Senin, 16 Mei 2011

Sejarah Agama-agama : Agama Protestan


A. Istilah Protestan

Protestan dalam bahasa latin yaitu protestari, yang kemudian melahirkan istilah protes, sering diartikan secara neganif. Sampai pertengahan abad ke-18 (250 tahun setelah Martin Luther memperkenalkan 95 dalilnya dipintu gereja Wittenburg). Istilah itu diartikan dengan “Mengakui” atau “Menyatakan secara terbuka” atau “Suatu pernyataan yang khidmat tentang resolusi, fakta atau pendapat”. Secara negative istilah itu diartikan sebagai “Berkeberatan” atau “ Menyanggah”. Nada yang negative ini muncul selama kurang lebih 2 abad. Protestanisme adalah sebuah gerakan dalam gereja yang didalamnya terkandung 2 arti tersebut diatas yaitu :

1.    Berkeberatan atas beberapa pokok kepercayaan dan praktek gereja Roma katolik
2.    Menyatakan kepercayaan yang dianggap essensial bagi kepercayaan Kristen.
Dalam Protestanisme selalu ada 2 unsur, yaitu “Rejection” negative dan “Restoration”positif. Protestanisme sekarang ini harus dilihat dari 2 unsur tersebut. Baik protetanisme (Kristen) dan Roma (katolik) mempinyai reciprocal significance yang satuy terhadap yang lain.

B.   Sejarah mula-mula Protestanisme 

Protestanisme, dalam pemunculannya sebagai geraka yang spesipik dan dikenal didalam gereja Kristen, merupakan konsekuensi dari gerakan repormasi yang terjadi pada abad ke-16. Selama lebih kurang 3 abad keberadaan protestanisme menyebar kebagian utara benua eropa dan inggris, dan kemudin ke Amerika utara. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, protestanisme tersebar hampir keseluruh dunia.

Gerakan repormasi gereja memang dikenal sejak Martin Luther (1483-1556) dan Yohanes Calvin, tetapi sebenarnya sudah ada tokoh-tokoh pra-repormasi, seperti Wyclif di Inggris dan Johannes Hus di Buhemia. Pengaruh Martin Luther dan Calvin memang sangat menentukan pemikiran-pemikiran para repormator yang hingga masa sekarang ini. Ketika Martin Luther menerbitkan 95 dalilnya, ia tidak menduga kalau dirinya sedang memulai suatu gerakan diluar gereja katolik. Dalilnya itu merupakan protes terhadap praktek-praktek penjualan surat Indolgensia yang dilakukan oleh gereja. Pengembangan dari dalil-dalilnya itu akhirnya merupakan suatu “Challenge” bagi seluruh sistem sacramental-klerikal-hierarkhikal gereja katolik. 

Pada kuliah-kuliahnya di Universitas Wittenberg (ia mengggantikan Johann Staupitz) mengenai Al-kitab, ia menemukan kenyataan bahwa “God is primary actor in salvation and that all human beings has to do is accept God’s promised deliverance”. Pada salib Yesus kristus, Allah mendamaikan manusia “Once for all”. Pada 1520, melalui tulisan-tulisannya ia menjelaskan posisinya yaitu:

1.    Keselamatan oleh iman melalui anugerah.
2.    otoritas kekristenan terletak pada Al-kitab, bukan pada pejabat atau penguasa gereja.
3.    Jumlah sakramen (an outward and visible sign of an inward and spiritual grace) dikurangi, tidak lagi 7 melainkan hanya 2, yaitu Baptisan dan penjamuan kudus.

Khusus mengenai protestanisme di Indonesia, pada tahun 1979 lembaga penelitian dan study dewan gereja-gereja di Indonesia (DGI) menerbitkan buku jerih dan juang, laporan nasional survey menyeluruh gereja di Indonesia. Dalam buku ini diuraikan secara detail mengenai gereja protestan di Indonesia, yang merupakan hasil dari sebuah penelitian yang panjang. Memang kurun waktu penelitinnya hanya sampai tahun 1975, namun informasi yang diberikannya sangat luas, sehingga tetap merupakan informasi yang sangat berharga.

C.   Pokok-pokok Ajaran Protestan
 
Membicarakan pokok-pokok ajaran protestan, terutama ajaran-ajaran awal sebelum berkembang lebih jauh, tentu tidak dapat dilepaskan dari pokok-pokok ajaran gereja katolik. Pertama-tama karena memang protestan berasal dari katolik, dan disamping itu dalam hubungannya masing-masing akan saling memperkuat, dari pada mengingkarinya. Keduanya mempercayai Allah yang sama, pencipta alam semesta dan penebus manusia, yang sudah menyatakan diri dan kehendaknya melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus kristus. Keduanya menekankan tanggung jawab manusia kepada Allah sebagai jawaban atas tuntutannya untuk menciptakan sebuh hubungan yang “Trustful” dengan-Nya, serta hubungan yang bertanggungjawab dan murah hati dengan sesama manusia. “Area agreement” antara protestan dan katolik memang sangat luas. Namun demikian, karena sifat-sifat protestan yang khas sudah barang tentu ada beberapa butir krusial, yaitu :

1.    Pembenaran karena iman (Sola fide) yang menjadi fopmulasi klasik ajaran protestan. Sebenarnya ini bukan “Barang baru” yang diperkenalkan oleh protestan kedalam dunia Kristen, tetapi lebih merupakan penemuan kembali hal yang sangat penting dalam kepercayaan Kristen, yaitu penerimaan pengorbanan kristus sebagai dasar satu-satunya dan yang mencakupi agar manusia dapat diterima oleh Allah yang maha benar.manusia dibenarkan dan diterima oleh Allah bukannya karena kekuatan dari sakramen yang ada didalam gereja, tetapi hanya karena iman atau kepercayaan yang mengakui bahwa yesus kristus adalah anak Allah dan juru selamat bagi manusia. Berdasarkan roma 1:17, “pembenaran karena iman” berarti menerima karya kristus yang mendamaikan dan menebus, dengan keyakinan yang serius.
2.    Hanya karena anugrah (sola gratia), merupakan korelasi dan tuntutan dari butir 1 diatas. Iman pada satu sisi memang merupakan keputusan seseorang untuk menerima kristus, dan pada sisi lain keputusan seseorang itu hanya dapat dilakukan karena Allah didalam anugrahnya telah membuat hal itu terjadi. Anugrah itu merupakan hakekat tindakan Allah yang menyatakan kepenuhan kebenarannya. Hal itu tidak terikat oleh institusi atau upacara tertentu, tetapi dapat terjadi kalau manusia didalam iman atau percaya menerima.
3.    Mengenai hakekat manusia, disebutkan bahwa manusia pada saat yang sama adalah “orang berdosa” tetapi juga “orang yang dibenarkan”. Manusia berusaha untuk memenuhi arti kehidupannya, yaitu melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Tetapi, di sisi lain Allah melaui pendamaian kristus menerima manusia itu sebagai mana adanya. Manusia wajib untuk berbuat baik, hidup dalam kasih dan damai dengan sesamannya, tetapi hal-hal itu dilakukan bukannya untuk mendapat kan anugrah Allah, melainkan sebagai persembahan syukur dan sebagai perwujudan dari kebebasannya yang dianugrahkan oleh karena pengampunan Allah.
4.    Kedudukan al-kitab yang central harus dibedakan antara “medium” wahyu dan wahyu itu sendiri. Medium wahyu, itu adalah firman yang tertulis, dan itu adalah kristus. Al-kitab sebagai “the concrete historical of shrist’s life, death and resurrection is normative for cristian faith”. Sementara itu, “what is offered in the preaching of the world is Christ, what is offered in the living of the world is Christ, what is offered in the lord’s supper is crist”.
5.    Imamat am orang-orang beriman. Semua orang beriman memiliki imamat am. Artinya, seseorang mempunyai panggilan menjadi imam bagi yang lain. Semua orang beriman mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah. Semua orang beriman mempunyai tanggung jawab maksimum sebagai saksi atas kebaikan dan anugrah Allah, demi sesamanya, tanpa melupakan bahwa dalam gereja terdapat jabatan-jabatan keagamaan tertentu.
6.    Gereja, menurut protestan, adalah persekutuan orang beriman sebagai sebuah persekutuan dimana setiap orang adalah imam bagi sesame dan juga saksi bagi sesama. Oleh karena itu tidak diperlukan adanya hierarkhai seperti yang terdapat dalam gereja katolik. Memang kewibawaan gereja tidak dikurangi, hanya saja kewibawaan itu diletakan dibawah kewibawaan kristus.
7.    Sehubungan dengan pelayanan gereja terhadap dunia, adalah protestan yang meyakini bahwa sebagai yang sudah menerima pendamaiaan dan pengampunan Allah melalui kristus, maka gereja wajib melakukan pelayanan pendamaian itu terhadap dunia. Ini berarti bahwa gereja protestan harus mendorong umatnya untuk melakukan pelayanan terhadap dunia, dalam berbagai pekerjaan yang menyangkut “civil life”.
8.    Pada akhirnya, sehubungan dengan keesaan gereja, protestan selalu menunjukan perlunya keesaan gereja secara esensial.

D. Dogma dalam protestan 

Pernyataan dogmatis dalam protestan pada masa yang mula-mula selalu dihubungkan dengan pentingnya kebenaran itu bagi keselamatan manusia. Dalam gereja protestan masa kini, paling sedikit ada dua posisi yang harus dibedakan, meskipun diantara keduannya terdapat hubungan yang bermacam-macam, yaitu: 

1.    Posisi yang menolak pemikiran tentang kebenaran iman yang harus dituruti. Disini dogma hanyalah objek dari kritik ilmiah, khususnya secara histories.
2.    Sikap yang bersedia menerima kebenaran-kebenaran iman yang harus dituruti. Dalam hal ini, pemberlakuan dan formulasinnya tidak bersifat kekal, melainkan secara terus menerus perlu diformulasikan kembali.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, perlu diperhatikan mengenai fungsi teologi dogmatika. Palin sedikit ada dua fungsi yang dapat dilakukan, dua fungsi yazng saling melaengkapi dan mengoreksi, yaitu: 

1.    Fungsi refroduktif tradisional. Ayat-ayat dalam al- kitab dan keputusan serta pengakuan tertentu gereja purba hingga saat ini masih menjadi dasar pemikiran dogmatis gereja modern. Dogmatika berfungsi memadukan tafsiran al-kitab dan penjelasan dogma gereja. Fungsi refroduktif tradisional ini tampak dengan jelas dalm buku-buku dogmatika yang berasal dari masa lalu.
2.    Fungsi froduktif kontekstual. Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaymana hubungan antar dogmatika dengan situasi dan kondisi masa kini. Dogmatika harus menafsirkan al-kitab secara terus-menerus, secara baru. Dogmatika tidak boleh tinggal dalm pertimbangan-pertimbangan histiris saja. Apa yang sudah berlangsung pada masa lalu, memerlukan penerjemahan kebenarannya kedalam situasi masa kini (kontekstual). 

Hal penting dalm kontekstualisasi adalh cara atau metode yang dipakai, sehingga dogmatika betul-betul memenuhi tugasnya. Dalam hubungan ini, langkah-langkah metodis yang perlu diperhatikan adalah : 

1.    Menentukan masalah dalam situasi sekarang. Dogmatika harus meinta gereja untuk memikirkan sittuasi tertentu yang berkembang dalam masyarakat. Apa yang dianggap masalah dogmatis tidak mungkin diputuskan hanya melihat kebutuhan interen gereja.
2.    Mengerjakan masalah secara eksegesis dan histories. Dalam melakukan tugasnya, dogmatika sangat erat hubungannya dengan tradisi dogma yang sudah ada. Dogmatika mencari kembali pertanyaan-pertannyaan dan usulan-usulan dari masa lalu. Dogmatika memetik hasil dari tradisi dogma dan kemudian meneruskan serta mengembangkannya.
3.    Menentukan tanggapan yang kontekstual. Pada tahap ini ditentukan kearah mana konsep dogmatis itu dapat dikembangkan secara umum, dan jawaban apa yang dapat diberikan secar konkrit. Pekerjaan pokok yang harus di lakuakn ialah memeriksa apakah semau bahan (a+b) dapat didasarkan pada al-kitab dan memeriksa apakah semua formulasi yang sudah ada itu masih dapat dimengerti dan diterima untuk masa kini. 

Dengan demikian, pekerjaan dogmatika tergantung pada suatu tolak ukur ganda, kesesuaiannya terhadap al-kitab dan kesesuaiannya terhadap masa kini.





PENUTUP

A.   Kesimpulan.

 Protestan dalam bahasa latin yaitu protestari, yang kemudian melahirkan istilah protes, sering diartikan secara neganif. Sampai pertengahan abad ke-18 (250 tahun setelah Martin Luther memperkenalkan 95 dalilnya dipintu gereja Wittenburg). Istilah itu diartikan dengan “Mengakui” atau “Menyatakan secara terbuka” atau “Suatu pernyataan yang khidmat tentang resolusi, fakta atau pendapat”. Secara negative istilah itu diartikan sebagai “Berkeberatan” atau “ Menyanggah”. Nada yang negative ini muncul selama kurang lebih 2 abad.
 B.   Saran-Saran.

          Sebagai umat Islam, kita harus saling menghargai antar agama, baik agama samawi maupun agama ardi,kita tidak boleh saling melecehkan atau menghina antar agama karena semua telah diatur oleh undang-undang.










DAFTAR PUSTAKA

Djam’annuri, Agama Kita (Perspektip Sejarah Agama-agama), LESFI, Yogyakarta : 2000

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar