Wednesday, 11 May 2011

Sejarah SD Mardi Yuana Serang


A. Sejarah Awal Bangunan
            Pada bulan Juni 1642, daerah Banten kedatangan beberapa Pastur yang pertama kali. Mereka adalah lima orang pater Yesuit. Sambil menunggu kesempatan berlayar menuju Maluku, daerah Indonesia Timur, mereka menetap di Banten kira-kira satu tahun. Sekitar bulan April 1672, Mgr. Pallu, MEP tinggal di Banten hampir setengah tahun. Pada waktu itu, sudah ada beberapa Imam, Bruder, Suster, dan dokter misi yang sedang singgah dalam perjalanan dari Tonkin menuju Madras di India.
            Selain itu, pada jaman pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa ini, sudah banyak orang Katolik tinggal di daerah Banten. Mereka adalah orang Eropa, India, Cina, Maluku, Pilipina bahkan sudah ada pastor-pastor dari Konggregasi MEP daro Perancis. Selama masa ini silih berganti pater-pater datang pergi mengurus umat Katolik. Selain Mgr. Pallu MEP, ada juga Mgr. de la Chiesa OFM yang merupakan Uskup terakhir yang tinggal di Banten.
            Pada Tahun 1672, VOC menaklukan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap, orang-orang asing non Belanda diusir dan agama Katolik dimusuhi. Akhirnya bibit Katolik satu per satu lenyap dan baru muncul lagi ketika kebebasan beragama dicanangkan oleh Gubernur Jendral Daendels.
            Perkembangan Gereja Serang tetap belum menggembirakan, namun bibit-bibit memang mulai tumbuh walaupun kecil. Di antara mereka, kebanyakan tentara Belanda atau Ambtenaar atau orang "Onderneming". Pada masa ini, Serang dilayani langsung dari Batavia, belum ada seorang pater yang menetap. Baru tahun 1931, Pater Heitkonig OFM datang secara tetap dari Rangkasbitung. Beliau membeli rumah dekat alun-alun Barat Serang, dan juga membeli tanah kebun yang rindang yang sekarang kita kenal sebagai komplek Mardi Yuana. Selain Pater Heitkonig OFM, ada tiga pater yang tinggal agak menetap yaitu Pater Lunter SY, Pater Teepe OFM, dan Pater van der Hooge yang mulai merintis Sekolah Misi Katolik, yang pengelolaannya dipercayakan kepada suster-suster FMM.
Para suster FMM hadir di Serang atas permohonan dari pastor OFM (Ordo Fratrum Minorum) yang bertugas di daerah Misi Jawa. Tugas para suster adalah memulai TK dan SD di Serang. Sebelumnya FMM telah membuka biara di Rangkasbitung dan bertugas dalam pelayanan kesehatan (RS Misi Rangkasbitung).
Peter Heitkoning mengusulkan kepada Sr. M. Hildebrand untuk mengutus dua suster berangkat dengan kereta api dari Rangkasbitung menuju Serang. Pada saat yang sama permohonan dari OFM ini di sampaikan ke Roma. Sr. Hildebrand mengutus Sr. Perpetuus dan Sr. Bentivoglius untuk memulai TK di Serang.
Hari pertama kedua suster tiba di tempat sekolah yang ternyata di serambi gereja-pastoran. Dan mereka melihat serambi dalam keadaan kosong tanpa meja dan kursi untuk 23 anak kelas 1 dan 33 anak TK.
            Namun semangat anak-anak bersekolah menjadi pemicu para suster untuk mengajar. Bersama anak-anak, para suster menggunakan waktu untuk menyanyi, berolah raga dan bermain di kebun.
            Keadaan kekurangan sarana sekolah kemudian dilengkapi oleh Pater Schneiders, OFM. Dan dalam beberapa minggu para suster FMM terpaksa menghentikan penerimaan murid baru, karena dengan 70 anak di serambi tidak ada tempat lagi bagi mereka. Keadaan ini berlangsur dari tahun 1939 sampai dengan bulan Agustus 1940.
            Biara FMM Serang didirikan pada tanggal 16 Juli 1940 dan Sr. M. Odulphus, FMM adalah pemimpin komunitas pertama di Serang. Sr. M. Goode Herder, sebagai guru SD dan Sr. Concessus sebagai guru TK.
            Sr. Altura (sebagai penanggung jawab dapur) dan Sr. M. Bentivoglius, FMM a (sebagai guru SD) dari komunitas Rangkasbitung menyambut ke empat suster FMM di Stasiun Serang. Selanjutnya ke-6 suster itulah yang menjadi pendiri komunitas FMM Serang.
            Tantangan terbesar para suster salah satunya adalah bahasa. Mereka setiap hari pada pagi hari mereka mengajar di depan kelas dan pada siang hari mereka didik di kelas sebagai murid untuk belajar bahasa Indoneisa-Malay. Situasi ini hanya bertahan sementara karena kemudian terjadi serangan Jepang dan mengharuskan semua sekolah ditutup. Demikian juga dengan suster-suster yang melanjutkan tugas studi di Batavia, untuk sementara tugas studi ditunda.

B. Lokasi Bangunan
Nama Sekolah  yaitu SD Mardi Yuana Serang, Berdiri sekitar 16 Juli 1940 yang didirikan oleh Pater Heitkoning. Sekolah ini terletak di Jl. K. H. Syam’un No. 1 Serang – Banten (42112).

C. Deskripsi
Ketika memasuki pintu gerbang sekolah, sekitar 15 M dari pintu gerbang terdapat bangunan tua yang bersejarah, yaitu bangunan yang ada sejak zaman Belanda dengan Luas tanah  ± 1.472 M2 dan Luas bangunan ± 720 M2. Di bangunan ini terdapat beberapa ruangan, diantara seperti ruang kerja para suster, ruang tidur, ruang makan, ruang tamu, ruang untuk berdo’a, dan ruang santai.   
Dari luar, memang tampak seperti bangunan pada zaman dahulu, karena terdapat tiang-tiang atau pilar yang tinggi dan menjadi ciri khas bangunan pada masa itu, disamping itu juga terlihat jendela dengan model jendela pada zaman Belanda.
Beranjak ke dalam bangunan, ruang pertama yang terlihat ialah ruang tamu. Kemudian tidak jauh dari ruang tamu tepatnya di sebelah kirinya terdapat sebuah ruangan, ruangan ini digunakan oleh para suster sebagai ruang kerja mereka. Di samping ruangan ini, terdapat ruang peristirahatan suster dan di depannya terdapat ruang khusus untuk berdoa. Selanjutnya menuju ke ruangan paling belakang, di ruangan ini digunakan oleh para suster sebagai tempat santai dan makan.
            Pada bangunan ini, sebagian besar sudah direnovasi, hanya bagian tiang-tiang atau pilar yang masih terlihat seperti utuh walapun ada sedikit renovasi. Beralih ke belakang bangunan, terdapat Gua  Maria, di mana tempat ini terdapat sebuah patung Bunda Maria dan digunakan sebagai tempat berdoa. Kemudian, terdapat juga Aula TK tepat dan depan Gua Bunda Maria tersebut. Aula ini tergolong bangunan yang baru.

E. Fungsi Bangunan
Dahulu bangunan ini berfungsi sebagai gereja dan kemudian di serambi bangunan ini menjadi tempat untuk belajar bagi anak-anak khususnya anak-anak kampong. Tetapi serambi ini dalam keadaan kosong tanpa meja dan kursi untuk 23 anak kelas 1 dan 33 anak TK. Kemudian dalam beberapa minggu para suster FMM terpaksa menghentikan penerimaan murid baru, karena dengan 70 anak di serambi tidak ada tempat lagi bagi mereka. Keadaan ini berlangsur dari tahun 1939 sampai dengan bulan Agustus 1940.
Tetapi fungsi sekarang dari bangunan ini ialah digunakan sebagai tempat tinggal para suster yang mengajar di TK maupun SD Mardi Yuanan. Dengan masing-masing ruangan yang mempunyai fungsi-fungsi sesuai dengan kebutuhan para suster yang tinggal di tempat ini.





http://www.keuskupanbogor.org/paroki/serang.htm


Reactions:

1 comment:

  1. salam mas imam,
    yup, sekarang kondisi SD Mardi Yuana Serang, sudah sangat jauh berbeda dari jaman dulu, saat ini sudah maju dan berkembang, terus berprestasi ya!

    ReplyDelete