Minggu, 24 Juni 2012

Metode Analisis Bangunan Megalitik




Analisis terhadap suatu bangunan pada dasarnya tidak hanya berkenaan dengan bagian struktur yang tampak di permukaan tanah, tetapi juga bentuk dan teknologi pondasi bangunan. Jika dalam suatu penelitian arkeologi hanya ditemukan pondasinya saja, pengetahuan tentang bentuk dan teknologi pondasi dapat digunakan untuk memperkirakan teknik pendirian bangunan, ukuran bangunan dan pertanggalan bangunan. Tulisan ini akan membahas sedikitnya tentang matode analisis bangunan khususnya bangunan megalitik. Untuk itu, kita harus mengetahui terlebih dahulu pengertian dari megalitik itu sendiri dan juga benda apa saja yang termasuk peninggalannya.


Megalitik berasal dari kata Mega yang berarti besar, dan Lithos yang berarti batu. Oleh karena itu, megalitik adalah bangunan yang dibuat dari batu besar, yag terjadi selama masih berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat sebelum ada pengaruh Hindu-Buddha dan Islam. Pada masa Hindu-Buddha dan Islam, bahkan sampai sekarang kebudayaan megalitik terus berkembang menjadi suatu tradisi yang berakar di masyarakat. Istilah megalitik selalu dikaitkan dengan kegiatan penguburan, pemujaan, dan kegiatan upacara lainnya serta aktivitas sehari-hari.

Analisis Bangunan Megalitik

  1. Jenis-jenis Bangunan Megalitik

Jenis bangunan megalitik terdiri dari :

  • Sarkofagus adalah bangunan yang terdiri dari wadah dan tutup dengan bentyuk dan ukuran yang sama (simetris).
  • Dolmen yaitu meja batu, susunan batu yang terdiri dari sebuah batu yang ditopang oleh beberapa buah batu lain sehingga menyerupai meja. Variasi dari dolmen adalah Pandhusa (Bondowoso) yang pada bagian penyangganya berupa lempengan batu yang disusun sebagai dinding dengan tutup oleh sebuah batu pada bagian atasnya.
  • Peti Batu yaitu peti berbentuk empat persegi panjang yang disusun oleh lempengan-lempengan batu yang terdiri atas lempengan dasar, lempengan penyusun empat dinding samping (kanan, kiri, atas, bawah), dan lempengan tutup. Susunan lempengan batu tersebut membentuk ruang tempat mayat dan bekal kuburnya diletakkan. Variasi lain dari peti batu adalah peti berbentuk kubus dengan tutup berbentuk atas limasan yang disebut Waruga (bahasa Minahasa), apabila kuburnya berbentuk persegi maka disebut dengan Kabang (bahasa Sumba).
  • Punden Berundak adalah struktur bangunan yang disusun berundak, baik ke atas maupun ke belakana. Pada umumnya, di bagian atas undakan maupun tebingnya diperkuat dengan batu. Kadangkala masing-masing undak terdapat beberapa sekat dari tatanan batu.
  • Tong Batu adalah wadah berbentuk silinder dengan tutup berbentuk bundar dan berukuran besar. Istilah lokal Sulawesi Tengah disebut Kalamba.
  • Bilik Batu adalah bilik atau ruangan (sebuah atau lebih) yang dinding-dindingnya terdiri dari lempengan batu yang lebar dan tebal. Biasanya bilik batu tertanam didalam tanah.
  • Menhir adalah sebuah monolit, baik yang dikerjakan maupun tidak, dengan dimensi panjang, lebar dan tebal. Menhir didirikan tegak di permukaan tanah.
  • Pelinggih (tahta batu) adalah susunan batu yang terdiri dari sebuah alas dan sebuah sandaran.
  • Batu Lesung adalah sebuah monolit yang dikerjakan atau tidak, dan pada permukaan atasnya diberi lubang yang berbentuk oval.
  • Batu Lumpang adalah sebuah monolit yang dikerjakan atau tidak, dan pada permukaan atasnya diberi lubang berbentuk lingkaran.
  • Batu Dakon adalah batu monolit yang dikerjakan atau tidak, dan pada permukaan atasnya diberi lubang lebih dari satu. Bentuknya menyerupai alat permainan dakon (bahasa Jawa).
  • Batu Temu Gelang adalah beberapa batu yang disusun hingga membentuk lingkaran.
  • Tetralit adalah beberapa batu yang disusun membentuk persegi.

  1. Teknis Analisis Bangunan Megalitik

Secara umum analisis yang dilakukan pada bangunan megalitik berupa analisis bentuk, teknologi dan konteks. Selanjutnya merupakan tahap interpretasi dengan bantuan beberapa pendekatan, seperti kuantitatif, kualitatif, perbandingan dan etnoarkeologi yang disesuaikan dengan tujuan penelitian.



  • Analisis Morfologi

Secara umum bentuk-bentuk tinggalan megalitik sudah jelas seperti telah diuraikan sebelumnya. Penjelasan temuan dilakukan dengan mengamati morfologinya, yang diawali dari penjelasan jenis temuan, juga kondisi temuah utuh, agak utuh (>50%), atau fragmentasi (<50%). Hal-hal lain yang diamati adalah susunan temuan berupa tunggal atau himpunan juga denah teman berbentuk melingkar, oval, bujur sangkar, empat persegi panjang dan tidak beraturan.


Pengukuran temuan dalam satuan cm dilakukan pada bagian panjang, lebar, tinggi, tebal dan diameter lempengan batu penyusun disertai dengan jumlah masing-masing bagian. Pengukuran pada sarkofagus, peti batu dan bilik batu dilakukan terhadap panjang wadah, lebar wadah, tinggi wadah, tebal wadah, panjang tutup, lebar tutup dan tebal tutup. Khusus sarkofagus pengukuran juga dilakukan terhadap panjang dan lebar lubang.


Pengukuran pada batu lesung, batu lumpang dan batu dakon dilakukan terhadap panjang, lebar, dan tinggi batu. Jika batu lesung, batu lumpang dan batu dakon berbentuk bulat, maka pengukuran juga dilakukan terhadap diameter batu. Khusus batu lesung, pengukuran juga dilakukan terhadap panjang dan lebar lubang, sedangkan pada batu lumpang dan batu dakon pengukuran dilakukan terhadap diameter dan kedalaman lubang. Khusus batu dakon, dilakukan juga penghitungan jumlah lubang. Pengukuran terhadap tong batu dilakukan terhadap tinggi dan diameter wadah; diameter dan kedalam lubang; serta tebal dan diameter tutup.


Pengukuran pada dolmen dilakukan terhadap panjang, lebar dan tebal batu datar; tinggi, panjang dan jumlah batu penyangga. Pengukuran pada punden berundak dilakukan terhadap panjang dan lebar denah; panjang, lebar tinggi dan jumlah teras; lebar dan jumlah tangga serta jumlah anak tangga. Pengukuran pada menhir dilakukan terhadap tinggi, lebar dan diameter. Jika menhir berbentuk persegi, pengukuran dilakukan terhadap tebal menhir.


Pengukuran pada batu temu gelang dan tetralit dilakukan terhadap kisaran panjang, lebar, tebal batu; jarak antar batu. Pada batu temu gelang pengukuran juga dilakukan pada diameter denah; sedangkan pada tetralit pengukuran dilakukan pada panjang dan lebar denah.



  • Analisis Teknologis

Untuk mendapatkan keterangan tentang bahan, maka jenis bahan temuan megalitik harus diamati secara seksama. Jenis bahan penyusun, biasanya disesuaikan dengan lingkungan sekitar, bahan apa yang tersedia apakah diambil langsung dari alam atau melalui proses pengerjaan. Analisis ini perlu memperhatikan teknik pembuatan megalit atau sering disebut dengan konstruksi merupakan hasil pemahatan atau disusun dari batu alam. Selain itu, diamati juga teknik hias temuan megalitik. Teknik hias biasanya berupa temuan megalitik teknik pahat, gores dan lukis. Sebagai contoh, pada peti kubur batu. Penggunaan jenis bahan tertentu berpengaruh terhadap konstruksi yang digunakan. Konstruksi yang digunakan adalah sederhana, sponningen dan swastika.


Konstruksi sederhana biasanya menggunakan kerikil (batu-batu kecil) yang disusun pada sudut pertemuan dinding panjang (bagian panjang) dan dinding pendek (lebar). Adapun yang dimaksud dengan teknik sponningen adalah pembuatan kubur dengan takikan/torehan/goresan antar dindingnya dengan disertai dengan batu-batu penyangganya.



  • Analisis Stilistik

Pada analisis stilistik pengamatan dilakukan terhadap ragam hias. Ragam hias pada bangunan megalitik umumnya berupa motif geometris, flora, fauna dan antropomorfiks. Raga hias tersebut biasanya mempunyai pola hias tunggal dan gabungan.



  • Analisis Kontekstual

Pengamatan dilakukan pada benda-benda di sekitar temuan megalitik. Sebagai contoh pada peti kubur, pengamatan dilakukan di dalam dan di luar peti kubur batu. Di luar peti kubur batu meliputi bentuk-bentuk temuan megalitik, yaitu menhir, arca batu, dolmen, atau yang lainnya. Juga perlu pengamatan kondisi lingkungan di sekitarnya, seperti letak/adanya gunung atau laut. Adapun pengamatan terhadap tinggalan arkeologi di dalam peti kubur batu meliputi rangka, orientasi kubur/arah hadap, dan bekal kubur. Selain itu dilakukan juga pengukuran jarak antar temuan dan jarak temuan dengan sumber daya alam yang ada disekitarnya. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui pola persebaran temuan.



Demikianlah gambaran sedikit mengenai beberapa metode dalam analisis bangunan megalitik. Mudah-mudahan bermanfaat bagi semua orang umumnya dan bagi diri pribadi saya sendiri khususnya.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar