Selasa, 31 Mei 2011

Manfaat Mempelajari Filsafat



          Dalam pelajaran-pelajaran permulaan,sering mahasiswa bertanya : “Untuk apa kita belajar filsafat?”, “Apa manfaat filsafat?”, dan “Apa filsafat berguna bagi saya dalam hidup saya?”. Banyak filosof yang memikirkan soal-soal ini. Sidney Hook, dalam suatu makalah tentang filsafat mengatakan bahwa kita akan dapat mengetahui filsafat itu dengan menyelidiki manfaatnya. Ia menunjukkan bahwa filsafat bukannya aktivitas yang member jawaban-jawaban pasti terhadap pertanyaan, akan tetapi sebagai aktivitas yang mempersoalkan jawaban-jawaban.

          Kegagalan untuk memperoleh suatu jawaban yang pasti kadang-kadang menyebabkan rasa frustasi. Walaupun begitu, kita tetap berpendirin bahwa manfaat yang besar dari filsafat adalah untuk menjajagi bidang pemecahan yang mungkin terhadap problema filsafat. Sekalipun pemecahan tersebut sudah diidentifikasi dan diperiksa, akan lebih mudah untuk menghadapi problema dan akhirnya untuk kita mengadakan pemecahan sendiri. Agar dapat menjadi efektif dalam tugasnya, seorang filosof harus dapat melampaui cara berpikir yang biasa agar dapat menghadapi munculnya problem baru yang tidak dapat diharapkan sebelumnya. Dengan begitu, pertama, kita dapat menjawab untuk sementara akan pertanyaan: “Mengapa kita mempelajari filsafat?”, dengan menunjukkan perlunya mempersoalkan hal yang tradisional, konvensional dan yang sudah melembaga.

          Kedua adalah untuk  menunjukkan bahwa ide itu merupakan satu dari hal-hal yang praktis didunia. Ide-ide falsafi mempunyai relevansi yang langsung dengan kejadian-kejadian hari ini. Umpamanya, konsepsi filsafat tentang watak manusia, tentang jiwa manusia atau personality, tentang kemerdekaan kemauan, semua itu membentuk pengalaman kita sekarang. Kita pernah mendengarkan kata-kata : “Apa yang menjadi kepercayaan seseorang itu tidak penting selama ia melakukan hal-hal yang benar”. Hal ini berarti bahwa sebagian orang mempunyai kecenderungan untuk menilai tindakan-tindakan diatas keyakinan dan kepercayaan. Akan tetapi ide adalah dasar dari tindakan dengan pasti, kecuali jika ia percaya suatu prinsip. Sebagai yang kita ketahui, bahwa komunisme mungkin tidak akan lahir seandainya Karl Marx tidak meletakkan dasar-dasarnya dalam filsafatnya, sekali orang menerima ide-idennya, sudah dapat ditentukan bahwa ide-ide tersebut harus diekspresikan dengan tindakan.

          Dengan sadar atau tidak, kita harus mengakui bahwa filsafat itu adalah suatu bagian dari keyakinan kita dan tindakan kita berdasarkan atas keyakinan  tersebut. JIka kita ingin mengambil suatu keputusan secara bijaksana dan suatu tindakan secara konsisten, maka kita perlu menemukan nilai-nilai dan arti benda-benda, kita perlu memecahkan persoalan kebenaran atau kebohongan, keindahan atau keburukan, kebenaran atau kesalahan. Pencarian ukuran dan tujuan adalah suatu bagian yang penting dari tugas filsafat. Filsafat mementingakan aspek benda-benda secara kualitatif. Filsafat tidak mau menganggap sepi suatu aspek yang otentik dari pengalaman kemanusiaan dan berusaha untuk merumuskan ukuran dan tujuan-tujuan dengan cara yang sangat sesuai dengan akal.

          Manfaat filsafat yang terpenting adalah kemampuannya untuk memperluas bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih kritis, dan lebih cerdas. Dalam beberapa lapangan pengetahuan spesialisasi terdapat sekelompok fakta yang jelas dan khusus, mahasiswa diberi problema sehingga mereka dapat memperoleh kemampuan untuk mendapatkan jawaban yang cepat dan mudah. Akan tetapi dalam filsafat terdapat pandangan yang berbeda-beda dan harus dipikirkan, dan ada pula problema-problema yang belum terpecahkan tetapi penting bagi kehidupan kita. Dengan begitu maka rasa keheranan si mahasiswa, rasa ingin tahu dan kesukaannya dalam bidang pemikiran akan tetap hidup.

          Sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof zaman purba, filsafat adalah mencari kebijaksanaan. Kita mengerti bahwa seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang banyak tetapi tetap dianggap orang bodoh yang berilmu. Dalam zaman kita yang penuh dengan kekalutan dan ketidakpastian, kita memerlukan ilmu pengarahan (sense of direction). Kebijaksanaan akan memberi kita ilmu tersebut, ia adalah soal nilai-nilai. Kebijaksanaan adalah penanganan yang cerdik terhadap urusan-urusan manusia. Kita merasakan tidak enak dari segi pemikiran jika kita dihadapkan pada pandangan dunia yang terpecah-pecah dan terbaur. Tanpa kesatuan pandangan dan response, jiwa kita akan terbagi, filsafat akan sangat berguna bagi kiata karena ia memberikan kita integrasi dalam membantu kita mengetahui arti dari eksistensi manusia.

Tujuan filsafat

          Kita hidup dalam suatu periode yang mirip dengan tahap-tahap terakhir dari kebudayaan Greko-Romawi, Renaissanse, Reformasi dan Revolusi industry, dimana terjadi perubahan besar dalam cara manusia berpikir, dalam nilai dan praktek. Terjadi perubahan-perubahan yang mengenai dasar-dasar kehidupan manusia dan masyarakat. Sekarang manusia memiliki kemampuan yang sangat besar untuk menguasai alam dan ruang angkasa. Manusia telah melakukan loncatan-loncatan raksasa dalam bidang sains, teknologi pertanian, kedokteran, ilmu-ilmu social dan pendidikan. Dalam abad ini, khususnya dalam dasa warsa terakhir, kita menyaksikan kemajuan pengetahuan manusia, lelaki dan perempuan hidup lebih panjang, bepergian lebih cepat, memiliki kenikmatan dan alat-alat yang menghemat tenaga serta menghasilkan bahan yang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat. Perkembangan zaman mesin jelas akan menghilangkan kelelahan jasmani, menambah produksi dan mengurangi jam kerja. Kemampuan untuk menguasai sumber-sumber energy dari atom, matahari, ombak laut serta angin akan menjelmakan dalam kehidupan kita perubahan-perubahan yang diluar khayalan kita.

          Akan tetapi disamping kemajuan-kemajuan yang menakjubkan, banyak pemikir yang resah dan gelisah. Mereka memikirkan situasi dimana kekuatan fisik kita, serta pengetahuan ilmiah dan kekayaan kita berada dalam keadaan kontras dengan kegagalan pemerintah dan individualis untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan dari segi intelektual dan moral. Pengetahuan menjadi terpisah dari nilai, telah tercapai kekuatan yang besar akan tetapi tanpa kebijaksaan.

          Kejadian-kejadian pada beberapa dasa warsa yang akhir ini menunjukkan bahwa ada kesalahan-kesalahan dalam cara mengurus urusan-urusan manusia. Manusia telah memperoleh kekuatan yang besar dalam sains dan teknologi, tetapi sangat sering mempergunakan kekuatan-kekuatan itu untuk maksud-maksud yang destruktif. Manusia telah memperluas jangkauan dan kuantitas pengetahuan tetapi belum dapat mendekati ideal-ideal individualitas dan realisasi diri. Mereka telah menemukan cara-cara untuk memperoleh keamanan dan kenikmatan, pada waktu yang sama mereka merasa tidak aman dan merasa risau oleh karena mereka tidak yakin akan arti kehidupan mereka dan tidak tahu arah mana yang mereka pilih dalam kehidupan itu.

          Abad ke-20 berbeda dengan abad-abad sebelumnya dengan adanya perang ide disamping perang manusia, material, dan kepentingan-kepentingan nasional yang saling bertentangan. Filsafat-filsafat yang tidak dapat dikompromikan berlomba-lomba mencari penganut. Pada permulaan abad ini perbedaan antara kehidupan dalam Negara-negara demokrasi dan Negara fasis tidak merupakan perbedaan dalam teknologi atau sains atau pendidikan umum.Perbedaan itu adalah dalam ide-ide dasar, ideal dan loyalitas. Dengan cara yang mirip, komunisme telah melemparkan tantangan-tantangan terhadap kepercayaan-kepercayaan dan ideal kita serta memperkeras perjuangan bagi pikiran dan hati manusia.

          Tajuk-tajuk rencana, makalah-makalah, buku-buku, film dan komentator televise bersatu dalam mengajak kita untuk meluruskan arah masyarakat kita. Mereka merasa bahwa kita hanyut tanpa kepemimpinan moral dan intelektual. Sudah jelas bahwa zaman kita adalah zaman yang penuh dengan ketidakseimbangan social dan personal. Kita tidak tahu bagaimana cara membentuk masyarakat yang murni yang akan memberi kepuasan dan harapan bagi anggota-anggotanya. Pada waktu yang sama kita menuntut untuk mengurus kepentingan kita sendiri, kemudian kita menyesalkan usaha kita untuk mendapatkan rasa kesepian. Kebudayaan kita telah sering di-diagnosa,mereka yang melakukan diagnosis itu pandai dalam memberitahukan ciri-ciri berbagai penyakit, akan tetapi jarang ada yang mengusukan obatnya. Yang disetujui oleh  kebanyakan ahli kritik bahwa sudah tiba saatnya untuk melakukan perubahan.

          Perubahan dalam adat kebiasaan dan sejarah biasanya dimulai dengan adanya sekelompok orang yang akan menilai sesuatu yang ideal atau yang menarik oleh pandangan cara hidup yang lain. Setelah abad pertengahan banyak orang yang mulai memikirkan cara hidup yang didasarkan atas keyakinan bahwa hidup didunia ini, pada dasarnya perlu dihayati. Dalam arti yang sangat luas, keyakinan semacam itu telah memungkinkan terjadinya Renaissanse, Reformasi dan timbulnya dunia modern dengan pabrik-pabriknya, produksi secara besar-besaran, uang dan bank, transfortasi yang cepat, tenaga atom dan eksplorasi luar angkasa. Dengan semua hal tersebut dimaksudkan untuk menjadikan dunia ini lebih baik dan untuk memberikan kepada manusia kekuasaan yang lebih besar terhadap alam. Akan tetapi jikakita dapat mengetahui watak manusia secara konsisten, watak masyarakat umum dimana manusia hidup, dan beberapa patokan nilai yang didasarkan atas hal-hal yang lebih tinggi daripada keinginan-keinginan manusia, maka cirri-ciri dunia modern tersebut diatas tidak dapat member dasar yang kukuh bagi dunia kita. Filsafat dengan bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya, dapat memainkan peran yang sentral dalam memimpin kita kearah keinginan-keinginan dan aspirasi-aspirasi baru.

          William Barret dalam bukunya yang berjudul the illusion of technique, mengatakan bahwa pada waktu sekarang lebih daripada waktu yang lain dalam sejarah, kita harus menempatkan teknik ilmiah dalam hubungan baru dengan kehidupan. Sebagai telah kita katakan masyarakat kita semakin dipengaruhi oleh ahli-ahli sains dan pengetahuan lain yang mengikuti aliran behaviorism (tidak membicarakan nilai). Baret yakin bahwa filsafat modern harus menjawab tantangan teknik dan teknologi, kalau tidak, kemanusiaan akan kehilangan tujuan, arah dan kemerdekaan.

          Sekarang, tiap orang akan mengutamakan “kemerdekaaan” harus melibatkan dirinya dengan wataknya teknik, bidangnya dan batasan-batasannya. Persoalan teknik itu sendiri merupakan persoalan penting bagi filsafat, apalagi filsafat modern yang sering terpengaruh oleh pandangan teknik dalam menentukan sikapnya. Dan lebih penting daripada itu semua, persoalan ini ada hubungannya dengan ketidakpastian seluruh peradaban yang berdasarkan teknologi, karena peradaban yang berdasarkan teknologi tersebut tidak mengetahui dengan pasti batasan-batasannya dan akibat-akibatnya, walaupun telah memiliki kekuatan teknologi yang besar.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar