Minggu, 17 Juni 2012

Perkembangan Terakhir Islam Di Singapura


A. Pendahuluan

Bagi kawasan Melayu, tampaknya belum ada satu teori yang secara tunggal dapat menjelaskan secara lengkap dan meyakinkan tentang kenapa terjadinya proses pengislaman secara besar-besaran di wilayah ini, sehingga Islam selanjutnya muncul sebagai agama yang dianut mayoritas terbesar penduduk Asia Tenggara. Agaknya berbagai teori itu harus dipadukan sedemikian rupa sehingga mampu menjelaskan secara lebih lengkap dan meyakinkan.

Berbagai faktor dan alur-alur kesejarahan yang ditempuh umat Islam dan masyarakat Asia Tenggara sejak kedatangan Islam sampai sekarang secara bersama-sama, baik langsung maupun tidak, mempunyai andil masing-masing dalam mengakibatkan terjadinya islamisasi besar-besaran dan sekaligus intensifikasi kesadaran keislaman.

Proses-proses itu, sering berliku-liku dan menempuh jalan yang tidak harus selalu sama, karena bagaimanapun proses islamisasi dan intensifikasi keislaman itu banyak pula dipengaruhi situasi dan faktor-faktor lokal yang ditemui Islam, inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya perbedaan dalam tingkat penetrasi Islam di berbagai wilayah di Asia Tenggara, yang pada akhirnya menimbulkan perbedaan dalam pandangan, penghayatan dan pengamalan Islam dikalangan penganutnya. Akan tetapi, satu hal yang pasti dinamika islamisasi dan intensifikasi keislaman itu tidak pernah berhenti sampai sekarang dalam berbagai bentuk perwujudan di Asia Tenggara.

Dalam makalah ini kami akan membahas bahasan yang hanya dikhususkan mengenai Islam di Singapura, pembahasannya mencakup sejarah Negara Singapura, masuk dan berkembangnya Islam di wilayah Singapura termasuk lembaga dan aktifitas keagamaan Islam dan posisi masyarakat Islam di Singapura. 

B. Letak Geografis dan Sejarah Singapura



Singapura terletak tepat di ujung pantai selatan Semenanjung Melayu, yang terpisah dari dataran Semenanjung Malaka ( Johor ) oleh Selat Johor, dan dihubungkan oleh sebuah tambak yang bernama tambak Johor. Republik Singapura merupakan sebuah Negara pulau yang terdiri dari sebuah pulau Singapura ( Temasek ) dan 54 pulau-pulau kecil, termasuk pulau-pulau karang. Luas wilayahnya sekitar 621,4  dan berpenduduk 2.800.000 jiwa, dengan kepadatan penduduk 4.590 / km.

Berdasarkan naskah Pararaton abad ke- 15 dari kerajaan Majapahit, sejak akhir abad ke- 12 Singapura merupakan salah satu dari sepuluh kota yang indah yang berada dibawah kekuasaan Majapahit. Termasuk dalam naskah Negarakertagama disebutkan pula bahwa Temasek sebagai kota-kota yang masuk dalam jajahan kerajaan Majapahit di Jawa.

Istilah Singapura sendiri muncul pada tahun 1299, ketika seorang putra Raja Tamil yang bernama Sang Nila Utama bersama istrinya Putri Banten Wan Sri Bini saat berlayar ke daerah ini. Berdasarkan legenda sejarah Melayu, setelah kedua orang ini beserta rombongannya tiba di tempat ini, mereka melihat seekor binatang buas melintasi jalan yang akan mereka lalui. Binatang itu sebesar kambing, ternyata binatang itu seekor singa, kemudian Sang Nila Utama memberi nama daerah ini dengan sebutan Singapura (kota singa).

Sejak akhir abad ke- 14 sampai pada tahun 1511 M, Singapura menjadi wilayah bagian dari kerajaan Malaka. Parameswara yang semula beragama Hindu, yang diusir oleh Majapahit dari Tumasik, kemudian mendirikan kerajaan di Malaka (1396 – 1414) dan merebut kembali daerah Tumasik ( Singapura ) ini. Akibat hubungan yang intim dengan pedagang-pedagang muslim, Parameswara akhirnya memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Iskandar Syah. Pada abad ke- 18 Singapura berada dibawah wilayah kekuasaan kesultanan Johor, dengan seorang temunggung sebagai kepala pemerintahannya.

Pada abad ke-19, Singapura sudah menjadi pelabuhan transit yang sangat penting karena jalurnya yang sangat penting. Oleh karena itu, akhirnya Inggris mengambil langkah untuk menciptakan Singapura sebagai pusat kota dagang di Asia Tenggara. Maka dari itu, pada tahun 1818 M gubernur jendral Inggris di India memerintahkan kepada Sir Thomas Stamford Raffles, untuk bisa merebut dan mengusai Singapura dan wilayah-wilayah penting lainya yang berada di daerah kawasan Melayu tersebut. Pada tanggal 28 Januari 1819 Raffles berhasil mendaratkan armadanya untuk kemudian mengadakan perundingan dengan Sultan Husain dari Johor dan tumenggungnya di Singapura Abdul Rahman, untuk mengadakan aliansi dalam penguasaan Singapura. Perjanjian ini terwujud pada tanggal 30 Januari 1819 untuk menjadikan Singapura sebagai wilayah yang bisa diatur bersama dalam satu sistem. Kemudian pada tahun 1824, Sultan Johor dan Tumenggung Abdul Rahman menyerahkan wilayah tersebut kepada Inggris dengan mendapatkan imbalan ganti rugi. Sejak tahun 1826 Singapura berubah statusnya menjadi bagian dari Straits-Settlements ( negara-negara selat ) bersama-sama dengan Penang, Malaka dan Welleslay sebagi wilayah jajahan Inggris. Singapura menjadi koloni Inggris sampai tahun 1946, karena Straits-Settlements dibubarkan, kemudian Singapura berdiri sendiri yang bergabung dalam British-Commonwealth. Tahun 1959 konstitusi Singapura terbentuk dengan pemerintahan sendiri dengan gubernurnya Sir William Goode, dengan perdana mentri pertamanya yang diangkat pada tanggal 5 Juni 1959 yaitu Lee Kuan Yew.

Tahun 1961 Perdana Mentri Malaya Tun Abdul Rahman, membuat gagasan untuk membentuk Negara Malaysia yang terdiri dari federasi  Malaya, yaitu Singapura, Serawak, Borneo Utara, dan Brunai, karena ia khawatir jikalau Singapura menjadi basis komunis. Akan tetapi hal ini menimbulkan konflik dengan Indonesia, terkait dengan perebutan Borneo Utara yang bergabung dengan Malaysia. Keadaan konflik ini dimanfaatkan oleh Lee Kuan Yew pada tanggal 9 Agustus 1965 untuk memisahkan Singapura dari Malaysia, dan terbentuklah Negara baru ditengah-tengah kebudayaan dan etnik Melayu secara umum. Sejak inilah Singapura menjadi Negara yang paling heterogen dari segi etnik, sekalipun mayoritas Melayu. Selain Melayu, mereka terdiri dari etnik China, India, dan sedikit Arab.

C. Masuknya Islam dan Perkembanganya di Singapura

Sampai sekarang belum dapat ditemukan bukti-bukti yang jelas kapan pertama kalinya islam masuk ke Singapura, tetapi berdasarkan perkiraan sezaman dengan masa aktifnya para pedagang muslim yang sudah ada di Malaka, Islam masuk ke Singapura pada abad ke- 8 karena pada abad tersebut para pedagang muslim ini telah sampai ke Kanton, China, yang kemungkinan besar akan selalu singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di semenanjung tanah Melayu ini. Disamping sebagai pedagang, para muslim ini tampaknya telah menjadi guru-guru agama serta imam di tengah-tengah kelompok masyarakat setempat, mereka mengajarkan Al-Qur’an dan mendirikan madrasah-madrasah sehingga orang-orang kampung senang pada kegiatan semacam itu, dan tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya menikah dan memperistri penduduk setempat.

Perilaku kehidupan sehari-hari keluarga muslim melayu di Singapura adalah pencerminan yang sangat kuat dari pengaruh guru-guru agama dan imam-imam masjid. Mereka terbiasa dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan dan sosial secara kolektif, mayoritas masyarakat Singapura bermazhab syafi’iyah dan sebagian kecil syi’ah.

Pada pertengahan abad ke-19, di Makkah berkembang Tarekat Naqsyabandiyah dan berkembang juga pada akhirnya di Semenanjung Melayu, termasuk singapura dan di Nusantara khususnya. Syekh Abdul Karim asal Banten merupakan tokoh TQN di Singapura abad ke-19.

 Di Semenanjung tanah Melayu ini, dan khususnya Singapura, kehidupan tasyawuf sangat kental bagi mayoritas penduduknya. Dengan demikian, secara umum karakteristik Islam Asia Tenggara, ciri yang paling menonjol adalah kehidupan tasyawuf dangan berbagai pola tarekatnya. Bukan berarti hal ini mereka tidak mengenal dasar-dasar Islam secara fundamental, tapi justru pola kehidupan tasawuf yang diajarkan oleh guru-guru Agama di surau-surau, pesantren, dan pondok-pondok sufi di Semenanjung Melayu ini, doktrin-doktrin syariat mereka menyatukan pengajaran dan pengalamannya dengan nilai-nilai hakikatnya. Dengan demikian, berbicara penyebaran Islam di Semenanjung Melayu dan Nusantara, berarti membicarakan pola-pola penyebaran tarekat sufi didalamnya.

 Di Singapura tarekat yang paling tua di kenal di daerah ini dalah Tarekat ‘Alawiyah yang berpusat di Masjid Ba’alami, yang dulu dikembangkan oleh Muhamad bin ‘Ali Ba’alawi. sekarang masih dipimpin oleh Syed Hasan bin Muhamad bin Salim al-Attas. Tarekat ini mengamalkan ritual “Ratib Abdul Rahma” setiap hari kamis malam jum’at setelah shalat magrib, sebagian besar masyarakat berbondong-bondong membawa air dibotol yang disimpan di depan mihrab masjid, untuk dilakukan doa bersama, setelah itu mereka gunakan untuk keperluan tabaruk, seperti untuk orang sakit, keberkahan hidup dan sebagainya.

Pada masa-masa sekarang Tarekat Qodariyah- Naqsabandiyah (TQN) asal pondok pesantren Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat lebih populer dikalangan masyarakat muslim di Singapura. Tarekat ini dikembangkan oleh Syekh Ahmad Shahibul Wafa Tajul’arifin di Tasikmalaya, kemudian dikembangkan di daerah ini oleh Haji Ali bin Muhammad, sebagai wakil talkinnya. Beliau sebagai putra daerah yang memiliki kapasitas pengetahuan agama Islam yang kuat secara akademik, sebagai alumni pada Madrsah al-Junaid di Singapura.

Kedua kelompok masyarakat tarekat ini telah menarik minat para pemuda pemudi untuk menjalankan pengalamannya. Sekalipun demikian ada juga beberapa jenis tarekat yang juga dianut oleh masyarakat muslim Singapura, di antaranya Tarekat Syadziliyah, Idrisiyah Samaniyah, Darwaqiyah, dan Rifai’yah, disamping itu ada pula jenis tarekat asal India yakni Tarekat Nuri Syah Chesty al-Qadiriyah dan tarekat ini banyak bercampur dengan tradisi India. Masyrakat muslim Singapura sekalipun hidup di tengah kota metropolitan dunia, penghormatan pada makam-makam para ulama sangat bagus. Mereka biasa menziarahi makam-makam Syekh tarekat, dan biasa mengadakan khaul pada waktu-waktu tertentu di tempat-tempat seperti itu, seperti makam Habib Nuh di Palmer Road, Singapura.

Posisi strategis Singapura dalam bidang ekonomi dan posisi politik umat Islam yang semakin terjepit telah menyebabkan pembaruan pemikiran dalam masyarakat Melayu dan muslim Singapura. Pada awal abad XIX, muncul jurnalisme Melayu dan aktivitas penerbitan buku-buku di Singapura. Misalnya buku-buku karangan Abdus Samad al-Palimbani, seorang ulama terkenal dari Sumatra Selatan terbit disini, dua karangannya Hidayah as-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin ­(sebuah kitab tasawuf yang berisi penjelasan tentang wihdatul wujud) dan Sair as-Salikin ila ‘badah Rabb al-‘alamin (buku yang menjelaskan hubungan dan kaitan antara tasawuf dan Syariah), keduanya ditulis dengan bahasa Melayu aksara Jawi (Arab-Melayu).

Pada tahun 1906, terbit majalah bulanan berbahasa Melayu Al-Imam: Majalah Pelajaran Pengetahuan Perkhabaran oleh Syekh Muhamad Thahir Jalaluddin dkk. Majalah ini di Ilhami dan diwarnai oleh majalah Al-Manar yang terbit di Mesir. Penerbitan majalah ini banyak mempengaruhi pemikiran dan kemajuan masyarakat Melayu di Nusantara, karenanya kemudian diikuti oleh banyak penerbitan diwilayah sekitarnya.

Dalam bidang politik, masyarakat Melayu menyadari posisinya yang minoritas,  sehingga meraka mengambil garis moderat, loyal dan partisipatif. Kebanyakan umat Islam mendukung partai People Action Party (PAP), partai ini sejak Singapura merdeka selalu mendominasi kekuasaan di Singapura. Sekalipun demikian, kecurigaan dan memandang rendah pada etnis Melayu kadang-kadang juga muncul. Misalnya, pada mei 1987, Mentri Pertahanan Singapura secara terbuka menyatakan bahwa portofolio penting pada Singapura Armed Forces tidak mungkin diserahkan pada orang Melayu, karena mereka dianggap kurang mahir, kurang loyal, dan kurang professional.

Dalam bidang pendidikan, karena mutu lulusan madrasah atau sekolah Islam lainnya dianggap tidak setingkat dengan lulusan sekolah umum pemerintah, ada keinginan pemerintah untuk memasukan pelajaran umum dengan kuantitas dan kualitas yang sama dengan sekolah pemerintah. Rencana ini disambut dengan reaksi tokoh-tokoh Melayu dan muslim Singapura. Ada yang mencurigai rencana ini untuk menghilangkan identitas, ruh, dan warna kemelayuan-keislaman mereka, sehingga mereka kehilangan identitas dan tercabut dari akar budayanya, tetapi tidak kurang juga ada yang dapat memahami dan akhirnya menerima rencana ini. 

D. Lembaga dan Aktivitas Keagamaan Islam di Singapura

Pembentukan kelembagaan keagamaan pertama bermula sejak 1880, ketika dibentuk jabatan Qadi (Hakim Agama), yang didasarkan pada Ordonansi Perkawinan Pengikut Muhammad. Selanjutnya masalah-masalah yang muncul  dikalangan internal umat Islam atau dengan umat agama lain diurus oleh Moslems and Hindu Endowment Board, pada tahun 1906. Anehnya sampai dengan tahun 1948 tidak seorang muslim pun bekerja dilembaga ini. Sampai dibubarkan pada tahun 1968, dewan ini terdiri dari: pengacara umum, tiga orang wakil umat Islam, tiga wakil umat Hindu, satu Persia, dan bendahara umum yang juga bertugas sebagai sekretaris dewan.

Oleh karena posisi Singapura sebagai transit pemberangkatan dan kedatangan jama’ah Haji di seluruh Nusantara, pemerintah Inggris kemudian mengatur dan mengambil keuntungan ekonomi dari pengaturan perjalanan Haji sejak tahun 1889, dan pada tahun 1905 mengadakan “Ordonasi” Pengawasan Agen Perantara Perjalanan Haji”. Kemudian pada tahun 1915, untuk mengurus masalah sosial keagamaan masyarakat muslim Singapura, dibentuk Lembaga Penasihat Orang-orang Islam. Lembaga ini bertugas dan berwenang megurus dan menyelesaikan masalah perkawinan, penentuan awal puasa dan hari raya, memberikan pertimbangan pada pemerintah Inggris. Semula lembaga ini dipimpin oleh orang Inggris, dengan beberapa anggota orang Islam, tetapi kemudian secara bertahap mulai tahun 1928 lembaga ini dipimpin oleh seorang muslim, yakni Hafizuddin S. Moonshi. Penetapan dan hak mengeluarkan fatwa pada mulanya hanya oleh Mufti Besar kerjaan Johor dan didampingi oleh Qadi Singapura. Akan tetapi, untuk kemudian dipegang sendiri oleh Mufti Singapura, yang mengepalai komisi fatwa (fatwa comtte) secara kolektif.

Pada tahun 1968, pemerintahan Singapura membentuk lembaga Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) yang dibentuk berdasarkan “ Akta Pentadbiran Hukum Islam 1966 (AMLA)” pada bulan Agustus tahun 1966. MUIS yang terdiri dari seorang ketua dan 7 orang anggota, tugas utamanya adalah untuk menasehati presiden Singapura mengenai hal ehwal Islam.

Selain MUIS, ada pula lembaga yang khusus bergerak dalam bidang pendidikan yaitu Majelis Pendidikan Anak-anak Muslim (MENDAKI). Dan adapula lembaga DANAMIS yaitu Dana Perwalian Muslim yang bergerak dalam bidang pendanaan sosial ekonomi umat, semacam koperasi dan lembaga keuangan non-pemerintah. Lembaga berikutnya adalah Himpunan Dakwah Islam Singapura (JAMIYAH) dan Association of Muslim Profesionals (AMP) yang didirikan pada bulan Oktober 1991, lembaga ini berkeinginan untuk mewujudkan masyarakat muslim Singapura yang siap bersaing secara terhormat untuk memasuki masa depan yang lebih baik.

E.  Posisi Masyarakat Islam di Singapura Dewasa Ini

Menyadari ketertinggalan mereka, pemerintah dan tokoh-tokoh Islam mengadakan berbagai upaya peningkatan dalam berbagai aspek. Misalnya didirikannya beberapa masjid-masjid baru di berbagai kompleks perumahan baru, selain itu banyak pula didirikan lembaga-lembaga oleh pemerintah seperti lembaga pendidikan bagi anak-anak islam, yang disebut MENDAKI dan beberapa lembaga sosial masyarakat lainnya.

Upaya pemerintah dan para tokoh muslim ini, akhirnya berdampak positif bagi masyarakat muslim Singapura yang pada awalnya mengalami ketertinggalan. Misalnya pada tahun 1990 masyarakat muslim Singapura sudah banyak yang berpendidikan formal, seperti SD, SMP, SMA bahkan adapula yang bersekolah sampai perguruan tinggi sampai mereka mendapatkan gelar Ph.D.

F.  Penutup

Pada mulanya negara Singapura disebut wilayah Tumasik menurut naskah Pararaton dari kerajaan Majapahit, sedangkan dalam naskah Negarakertagama disebut Temasek yang merupakan kota yang masuk dalam jajahan kerajaan Majapahit di Jawa dan termasuk salah satu dari sepuluh daerah yang indah yang berada dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

Sejak akhir abad ke- 14 sampai pada tahun 1511 M, Singapura menjadi wilayah bagian dari kerajaan Malaka, sedangkan pada abad ke- 18 Singapura berada dibawah kekuasaan kesultanan Johor, dengan seorang tumenggung sebagai kepala pemerintahannya. Dan pada abad ke- 19, Singapura sudah menjadi pelabuhan transit yang sangat penting karena jalurnya yang sangat strategis. Oleh karena itu, pada tahun 1818 M gubernur jendral Inggris di India memerintahkan kepada Sir Thomas Stamford Raffles untuk bisa merebut dan menguasai Singapura, kemudian pada tahun 1824 sultan Johor dan Tumenggung Abdul Rahman menyerahkan wilayah Singapura kepada Inggris dengan mendapatkan imbalan ganti rugi.

Wajah Islam di Singapura tidak jauh berbeda dari wajah muslim di negeri jirannya Malaysia. Banyak kesamaan, baik dalam praktek ibadah maupun dalam kultur kehidupan sehari-hari, diperkirakan hal ini dipengaruhi oleh sisa warisan Malaysia. Akan tetapi, sampai sekarang belum dapat diketahui dengan pasti kapan masuknya Islam ke Singapura tapi berdasarkan perkiraan sezaman dengan masa-masa aktifnya para pedagang muslim berada di Malaka sekitar abad ke- 8.

Setelah Singapura memisahkan diri dengan Malaysia, masyarakat muslim di Singapura menjadi minoritas. Dalam bidang politik, masyarakat Melayu menyadari posisinya yang minoritas, sehingga mereka mengambil garis moderat, loyal, dan partisipatif. Namun kecurigaan dan memandang rendah pada etnis Melayu atau masyarakat muslim Melayu kadang-kadang juga muncul. Menyadari ketertinggalannya tersebut, pemerintah dan tokoh-tokoh Islam mengadakan berbagai upaya peningkatan dalam berbagai aspek.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, dan Sharon Siddique. 1989. Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES.
Ibrahim, Zuraidah. 1953. Orang Islam di Singapura Visi Bersama. Singapore: Times Editions.
International, Grolier. 1988. Negara dan Bangsa Asia. Jakarta: PT. Widyadara.
Saifullah. 2010. Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tohir, Ajid. 2009. Studi Kawasan Dunia Islam Perspektif Etno-Linguistik dan Geo-Politik. Jakarta: Rajawali Pers.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar