abis tuh kerajaan sunda galuh sama pasukan bayangkhara majapahit, biar gak cuma jawa timur sama jawa tengah aja yg bisa bhs jawa tapi seluruh tanah jawa, untung

      Delete
    5. Kalo bisa di habisin habisin aja,itu baru kerajaan sunda galuh belom kerajaan sunda pakuan ataw padjadjaran,ingat yg lbh dulu hancur itu majapahit setelah adanya demak bintoro,dan padjadjaran msh ada

      Delete
  3. Makanya salah satu cara nutupin kejelekan/kelicikan orang jawa dengan cara seperti ini,
    1. dia nampilkan sumber tidak merujuk ke sumber yang asli.
    2. di jaman orde lama dan orde baru tidak ada sejarah sunda yang bisa masuk ke dalam buku sejarah Indonesia.

    ReplyDelete
  4. @ejang :
    ok sipp ..

    @cendrawasih & Anonim :
    sip sip ..

    ReplyDelete
  5. Oleh karena itu sejarah ya sejarah tidak boleh ada unsur intervensi, yang baik katakan baik yang jelek katakan jelek, so dituntut kejujuran dari semuanya bukan ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia, bner gan, mesti'y ch objektif, jd kita tau mana yg sesungguhnya ..

      Delete
    2. ANTI RUBAH SEJARAH DENGAN ASUMSI SAMPAH22 October 2013 at 22:44

      itu bukan tau tapi itu so tau, dasar GOBLOK mnding gk usah di publis krna tulisan kya gini yg malah mnghilangkan sejarah dan kejadian yg sbnernya juga bisa mmecah belah bangsa lgi..

      Delete
    3. ANTI RUBAH SEJARAH DENGAN ASUMSI SAMPAH22 October 2013 at 22:48

      itu bukan tau tapi itu so tau, dasar GOBLOK mnding gk usah di publis krna tulisan kya gini yg malah mnghilangkan sejarah dan kejadian yg sbnernya, juga bisa mmecah belah bangsa lgi..

      Delete
  6. Yang saya heran kenapa kitab sundayana kok redaksinya ada di bali yang dikenal dengan Geguritan Sunda.
    1. Apakah mungkin orang sunda tinggal di Bali terus mengarang cerita ini (geguritan sunda) ?
    2. Kemungkinan lainnya yaitu Pengarang cerita ini adalah orang jawa dengan maksud untuk meredam amarah/kebencian orang sunda terhadap orang jawa.
    3. Kalau geguritan sunda ini dibuat seratus tahun lebih setelah hayam wuruk meninggal, dan kerajaan majapahit mengalami penurunan/perpecahan/ kebangkrutan bahkan diambang kehancuran setelah beliau wafat, cerita ini dibuat untuk meredam amarah/dendam keturunan2 kerajaan sunda supaya tidak terjadi serangan balam dendam, terutama dari anaknya raja sunda itu yg masih hidup. (Lebih ke unsur politik).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketika itu Hayam Wuruk menyesalkan tindakan Gajah Mada dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

      meskipun Bali sering kali dianggap sebagai pewaris kebudayaan Majapahit, masyarakat Bali sepertinya cenderung berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini, seperti terbukti dalam naskah Bali Kidung Sunda. Penghormatan dan kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah berani menghadapi kematian, sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan ajaran Hindu mengenai tata perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya, bahwa kematian yang utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan laga. Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya dalam kebudayaan Bali, yakni tradisi puputan, pertempuran hingga mati yang dilakukan kaum prianya, disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum wanitanya. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah, tetap hidup, tetapi menanggung malu, kehinaan dan kekalahan.

      Delete
  7. hilangkan primordialisme, hilangkan sukuisme, yang ada hanya islam. kita semua bersaudara. dengan islam semua kerajaan jadi bersatu.

    ReplyDelete
  8. saya orang sunda orangtua saya masih ada keturunan raja galuh dari ciamis,
    atas nama jiwa masih sakit hati dengan semua kebohongan ini, cuma saya berpikir kedepan dan berpikir dewasa, karena alloh memberi 2 mata dan disimpan didepan, bkn dibelakang, yg artinya tatap kedepan jgn kebelakang.
    Anda menutupi aib gajahmada,majapahit!!
    Jangan pikir orang sunda bodoh hey bung!
    Pernyataan anda adalah kebohongan besar!

    ReplyDelete
  9. kancut kalo gak punya referensi yang jelaas gak usah nulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inikah tabiat orang yang ngaku keturunan Raja....??? Dari tulisan aja dah kentara klo anda keturan pembohong yaitu Raja kancot bkn Raja Pajajaran. Thank's

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Yang jelas kebenaran dan kebesaran Majapahit sudah diakui di negara ASEAN dan menjadi anutan berdirinya RI.
    Di zaman sejarah kerajaan, penaklukan dan penundukan terhadap kerajaan lain adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Bukan hanya Sunda, bahkan Bali, Banjar dll, juga ditundukkan. Mereka tidak pernah mempermasalahkan. Bahkan di Bali, Brawijaya diagungkan.
    Saya di Palembang, Sriwijaya juga ditundukkan. Rakyat Palembang tidak mempermasalahkannya, karena seorang ksatria bangga dengan kemenangan Sriwijaya yang pernah diraih dan juga dengan lapang menerima kekalahan atas serangan Majapahit.

    Bagaimanapun kami bangga dengan Sriwijaya yang pernah jaya pada masanya. Meskipun akhirnya dikalahkan Majapahit, tapi walaubagaimanapun setiap kerajaan memiliki kejayaan pada masanya dan pasti akan digantikan kejayaan itu oleh kejayaan kerajaan lain. Tidak ada kerajaan yang abadi. Ada masa kejayaan dan tentunya ada masa keruntuhan. Dan kita harus menerima dengan jiwa ksatria.


    Sriwijaya.
    Salam Sejarah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dasar goblok lu, gk ada bukti otentik kalo sriwijaya di taklukin ama majapahit, orang indonesia khususnya suku jawa itu udah kemakan sama sumpah gajah mada, kalo emng di kenal sama negara lain itu karna majapahit cuma nglakuin kerjasama politik aja hnga dkenal oleh negara lain..

      Delete
    2. Pajajaran runtuh tetapi tidak dihancurkan atau dikalahkan oleh kerajaan/bangsa lain, termasuk oleh Majapahit. Pajajaran menghilang karena memang telah waktunya untuk menghilang. Oleh karena itu apabila dalam sejarah tercatat bahwa Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit telah berhasil mempersatukan nusantara, ini tidak sepenuhnya benar. Karena Gajah Mada sebenarnya telah gagal menaklukan Pajajaran. Gajah Mada telah bertingkah licik, dalam ambisinya untuk mengalahkan Pajajaran dia menggunakan diplomasi politik dengan cara ingin menikahkan Putri Dyah Pitaloka (putri kerajaan Pajajaran) dengan Prabu Majapahit. Tetapi sayangnya sang patih malah membokong dari belakang dengan menyerang iring-iringan pengantin di Majapahit, setelah kesepakatan pernikahan dibatalkan karena Prabu Majapahit hanya akan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai selir.

      Delete
    3. Beda Konteks kalau bicara perang antar kerajaan , ini bicara tentang pembantaian rombongan pengantar pengantin.

      Delete
  12. namanya juga sejarah.... apa lagi dah ratusan taon ... gan gan yang baru kemaren aja ( g30 s ) AJA GAK JELAS DALANGNYA

    ReplyDelete
  13. Kita skrg dah jadi bangsa besar NKRI..., jadi knp kita sll picik dg dendam2an antar sesama bangsa Indonesia. Klo pingin dendam tuh ma penjajah yg pernah ngabisin banyak nyawa org Sunda, Jawa, Sumatra & suku lain di Indonesia. Bagaimana bangsa ini bisa maju jika banyak org picik dengan dendam yg nggal jelas. Dah nggak jamannya dendam2an.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan masalah picik atau dendam, tapi kita harus meluruskan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

      Delete
  14. gajah mada menjadi tokoh yang disalahkan dalam sejarah. memang itulah kenyataan nya.

    Kerajaan Sunda runtuh tetapi tidak dihancurkan atau dikalahkan oleh kerajaan/bangsa lain, termasuk oleh Majapahit. Kerajaan Sunda menghilang karena memang telah waktunya untuk menghilang. Oleh karena itu apabila dalam sejarah tercatat bahwa Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit telah berhasil mempersatukan nusantara, ini tidak sepenuhnya benar. Karena Gajah Mada sebenarnya telah gagal menaklukan Sunda. Gajah Mada telah bertingkah licik, dalam ambisinya untuk mengalahkan Sunda dia menggunakan diplomasi politik dengan cara ingin menikahkan Putri Dyah Pitaloka (putri kerajaan Sunda) dengan Prabu Majapahit. Tetapi sayangnya sang patih malah membokong dari belakang dengan menyerang iring-iringan pengantin di Majapahit, setelah kesepakatan pernikahan dibatalkan karena Prabu Majapahit hanya akan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai selir.

    setelah kejadian itu, Hayam Wuruk menyesalkan tindakan Gajah Mada dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

    jadi jelas Sunda tidak pernah ditaklukan oleh Majapahit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akur gan.... Bravo pajajaran.....banyak versi perihal bubat ini. Tp sy bangga jadi keturunan pajajaran

      Delete
    2. Setuju gan, mari kita juga rajin menulis, setidaknya admin ini sudah mau nulis, meskipun masih jauh dari sempurna, karena interprestasi pada naskah kuno tentang perang bubat, dilakukan secara emosional, favoritism, serta alat/tehnik analisa yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Ingat, Orang Jawa dan Sunda adalah saudara, terlebih jika ada ikatan keimanan ISLAM, haram hukumnya untuk saling merasa lebih unggul, apalagi saling membeci. Jika dulu Patih GajahMada teledor, let it be told as it was, Ngga usah kita musuhin orang Jawa sampai sekarang, Orang Raja Hayam Wuruk sudah minta maaf ko.

      Delete
  15. Tidak ada sumber yang sahih (dalam bentuk prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Majapahit) yang mengisahkan tentang perang Bubat ini. Bahkan kitab Negarakretagama mengisahkan tentang penghormatan kerajaan Majapahit terhadap wilayah sebelah Barat pulau Jawa (silahkan baca Pupuh XVI ayat yang kedua).

    Bilamana ada di antara saudara-saudara yang dapat menemukan sumber-sumber sejarah yang sahih (dalam bentuk prasasti peninggalan Majapahit) silahkan menuliskannya di sini.

    Jangan kita mau dibodohi oleh kaum kolonialis (Belanda) yang memang menjalankan politik 'devide et impera' demi untuk menguasai wilayah Nusantara ini. Bukankah Sunda juga merupakan bagian dari tanah Jawa ? Oleh karenanya, marilah kita semua secara obyektif, dengan kepala dingin untuk menjalin persatuan dan kesatuan bangsa yang kuat sehingga kita tidak mudah untuk dipecah-belah.

    Salam perdamaian Nusantara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sumber yang sahih adalah cerita turun temurun dari leluhur kami ditatar Sunda.
      Saudara boleh cek ke seluruh tempat di tatar Sunda, pernah lihat ada Jalan dinamai Hayam Wuruk atau Gajah Mada atau Majapahit?? Tanya kenapa??

      Delete
    2. karena mereka dibutakan sama sejarah yg dibikin belanda....
      lebih percaya omongan kolonialis yg jelas" njajah 300 thn lebih
      drpd menggali kbenaran berdasarkan logika...

      Delete
    3. suatu saat sejarah akan terungkap,,,,dan dunia akan tahu,,,,,mulia mana org sunda dan org jawa...
      siapa yg paling banyak koruptor dan jiwa menjajahnya?
      sunda atau jawa?

      Delete
  16. Gue tau siape yg nulis kidung sunda jg kitab pararaton, mao tau lo pade???
    Yg nulis petani, yg nyuruh bangsa asing yg pengen ngejajah RI.
    Kalo lo pade kaga percaya, sono lo datengin musium data pustaka ttg agresi2 penjajah RI dijaman kerajaan. Jadi intinye ampe skrg yg masi aje ngeributin soal dongeng kaga bener ini artinye cuman atu yaitu: BEGO!

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari tutur bahasanya saja anda tidak sekolah

      Delete
  17. Tentang nama Hayam Wuruk yg merupakan nama sunda, maka nama Raden Kudha Merta (Pajajaran) disebut merupakan ayah Hayam Wuruk.

    ReplyDelete
  18. seruu... tapi lebih seru baca2 yg berkomen, kocakkk abisss.. :3 sorry ....

    ReplyDelete
  19. Dari jmn kerajaan sampai skg, Indonesia itu org2 nya suka kepruk2 an (gelut), bahkan smpai skg, di DPR, di instansi keamanan, di sekolah, dsb, sukanya berantem hanya krn berebut sesuatu yg dianggap benar.
    Sampai2...masalah koment aja smpe bertengkar. Untung koment di jaman skg, bkn di jln kerajaan, bisa2 hbs eyel2 an koment trus klo ngga terima ya bisa jd tawuran. Ya to ...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klu saja majapahit datang ke pajajaran.... Blum tentu majapahit menang.....pada masa itu pajajaran masa keemasanya.... Sy bangga jadi keturunan pajajaran

      Delete
    2. Itu buktinya gugur semua dibantai di bubat, makanya perang tuh pake otak, gak otot doang

      Delete
  20. jir yang komen SO..SOan idup dijamannya yang bikin artikel so tau yang komen so tau lu idup dijaman modern atur ajah kehidupan lu sekarang kontribusi buat negara yang lu pada kasih apaan?, ga ada!!! so soan komen sejarah kaya ada keturunan ajah, bisa jadi macan ajah ga bisa, bisa jadi ayam yang katanya wuruk ajah ga bisa, kalian manusia biasa woyyy sadar!!!

    ReplyDelete
  21. Ini tulisan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, tampaknya si penulis memang sengaja ingin menciptakan perdebatan yang ujung-ujungnya mengarah ke permusuhan antar etnis, sudahlah lupakan isi tulisan macam begini, yang jelas kerajaan Sunda tidak pernah menjadi bawahan kerajaan Majapahit, itu bisa ditelusuri dari bukti-bukti sejarah yang otentik dan masih terpelihara hingga saat ini.

    ReplyDelete
  22. Orang Sunda gak punya pulau aja blagu lu, songong, goblok,!!!
    angkat kaki dari pulau jawa lu pade, nyari pulau sendiri lu jangan numpang di tanah jawa .. nyadar diri gk usah bacot ngehina orang jawa. !!!! cocot elu bau tai anjing

    ReplyDelete
    Replies
    1. lucu sekali abang ini, hanya karena pulau ini di namai pulau jawa bukan berarti semua yang hidup di sini itu orang "jawa" , dangkal otaknya kalo ngomong ga pake otak ya hahaha.

      Delete
    2. Nah lu yang lucu, gong. Tanah pasundan ya tanahnya orang Sunda, bukan orang Jawa. Namanya aja yang Jawa, orang leluhur kita dari dulu aja ga setuju tanah kita disebut tanah Jawa. Plus, pasundan ga pernah dijajah atau ditaklukin sama wong jowo. Kalian aja yang serakah pengen nguasain seluruh daerah Nusantara. Mentang-mentang pasundan sama Jawa deketan. Noh liat sejarah, kerajaan sunda udah lebih dulu ada dibanding kerajaan jawa. Daripada nyuruh orang Sunda buat bikin daerah sendiri (yang udah jelas daerahnya di tanah pasundan yang meliputi Jabar sama Banten), lebih baik bawa balik orang-orang Jawa yang ada di tanah kita. Ga tau diri amat. Udah numpang di tanah orang, diperlakuin dengan baik, tapi balesannya kayak tai. Bisanya ngejelekin di belakang. Bilang orang Sunda matre lah, pelit lah. Pantesan orang Jawa mukanya jelek-jelek, orang ketularan dari kelakuannya. Cemburunya juga tinggi, soalnya ga ditakdirin punya muka rupawan kayak orang Sunda sama suku lainnya.

      Delete
  23. loe org jawa yg tolol, nyari uang di jawabarat,,,,,loe kumuh di kampung loe tolol

    ReplyDelete
  24. makanya org jawa selalu dibantai dimana2 di seluruh indonesia,,,itu karma kelicikan raja2 loe terdahulu

    ReplyDelete
  25. diposo (itu pembantaian org jawa, bukan agama)
    dikalimantan (pembantaian org jawa timur/madura oleh dayak)
    dilampung, dll

    org sunda ga bernafsu jadi presiden,,,karena nanti akhir zaman baru dari terah asli siliwangi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak bsrnafsu apa gak mampu

      Delete
    2. Gak mampu jadi presiden, bukan gak mau, terbukti keturunan Majapahit ksatria pilihan

      Delete
    3. Maaf, orang Sunda ga seambisius orang Jawa yang serakah sama suka ngejelekin suku kami di belakang. Sodara-sodara kalian diterima dengan baik di tanah kami, jadi ga perlu jadi sok jagoan karena sodara kalian ga akan bertahan hidup tanpa bantuan kami di sini.

      Delete
  26. Kidung sunda itu bagian dari sejarah, kalo anda hanya menilai dg asusmsi anda sndiri, biarkan saya memberikan penjelasan dg asusmsi saya, disitu anda tulis bisa sekitar 60.000 pasukan sunda yg berangkat kr majapahit (jelas anda tidak ingin peperangan ini dikatakan tidak seimbang) tapi kalo anda baca lagi tulisan anda bahwa majapahit adalah kerajaan yg dibawahnya banyak sekali bawahan kerajaan, satu nusantara bahkan di luar indonesia (sekarang). Harusnya anda analisa berapa juta pasukan majapahit saat itu, walaupun hanya setengahnya, dari satu juta saja sudah 500.000 pasukan yg dipimpin mahapatih Gajah Mada. Anda menganalisa dg asumsi sendiri pak, tapi jgn sampai terlihat bodoh jga dong.. dan masih banyak yg bisa saya jawab dri analisa bapak ini. Dan bonus satu lagi, bapak coba cari sejarah kerajaan sunda, apakah setiap perang dia membawa putrinya? Bukan malah disamain sama perang di belahan bumi lain dong. Analisa tuh pendekatan bukan perbandingan.

    ReplyDelete
  27. Udah kalah kalah aja napa si, dalam sejarah, kerajaan terbesar adalah Majapahit, akui sajalah. Apa susahnya sih. Lagian juga Raja Majapahit keturunan dyah lembu Tal, keturunan sunda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga usah maksa juga kali om? Perang di Bubat,iya bangsa Sunda kalah, orang di licikin ko, (tersangka Patih Gajah Mada- persis seperti dia ngelicikin Kebo Iwa-ingat tidak ada manusia yang sempurna), tapi pasti segala perbuatan akan ada balasannya, di di PECAT Maharaja Hayam Wuruk, yang karena(mungkin kecerobohan, atau memang niat) akhirnya hubungan Majapahit - Padjadjaran memburuk. Pasca perang bubat, Majapahit hancur, Kerajaan Sunda Galuh juga hancur. Catatan Penting: Majapahit dan Kerjaan Sunda tidak akan saling serang/berperang, karena mereka berasal dari satu keturunan, itulah kenapa Kerajaan Sunda eksis pada masa Kerajaan Majapahit dalam tingkat yang sederajat bukan taklukan atau vassal state, karena saling menghormati. Akhirul kalam, Sunda,Jawa,Melayu Manado,Bali dll adalah saudara, atau setidaknya sodara tetangga dekat yang sudah sepakat untuk terikat dalam satu Bangsa Besar ---Nusantara.

      Delete
  28. Menurut opini saya, kita harus membuat suatu ideologi baru yang akan menempatkan orang-orang bumi itu pada tempatnya masing-masing, baik itu suku dan ras budaya masing-masing. Contoh: uni soviet terpecah pada tahun 1991, anggaplah soviet itu bernama Nusantara yang pemahamannya dikembangkan oleh orang jawa itu. Mereka terpecah akibat suatu pandangan yang tidak dibutuhkan dan tidak adil. Penekanannya di Indonesia adalah ribuan suku di bumi indonesia ini harus membuat ideologi baru yg dapat memerdekakan bangsa individu dari pemahaman nusantara yang busuk itu oleh jawa. Karena mereka pemimpin bumi adalah orang Jawa, maka kita kembangkan eksistensi budaya masing2 dengan memerdekakan diri dari sikap kapitalisme orang2 jawa itu. Ini opini saya sih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Opini cerdas dan visioner, namun 'berbahaya' dari sudut pandang ke Nusantaraan. Kita berantem disini gara-gara asumsi kocak penulis yang serampangan dan mencoba mengkoreksi sejarah sesuai dengan fantasi nya. Kidung sundayana adalah kaya sastra berdasarkan fakta dari seorang pandita/santrawan bali atas instruksi langsung Hayam Wuruk.

      Delete