Monday, 30 May 2011

Teori Asal-Usul Agama : Teori Jiwa



          Penemu teori ini adalah seorang ahli antropologi asal Inggris, Edward B. Tylor (1832-1917), dengan bukunya Primitive Culture (1873). Menurut Tylor, kesadaran manusia akan paham jiwa timbul karena dua hal :

a.     Perbedaa yang tampak pada manusia akan hal-hal yan hidup dan mati. Suatu saat makhluk itu bergerak yang berarti hidup, dan suatu saat ia tidak bergerak yang berarti mati. Lambat laun manusia tahu bahwa yang bergerak dan hidup itu disebabkan adanya jiwa, yaitu suatu kekuatan yang berada di luar tubuh manusia.
b.     Dalam peristiwa mimpi, manusia melihat dirinya berada di tempat lain dri tempat tidurnya. Karena itu manusia tahu bahwa ada perbedaaan antara tubuhnya, yang ada di tempat tidur, dengan bagian lain dari dirinya yang berada di tempat lain, yaitu jiwanya.

Sifat abstrak jiwa itu menimbulkan keyakinan bahwa jwa dapat hidup lepas dari tubuh. Pada waktu hidup, jiwa maish tersangkut dalam tubuh, dan pada saat mimpi atau pingsan jiwa meninggalkan tubuh. Akibatnya tubuh dalam keadaan lemah. Walaupun jiwa sedang melayang ke luar tubuh, namun hubungan masih tetap ada. Hanya pada waktu mati, jiwa tadi benar-benar terlepas dari tubuh. Jiwa bersifat bebas dan dapat berbuat semaunya. Alam semesta penuh dengan jiwa-jiwa yang merdeka itu, yang disebut dengan soul atau spirit, atau “makhluk halus”. Demikianlah pikiran manusia telah mentransformasikan kesadaran terhadap adanya jiwa menjadi kepercayaan pada makhluk-makhluk halus.

Makhluk-makhluk halus itu tinggal disekeliling manusia. Tetapi karena begitu halusnya maka tidak dapat tertangkap oleh indera manusia. Mereka dapat berbuat sesuatu yang tidakdapat diperbuat manusia sehingga menempati kedudukan terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia melakukan penghormatan dan pemujaan kepadanya melalui berbagai macam upacara berupa doa, sesaji atau korban. Kepercayaan ini oleh Tylor disebut dengan Animisme.

Selanjutnya gerak alam ini, yang berupa peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala alam seperti jalannya matahari, mengalirnya air dari gunung ke laut, gempa bumi dan sebagainya, dipercaya digerakkan oleh jiwa alam yang dipersonifikasikan dengan suatu pribadi yang memiliki kemauan dab pikiran. Makhluk-makhluk halus yang berada di balik gejala alam itu disebut Dewa Alam.

Sejalan dengan timbulnya susunan kenegaraan dalam masyarakat, timbul pula kepercayaan bahwa Dewa-Dewa Alam juga hidup dengan susunan kenegaraan seperti masyarakat manusia. Dewa-dewa tersebut juga bertingkat-tingkat mulai dari tingkat rendah sampai tingkat yang tertinggi. Susunan tersebut akhirnya menimbulkan suatu kepercayaan bahwa dewa itu pada hakikatnya hanya merupakan penjelmaan saja dari dewa yang tertinggi, sehingga kemudian timbul kepercayaan akan adanya suatu Tuhan.


Romdhon, A. Singgih Basuki dkk.Agama-Agama Di Dunia.IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment