Rabu, 07 September 2011

Pajang : Kerajaan Islam Kedua Di Tanah Jawa



Kesultanan Pajang adalah pelanjut dan dipandang sebagai pewaris kerajaan Islam Demak. Kesultanan yang terletak di daerah Kartasura sekarang itu merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman pulau Jawa. Usia kesultanan ini tidak panjang. Kekuasaan dan kebesarannya kemudian diambil alih oleh kerajaan Mataram.

Sultan atau raja pertama kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, di lereng Gunung Merapi. Oleh Raja Demak ketiga, Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menkado penguasa di Pajang, setelah sebelumnya dikawinkan dengan anak perempuannya. Kediaman penguasa Pajang itu, menurut Babad, dibangun dengan mencontoh keraton Demak.

Pada tahun 1546, sultan Demak meninggal dunia. Setelah itu, muncul kekacauan di ibu kota. Konon, Jaka Tingkir yang telah menjadi penguasa Pajang itu dengan segera mengambil alih kekuasaan.  Karena anak Sulung Sultan Trenggono yang menjadi pewaris tahta kesultanan, susuhan Prawoto, dibunuh oleh kemenakannya, Aria Penangsang yang waktu itu menjadi penguasa di Jipang (Bojonegoro sekarang).

Setelah itu, ia memerintahkan agar semua benda pusaka Demak dipindahkan ke Pajang. Setelah menjadi raja yang paling berpengaruh di pulau Jawa, ia bergelar Sultan Adiwijaya. Pada masanya sejarah Islam di pulau Jawa mulai dalam bentuk baru, titik politik pindah dari pesisir (Demak) ke pedalaman. Peralihan pusat politik itu membawa akibat yang sangat besar dalam perkembangan peradaban Islam di Jawa.

Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaan pemerintahannya di tanah pedalaman ke arah Timur sampai daerah Madiun, di aliran anak sungai Bengawan Solo yang terbesar. Setelah itu, secara berturut-turut ia dapat menundukkan Blora (1554) dan Kediri (1577). Pada tahun 1581, ia berhasil mendapatkan pengakuan sebagai Sultan Islam dari raja-raja perpenting di Jawa Timur. Pada umumnya hubungan antara keratin Pajang dan raja-raja Jawa Timur memang bersahabat.

Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kekusastraan dan kesenian yang sudah maju di Demak, dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa. Pengaruh agama Islam yang kuat di pesisir dan menjalar tersebar ke daerah pedalaman.

Sultan Pajang meninggal dunia tahun 1587 dan dimakamkan di Butuh, suatu daerah di sebelah barat taman kerajaan Pajang. Dia digantikan oleh menantunnya, Aria Pangiri, anak susuhan Prawoto tersebut di atas. Waktu itu, Aria Pangiri menjadi penguasa di Demak. Setelah menetap di keratin Pajang, Aria Pangiri dikelilingi oleh pejabat-pejabat yang dibawanya dari Demak. Sementara itu, anak Sultan Adiwijaya, Pangeran Benawa, dijadikan penguasa di Jipang.

Pangeran muda ini, karena tidak puas dengan nisabya di tengah-tengah lingkungan yang masih asing baginya, meminta bantuan kepada Senopati, penguasa Mataram, untuk mengusir raja Pajang yang baru itu. Pada tahun 1588, usahanya itu berhasil. Sebagai rasa terima kasih, Pangeran Benawa menyerahkan hak atas warisan ayahnya kepada Senopati. Akan tetapi, Senopati menyatakan keinginannya untuk tetap tinggal di Mataram. Ia hanya meminta “pusaka kerajaan” Pajang. Mataram ketika itu memang sedang dalam proses menjadi sebuah kerajaan yang besar. Pangeran Benawa kemudian dikukuhkan sebagai raja Pajang, akan tetapi berada dibawah perlindungan kerajaan Matara. Sejak itu, Pajang sepenuhnya menjadi berada di bawah kekuasaan Mataram.

Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahu 1618. Kerajaan Pajang waktu itu memberontak terhadap Mataram yang ketika itu di bawah Sultan Agung. Pajang dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.

Dr. Badri Yatim, M.A.”Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II”.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta:2008.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar