Sabtu, 28 Mei 2011

Dinamisme : Konsep Kepercayaan “Mana”



1.     Pengertian Mana

“Mana” dikenal Untuk Pertama kali berkat R.H Codrington melalui bukunya, The Melanesians, tahun 1891. Menurut rumusannya, mana adalah suatu kekuatan supernatural, yaitu suatu alam gaib yang suci tempat beradanya kekuatan-kekuatan yang melebihi kekuatan-kekuatan yang telah dikenal manusia dalam alam sekitarnya dan yang dihadapi manusia dengan rasa keagamaan. Kekuatan tersebut sekali kali berbeda dengan kekuatan fisik, karena kekuatan tersebut merupakan kekuatan yang luar biasa, mengatasi kekuatan lahir, bersifat suci, dan mengandung khasiat baik dan buruk menurut keperluan serta menguasai kehidupan penganutnya.

Jadi sesuatu yang mempunyai mana adalah sesuatu yang suernatural, sehingga menimbulkan kebenaran, ketakutan dan rasa hidmat, karena memiliki keistimewaan dan kekuatan tertentu.

Di Indonesia, sesuatu yang dinamakan mana adalah sesuatu yang memuaskan. Tetapi ada pula yang beranggapan bahwa sesuatu itu kotor jika mengandung daya yang membinasakan atau membahayakan. Sesuatu yang mendatangkan kepuasa tadi disebut sebagai “keramat” di sini ditemukan arti baru lagi tentang dinamisme yaitu “keramat” dan “kotor”. Keduanya merupkan dua buah sisi dari hal yang sama.

Dengan demikian di satu pihak mana mempunyai daya penolak karena orang takut kepada kekuatan yang tidak dapat dikuasainya itu, tetapi di lain pihak mana mempunyai daya tarik karena menimbulkan rasa hormat dan hidmat. Dua sisi itu adalah keramat, sebab apa yang disebut keramat ialah sesuartu yang luar biasa, istimewa, yang berganti-ganti menimbulkan rasa takut dan hormat, rasa benci dan cinta sekaligus.

2.     Sikap Manusia Terhadap Mana

Sikap manusia primitif terhadap mana adalah hati-hati, awas. Segala perbuatan manusia yang berkenaan dengan “melepas tenaga” harus disingkiri, atau kalau tidak, arus dilakukan dengan hati-hati. Bersin, buang hajat, menangis, adalah termasuk perbuatan yang berbahaya sehingga harus dilakukan dengan hati-hati karena dalam perbuatan-perbuatan tersebut terdapat daya dalam diri manusia yang terlepas. Dalam hubungannya dengan benda, memecahkan pinggan yang terbuat dari tanah misalnya, adalah berbahaya, sebab pinggan tersebut mengandung daya kekuatan karena dibakar dalam api, dan daya itu akan terlepas jika pinggan tadi pecah.

Sikap hati-hati manusia primitif terhadap segala sesuatu yang dianggap mengandung mana dinyatakan dengan “tabu”, seseorang bisa dikatakan tabu dalam arti orang tersebut harus berhati-hati, berbahaya, seperti pada wanita yang sedang hamil. Laki-laki yang sedang berperang. Bila sesuatu dikatan tabu berarti benda itu berbahaya sehingga harus dihadapi dengan sikap hati-hati.

3.     Tempat dan Manfaat Mana

Sebagai sesuatu kekuatan, mana akan tampak bila sudah jelas tempatnya. Pada dasarnya tidak ada mana yang terlepas dari tempat ia ada. Semua benda abstrak maupun konkrit bisa menjadi tempat bagi mana. Mana juga sealu berhubungan dengan orang atau benda, sehinggatidak pernah berdiri sendiri. Mana tidak pernah disembah, disucikan, dihormati atau ditakuti karena dianggap tabu shingga perlu dihindari. Pada suku tertentu, misalnya di Melanesia, mana selalu dihubungkan dengan hantu, ruh atau manusia. Jadi, mana tidak bisa dibatasi atau ditentukan tempatnya secara pasti, karena mana berada di segala tempat di mana-mana.

Sifat mana adalah kuat, tidak dapat dilihat, tidak memiliki tempat yang tetap, tidak selalu baik atau buruk, dan kadang-kadang dapat dikontrol kadang-kadang pula tidak. Mana bisa bersifat baik dalam arti dapat membawa kebahagiaan atau keselamatan, dan bisa buruk dalam arti mencelakakan. Manusia yang percaya pada mana beranggapan bahwa semua hasil, nasib baik dan keberuntungan seseorang, adalah karena mendapatkanmanfaat dari mana yang dimilikinya. Adapun bencana terjadi karena arah dan tujuan yang jelek dari kekuatan tersebut. Jadi, daya gaib itu tidak akan terlaksana atau dirasakan manfaatnya tanpa campur tangan dari orang yang masih hdup.

Untuk mendapatkan mana seseorang harus melakukan korban, menghidangkan sesaji, melakukan tari-tarian dan semedi. Bila man sudah menempat dalam diri seseorang, maka orang terebut akan mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang menakjubkan. Biasanya orang yang seperti itu berasal dari kalangan kepala suku, pepmimpin perang atau saman (dukun). Seorang tokoh dalam sejarah Jawa, yaitu Ken Arok dianggap memiliki mana yang kuat. Jika orang melihat pahanya, ternyata paha tersebut bersinar. Oleh sebab itu ia selalu benang, beruntung dan keramat.

4.     Teori Tentang Mana

Menurut Marett, manusia primitif sering kagum terhadap hal-hal dan peristiwa-oeristiwa yang gaib yang tidak dapat diterangkan dengan akalnya yang terbatas. Kaarena itu timbul kepercayaan bahwa kekuatan gaib tersebut terdapat dalam segala hal yang sifatnya luar biasa, baik itu pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda-benda alam lainnya. Kepercayaan semacam itu, dan emosi keagamaan yang timbul akbiat kepercayaan tersebut, tingkah laku dan upacara akibat emosi itu, oleh Marett disevut Preanimisme.

Selanjutnya kekuatan mana dan kekuatan supernatural yaang dikonsepsualisasikan oleh Codrington dan Marett tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh Kruyt, yang mengadakan penelitian tentang suku di Selawesi Tengah. Manurut Kruyt manusia primitif percaya bahwa ada suatu zat halus yang memberi kekuatan hidup dan gerak kepada banyak hal di alam semesta ini. Zat halus adalah Zielstof,  yang terutama ada pada bagian tertentu dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya. Zielstof yang ada pada bagian tubuh manusia antara lain terdapat dibagian kepala, kuku, rambut, gigi dan ludah. Orang dapat menambah zielstof tersebut dengan minum darah. Adapun zielstof yang terdapat pada binatang antara lain terdapat pada kunang-kunang, laba-laba, jangkrik, kupu-kupu, ular, tikus, dan harimau. Pada tumbuh-tumbuhan antara lain pada padi, nyiur, pohon aren, dan karet; sementara pada benda antara lain terdapat pada benda-benda pusaka. Dalam menghadapi segala yang mengandung zielstof tadi manusia harus bersikap hati-hati dalam berhubungan atau mempergunakannya, karena disamping dapat berguna juga berbahaya.


Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar